Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Geng Motor Jepang dan RBR Beraliansi Rampok Toko Fernando

Menurut Ajun Komisaris Besar Didik Sugiarto, gabungan tiga geng motor yakni geng motor Jepang, RBR, dan Matador yang menjarah Toko Fernando.

29 Desember 2017 | 07.25 WIB

Kapolresta Depok AKBP Didik Sugiarto saat memperlihatkan senjata tajam digunakan oleh geng motor Jepang saat melakukan penjarahan di toko pakian Fernando Mapolresta DepokSelasa 26 Desember 2017. TEMPO/Irsyan
Perbesar
Kapolresta Depok AKBP Didik Sugiarto saat memperlihatkan senjata tajam digunakan oleh geng motor Jepang saat melakukan penjarahan di toko pakian Fernando Mapolresta DepokSelasa 26 Desember 2017. TEMPO/Irsyan

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Depok - Geng motor Jepang ternyata tak sendirian melakukan perampokan dan penjarahan terhadap Toko Fernando. Polisi mencokok tiga pemuda anggota geng motor Rawamaya Beji Rasta (RBR) yang terlibat kejahatan pada Ahad pagi, 24 Desember 2017.

Ketiga orang tadi, yakni Mutias Prasetya alias Bogel, Dimas Cahyo alias Karto, dan Renaldi Alfares alias Kribi, ditangkap pada Rabu, 27 Desember 2017, di Jalan Rawamaya II, Beji.

"Mereka ini anggota aliansi dari Geng Jepang yang ikut terlibat pada aksi penjarahan di toko pakaian Fernando," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metro Kota Depok Komisaris Komisaris Putu Kholis Arya di kantornya pada Kamis, 28 Desember 2017.

BacaSelain Geng Motor Jepang, Penjarahan di Depok Dilakukan Matador

Dalam kasus perampokan Toko Fernando di Jalan Sentosa, geng motor Jepang datang dari Jalan Juanda. Mereka berhenti di depan toko dan masuk mengambil barang dagangan. Penjaga toko tak berani melawan karena anggota geng motor ada yang membawa senjata tajam. Kejahatan ini terekam kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di toko. Sehari kemudian, polisi membekuk 26 anggota geng motor Jepang, tiga di antaranya perempuan.

Menurut Kepala Polresta Depok Ajun Komisaris Besar Didik Sugiarto, gabungan tiga geng motor yakni geng motor Jepang, RBR, dan Matador yang menjarah Toko Fernando. Dari hasil pemeriksaan, mereka juga melakukan kejahatan di tempat lain.

“Baik itu kejahatan dengan kekerasan, pencurian kekerasan, maupun pemerasan,” ujar Didik pada Selasa, 26 Desember 2017.

Nama geng Jepang adalah akronim dari Jembatan Mampang (lokasi markas mereka di Kecamatan Pancoran Mas). Sedangkan RBR singkatan dari Rawamaya Beji Rasta dan Matador adalah Manusia Tahan Dobrakan.

Menurut Didik, sekurang-kurangnya polisi sudah mendapatkan lima laporan kejahatan. Diharapkan dalam waktu yang tidak lama polisi dapat menangkap pelaku lain.

Salah satu pentolan geng motor RBR, Mutias Prasetya alias Bogel menuturkan bahwa RBR oleh Alwi dari geng motor Jepang untuk melakukan tawuran di Jalan Juanda pada saat itu. Dari total 20 anggota geng RBR, delapan di antaranya ikut merampok Toko Fernando bersama geng motor Jepang.

"(RBR) Baru pertama kali ikut keliling sama geng Jepang," ujar Bogel.

Dia mengaku tidak menduga akan terjadi penjarahan. Ada beberapa orang turun dari motor sehingga yang lainnya ikut turun. "Saya dapat dua celana jeans."

Alwi membenarkan bahwa dirinya yang menghubungi geng motor RBR untuk ikut penyerangan ke kelompok lain di Juanda. "Bilangnya mau nyerang anak Juanda," ucapnya.

Didik Sugiarto mengatakan ternyata lawannya tidak ada di lokasi sehingga geng motor Jepang dan aliansinya berkeliling dan melakukan penjarahan di Toko Fernando.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
Irsyan Hasyim

Menulis isu olahraga, lingkungan, perkotaan, dan hukum. Kini pengurus di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, organisasi jurnalis Indonesia yang fokus memperjuangkan kebebasan pers.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus