Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Kapal Pinisi yang Hampir Punah

Kapal pinisi dari Sulawesi Selatan cukup tersohor. Kapal tradisional bertenaga angin mulai hilang, tergantikan tenaga mesin.

29 September 2024 | 00.00 WIB

Sebuah perahu phinisi buatan panritalopi Syarfuddin yang baru selesai dikerjakan dilarung ke pantai selama berhari-hari dan siap untuk beralayar di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan 23 September 2024. FOTO/Iqbal Lubis
Perbesar
Sebuah perahu phinisi buatan panritalopi Syarfuddin yang baru selesai dikerjakan dilarung ke pantai selama berhari-hari dan siap untuk beralayar di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan 23 September 2024. FOTO/Iqbal Lubis

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Kapal tradisional pinisi dengan tiang dan layar serta bertenaga angin nyaris punah.

  • Pinisi untuk wisata dengan panjang 25 meter dijual seharga Rp 2,5 miliar.

  • Kapal tradisional buatan para ahli kapal di Bulukumba kini bergeser menjadi kapal wisata.

BIBIR Pantai Tanah Beru, Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, riuh oleh bebunyian alat pertukangan. Puluhan tukang tengah menggarap tiga kapal dengan panjang 19 meter, 30 meter, dan 40 meter. Yang terpendek adalah kapal penangkap ikan pesanan nelayan setempat. Dua lainnya kapal wisata pesanan seseorang dari Jakarta. Kapal terpanjang hampir rampung dibuat dan tinggal dipasangi tiang. “Yang kapal ikan ini harganya Rp 300 juta,” ujar Syarifuddin alias Daeng Pudding, 64 tahun. Ia ahli perahu atau panrita lopi di wilayah setempat.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Dian Yuliastuti berkontribusi pada penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Pinisi, Tradisi yang Mulai Punah"

Seno Joko Suyono

Seno Joko Suyono

Menulis artikel kebudayaan dan seni di majalah Tempo. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pada 2011 mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan menjadi kuratornya sampai sekarang. Pengarang novel Tak Ada Santo di Sirkus (2010) dan Kuil di Dasar Laut (2014) serta penulis buku Tubuh yang Rasis (2002) yang menelaah pemikiran Michel Foucault terhadap pembentukan diri kelas menengah Eropa.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus