Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Muslim penyandang tunanetra mempelajari Al-Quran Braille.
Harus memahami dulu huruf Braille Latin.
Jumlah Al-Quran dan pengajarnya terbatas.
LANTUNAN ayat-ayat suci Al-Quran terdengar di Musala Hajid Busairi dan ruang makan Pesantren Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) di Jalan Parangtritis, Yogyakarta, Selasa, 28 Maret lalu. Seusai salat tarawih, satu dari puluhan santri, Rusyda Sakhi, mendaras kitab.Ā Santri 13 tahun itu meriung bersama dua santri penyandang tunanetra lain membaca Juz 6 Al-Quran Braille di musala tersebut. Mereka meraba titik-titik Braille pada kertas dari kiri ke kanan. Sudah tujuh bulan Rusyda belajar membaca Al-Quran di pesantren itu. Santri asal Kediri, Jawa Timur, itu menuturkan, membaca Al-Quran Braille tak mudah. Dia harus mengurutkan huruf-huruf hijaiah yang merupakan kombinasi titik Braille pada huruf Latin.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Shinta Maharani dari Yogyakarta dan Kukuh S. Wibowo dari Surabaya menyumbang bahan untuk artikel ini. Di edisi cetak artikel ini terbit dengan judul "Saat Santri Tunanetra Mendaras Al-Quran Braille".