Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Anies Baswedan Sebut Nama John Lie Saat Bertemu Komunitas Indonesia Tionghoa, Siapa Dia?

Anies Baswedan menyebut nama John Lie saat acara Desak Anies bersama Komunitas Indonesia Tionghoa, di Glodok, Jakarta. Siapa John Lie?

4 Februari 2024 | 08.10 WIB

Image of Tempo
Perbesar
John Lie.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden nomor urut satu Anies Baswedan saat melaksanakan kegiatan kampanye di pecinan Glodok, Pancoran, Jakarta Barat, mendapat berbagai pertanyaan di acara dialog dengan format "Desak Anies" bersama Komunitas Indonesia Tionghoa (Komit) di lokasi tersebut, Senin, 29 Januari 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Beberapa pertanyaan disampaikan ke Anies salah satunya Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai pahlawan nasional jika terpilih menjadi Presiden di Pemilu 2024. Selain itu, Anies menyampaikan salah satu tokoh Tionghoa yang menjadi pahlawan nasional, John Lie. Siapa dia?

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjadi salah satu promotor ditetapkannya John Lie Tjeng Tjoan menjadi pahlawan nasional. Hal ini disampaikan Anies 

"Kalau kita lihat perjalanan kepahlawanan beberapa tahun yang lalu, seorang Laksamana Muda John Lie Tjeng Tjoan mendapatkan gelar melawan nasional. Saya boleh sampaikan di sini, saya salah satu promotor John untuk mendapatkan gelar pahlawan," ujarnya saat menghadiri HUT XIX Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yang digelar di Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Kamis, 7 Desember 2017.

John Lie, yang kemudian mengubah namanya menjadi Jahja Daniel Dharma, lahir di Kanaka, Manado, Sulawesi Utara, pada 9 Maret 1911. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Manado pada 1928.

Dilansir dari IKPNI.or.id, pada 1929, setelah mengikuti kursus navigasi di Jakarta, ia bergabung dengan perusahaan pelayaran Koninklijke Paketrvaart Maatschappij (KPM).

Selama Perang Dunia II pada 1942, kapal tempat John Lie bekerja, "Tosari," dijadikan kapal logistik oleh Royal Navy Inggris di Koramshar, Teluk Persia. Meskipun tidak dalam status militer, John Lie secara tidak langsung terlibat dalam kegiatan perang. Setelah perang berakhir dan Indonesia merdeka, ia dipulangkan pada Februari 1946.

Bergabung dengan Angkatan Laut RI (ALRI) pada Juni 1946 dengan pangkat kelas Ill, John Lie naik pangkat menjadi mayor kurang dari setahun kemudian. Bertugas di Cilacap, ia membersihkan perairan dari ranjau laut Jepang dan melatih perwira muda ALRI. Pada akhir Agustus 1947, ia secara tak terduga terlibat dalam penembusan blokade kapal perang Belanda di Selat Malaka, membawa berbagai barang untuk perjuangan kemerdekaan.

Setelah kemerdekaan, John Lie tetap berkarier di ALRI dan mengemban berbagai jabatan hingga pensiun dengan pangkat laksamana muda. Selama masa pensiun, ia aktif di bidang sosial, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. John Lie meninggal pada 27 Agustus 1988.

Nama John Lie setelah wafat belum diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Dilansir dari Antara, nama John Lie yang belum jadi Pahlawan sebat jadi polemik pada awal 2009. Menurut akademisi, termasuk sejarawan Anhar Gonggong, dalam sebuah diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta menyatakan bahwa John Lie layak diangkat sebagai pahlawan karena selama hidupnya ia telah menunjukkan keteladanan yang tak terbantahkan.

"John Lie layak diberi gelar pahlawan karena sepanjang hidupnya ia telah menunjukkan keteladanan. Tak mungkin seseorang menjadi pahlawan tanpa memiliki keberanian, kejujuran dan ketabahan seperti yang diperlihatkan John Lie," katanya.

Dalam konteks kekinian dan masa depan Indonesia, Anhar berpendapat bahwa generasi muda memerlukan keteladanan dari pemimpin dan generasi sebelumnya agar mereka dapat melanjutkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pahlawan. Pandangan itu diperkuat oleh Abdul Hadi WM yang juga setuju bahwa John Lie layak diangkat sebagai pahlawan nasional.

Abdul Hadi WM menekankan pentingnya tidak menilai pahlawan dalam konteks budaya yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa penilaian terhadap pahlawan dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang budaya tertentu. Menurutnya, nilai-nilai kepahlawanan harus ditegakkan pada saat masih ada "intervensi dari luar negeri ke dalam masalah di dalam negeri" dengan melhat konteks politik, hukum, ekonomi dan budaya.

Atas berbagai desakan itu, Joh Lie kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada 6 November 2009, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 058/TK/Tahun 2009, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus