Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Bakal Diubah, Begini Asal Usul Nama Jalan Warung Buncit

Pemprov DKI Jakarta tengah menggodok usul penggantian nama Jalan Warung Buncit Raya dan Jalan Mampang Raya menjadi Jalan Jenderal Besar A.H. Nasution.

31 Januari 2018 | 16.30 WIB

Sejumlah pengendara sepeda motor memasuki jalur Transjakarta di koridor VI jalan Buncit-Mampang Prapatan, Jakarta, (2/8). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Perbesar
Sejumlah pengendara sepeda motor memasuki jalur Transjakarta di koridor VI jalan Buncit-Mampang Prapatan, Jakarta, (2/8). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menggodok usul penggantian nama Jalan Warung Buncit Raya dan Jalan Mampang Raya menjadi Jalan Jenderal Besar A. H. Nasution. Usulan penggantian nama jalan yang menghubungkan Jalan Gatot Subroto hingga Jalan T. B. Simatupang itu datang dari Ikatan Keluarga Nasution.

Namun Komunitas Betawi Kita menolak pergantian nama jalan tersebut. Anggota Komunitas Betawi Kita, Yahya Andi Saputra, mengatakan nama Jalan Mampang dan Warung Buncit merupakan manifestasi dari nama-nama kampung Betawi di Jakarta.

"Sejumlah komunitas Betawi telah menandatangani petisi penolakan penggantian nama jalan itu. Kami harap Gubernur DKI Jakarta Anies Basweda bisa menghentikan upaya penggantian nama jalan," katanya lewat pernyataan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 31 Januari 2018.

Nama Jalan Warung Buncit diambil dari kawasan yang tidak jauh dari Mampang Prapatan dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menurut sejarah, dahulu kawasan itu berupa daerah pertanian yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Betawi. Jalan tersebut lantas disebut Warung Buncit karena bermula dari sebuah warung.

Di kawasan itu terdapat warung, bahkan satu-satunya warung yang menjual segala kebutuhan rumah tangga mulai kebutuhan pangan, minyak lampu, alat pertanian, hingga alat perkakas pertukangan.

Letak warung tersebut dulu bernama Pulo Kalibata, sekarang lokasinya kira-kira di perempatan bertemunya Jalan Duren Tiga dengan Jalan Warung Buncit dan Jalan Mampang.

Zaenuddin H. M., dalam bukunya yang berjudul 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe, setebal 377 halaman, terbitan Ufuk Press, pada Oktober 2012, mengungkapkan pemilik warung itu bernama Buncit.

Buncit merupakan seorang pendatang keturunan Cina di kawasan tersebut, yang kemudian menikah dengan wanita Betawi. Karena perkawinan itu, dia memeluk agama Islam, sebagaimana kebanyakan orang Betawi. Dari perkawinannya mereka dikaruniai dua anak dan beberapa cucu.

Usaha Warung Buncit menjadi berkembang pesat dan semakin lama orang menyebutnya warung milik Buncit. Tanpa disadari perkembangan kampung semakin ramai, seramai dan semaju warungnya, sehingga lama-kelamaan orang lebih mengenal nama Warung Buncit daripada nama asli kampung itu sebelumnya. Bahkan Warung Buncit digunakan sebagai nama jalan di kawasan itu. 

BISNIS.COM

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus