Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Hillary clinton: ibu nehara yang mandiri

Hillary diane rodham, 46, ibu negara as, disebutkan akan ikut anggota dewan komisaris beberapa peusahaan, pengacara hebat bergaji us$ 160 ribu pertahun.

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Hillary clinton: ibu nehara yang mandiri
material-symbols:fullscreenPerbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pertanyaan: Apakah Hillary akan punya kantor? Jawab Bill Cinton: Saya tak merasa meneken rencana kantor itu... (Tapi) Adalah pekerjaan saya, tugas saya memanfaatkan orang-orang yang berbakat demi kepentingan rakyat Amerika. Ia (Hillary) tentunya memenuhi syarat itu, dan saya akan menyia-nyiakan tugas saya jika saya tak memanfaatkannya secara garis besar dalam batas-batas yang pantas. WANITA yang berdiri di samping presiden yang dilantik, Rabu pekan lalu, mengenakan mantel panjang dan topi biru gelap. Ia memang Hilarry Diane Rodham, 46 tahun, wajahnya segar, dan tubuhnya langsing. Nyonya Presiden itulah yang dekat sebelum hari pelantikan itu, bahkan ketika masih kampanye, disebut-sebut akan ikut campur dalam urusan suaminya, Presiden Bill Clinton. Dan Clinton, sebagaimana jawabannya ketika diwawancarai majalah Newsweek, tak menolak kemungkinan itu. Tentu saja, itu tadi, ''dalam batas-batas yang pantas''. Ia memang suatu kelebihan yang dipunyai Clinton. Sebuah karikatur menggambarkan Hillary lebih besar dan lebih jelas sosoknya, berdiri di belakang lelaki tanpa wajah di depannya, Bill Clinton. Bahkan tiga tahun lalu, 1990, ketika Clinton sekali lagi mencalonkan diri untuk memenangkan jabatan sebagai gubernur Arkansas, hampir saja ia mendapat saingan berat: Hillary Clinton, istrinya sendiri. Ketika itu, dalam satu pertemuan dengan teman-temannya, kata Hillary tiba-tiba: ''Apa yang akan terjadi jika saya mencalonkan diri sebagai kandidat gubernur?'' Dorothy Stuck, bekas penerbit sebuah surat kabar, menjawab bahwa ia mendukungnya, tapi waktunya belum tepat. Tak dijelaskan kapan waktu yang tepat itu. Hanya saja, menurut Carolyn Huber, salah seorang teman dekat Hillary, ''Hillary memang ingin menjadi gubernur, sejauh Clinton tak ingin menjadi gubernur lagi.'' Maka, kini pertanyaan para wartawan pada Hillary pun bukan ''apa program sosial Anda?'' Hillary bukan seorang istri yang suka membikin program sosial atau semacamnya, sebagaimana dulu Nancy Reagan punya program memerangi obat bius, atau Barbara Bush yang sibuk memberantas buta huruf. Pada Hillary, pertanyaan wartawan lebih jauh: ''Mungkinkah Hillary duduk dalam kabinet Clinton?'' Dan itu bukan dalam arti harfiahnya, ikut duduk di rapat kabinet seperti Nyonya Rosalyn Carter. Jangan-jangan, begitu spekulasi wartawan, Clinton mengangkat istrinya sebagai jaksa agung, seperti J.F. Kennedy menunjuk abangnya, Robert Kennedy, sebagai jaksa agung. Penulis masalah Amerika berpengaruh, Garry Wills, malah sudah menilai bahwa Hillary lebih cakap daripada Bob Kennedy. Dan itu bukan tanpa alasan. Ketika Hillary dipilih sebagai pengacara paling berpengaruh pada tahun 1988 dan 1991 oleh Jurnal Hukum Nasional, salah satu kriterianya, ''ia pembela hukum yang inovatif.'' Ia memfokuskan pada pengkajian hukum perlindungan anak, dan hak-hak anak dalam kariernya sebagai pengacara. Adalah Hillary yang memelopori pemakaian satelit di ruang sidang untuk menjangkau saksi kunci yang terbaring di rumah sakit di luar kota. Ia memang tampil sebagai wanita yang tak sabaran untuk mengubah keadaan. Bekas redaktur Arkansas Democrat, John Robert Starr namanya, yang tak habis-habisnya menentang Clinton, bahkan bisa terpukau oleh Hillary. ''Kalau Clinton jadi masuk Gedung Putih,'' kata Starr, ''Hillary akan menjadi ibu negara terbaik setelah Eleanor Roosevelt, malah mungkin terbaik dari semuanya.'' Nyonya Roosevelt terkenal sebagai ibu negara yang mandiri dan aktif memperjuangkan hak asasi, perdamaian, dan perlindungan buruh. Hillary Clinton memang bisa menjadi simbol wanita Amerika masa kini yang makin berharap mendapat pendidikan lebih tinggi, kerja lebih baik, karier setinggi mungkin, dan hak menentukan masa depannya sendiri. Model istri presiden yang tradisional sudah dianggap ''kuno''. Dua tahun setelah George menjadi presiden, Wellesley College menolak tawaran Gedung Putih agar Nyonya Bush memberikan pidato dalam upacara wisuda. Alasannya, ia tampak sebagai tamu dari abad lain. Wellesley College itulah almamater Hillary Rodham. Di Wellesley, Massachusetts, tahun 1960-an, Hillary pernah mencatat sejarah. Dialah siswi pertama yang diminta berpidato pada hari wisuda. Dengan topi dan kaca mata tebal, Hillary maju ke mimbar. Ia bicara tanpa teks. Antara lain, katanya, ''Kalau perubahan kehidupan manusia tidak dilakukan di negeri ini, dalam tahun ini, itu tidak akan terlaksana di belahan bumi mana pun,'' kata mahasiswi itu. Dan di Wellesley itulah Hillary, ketika ia memulai kehidupan dewasanya dan berpisah dari keluarga, pertama kali memperlihatkan jiwa pemberontaknya. Di asrama, ia memprotes adanya jam malam, dan larangan pria masuk ke asrama. Hillary juga berkampanye agar kelompok minoritas diberi kesempatan lebih besar untuk bisa masuk college, dan agar siswa menolak beberapa pelajaran wajib. Selain aktif dalam kegiatan protes, ia pun aktif dalam marching band dan organisasi siswa. Sejak di Wellesley Hillary sudah berpendapat bahwa perubahan lebih cepat dicapai lewat politik dan hukum. Maka ia memilih pelajaran utama ilmu politik. Berikutnya ia bertekad akan memperdalam hukum di sekolah hukum. Sejauh itu, guru besar psikologi anak yang mengawasi perkembangan Hillary waktu di Wellesley tidak melihat bahwa kegiatan ekstra kurikulernya menggangu prestasi akademisnya. Profesor Patsy Sampson, guru besar psikologi tersebut, mengenang Hillary sebagai orang yang sangat serius dalam belajar, selain ia pintar. Nilai A-nya hanya satu, karena yang lain A plus. Dan menurut Sampson, nilai-nilai itu tak membuat Hillary besar kepala. Ia cuma suka marah-marah, kata bekas kawan sekamarnya, Jan Piercy. Dan itu karena ''ia gregetan kalau melihat ada yang tidak efektif.'' Hillary masuk Yale Law School pada tahun 1966. Dan tetap saja ia sibuk terlibat dalam bermacam kampanye: mulai dari memprotes Perang Vietnam sampai langkanya pembalut wanita di asrama cewek. Pada tanggal 4 April 1968 pejuang hitam Martin Luther King Jr. ditembak di Memphis, Tennessee. Bersama sejumlah mahasiswa Hillary berbaris dengan lengan berbalut ban hitam tanda berkabung. Pada musim panas itu jua ia bersama seorang teman perempuannya nekat naik kereta api ke Chicago untuk melihat demonstrasi di luar Konvensi Nasional Partai Demokrat -- demontrasi yang berubah menjadi kerusuhan. Dan ia kemudian cuma bengong melihat polisi menggaploki anak belasan tahun yang terlibat demonstrasi itu. ''Kami melihat anak-anak belasan tahun, anak-anak seusia kami, terluka di kepala. Dan polisilah yang memukuli mereka,'' tutur teman perempuan itu kemudian. ''Hillary dan saya cuma saling memandang. Masa kanak-kanak kami di Park Ridge begitu indah, tapi ternyata kami belum mengalami seluruh kehidupan.'' Mungkin karena pengalaman itu, Hillary kemudian memilih bidang hukum yang menyangkut hak asasi anak. Kebetulan seorang tokoh lembaga perlindungan anak Children's Defense Fund, Marian Wright Edelman, berceramah di Yale. Beberapa minggu sebelumnya Hillary mendengar perjuangan Edelman lewat majalah Time. Hillary makin kagum setelah mendengar ceramah Nyonya Edelman, istri asisten bidang legislatif Robert Kennedy. Ia langsung mendekatinya dan mengatakan, ''Saya ingin bekerja di kantor Anda.'' Dari sini, tahun 1970, terbuka jalan karier sebagai pengacara. Mula-mula Hillary mendapat tugas merekam penderitaan buruh-buruh imigran di Washington. Di tengah keluarga pekerja itu ia menangkap bagaimana penderitaan anak-anak imigran ini. Musim panas berikutnya ia mempelajari kasus anak-anak di California dan sekolah-sekolah papan bawah. Ia lanjutkan penelitiannya di Yale Child Study Centre, di New Haven. Ia minta izin fakultasnya untuk mendapat tambahan waktu guna mempelajari hak-hak anak di bawah hukum. Dan tambahan waktu itu tak tanggung-tanggung: empat tahun. Hasilnya, seperti termuat dalam artikelnya di Harvard Educational Review, tahun 1974. Hillary, yang selalu menuntut perubahan itu, mendobrak nilai lama bahwa orang tua adalah nakhoda kehidupan anak. Menurut Hillary, dalam banyak kasus, anak-anak di atas 12 tahun sudah dapat menunjukkan bahwa mereka bisa memutuskan jalan hidup dan masa depannya sendiri. Anak-anak itu lebih bertanggung jawab daripada orang tua yang membesarkannya. Karena itu, ''anak-anak harus mendapat hak hukum yang sama di pengadilan. Artinya anak juga berkompeten untuk menentukan nasibnya, kasus per kasus,'' katanya. Hillary agaknya gregetan dengan ''kesewenang-wenangan'' orang tua yang dilihatnya di berbagai tempat. Ia berkeliling melakukan riset untuk buku yang akan ditulis oleh profesor di fakultasnya, yang nantinya diberi judul Beyond the Best Interests of the Child, dan menjadi buku acuan di berbagai negara, antara lain Jepang, Perancis, Swedia, Denmark. Hillary menemukan kasus-kasus kesewenang-wenangan itu. Misalnya ada anak yang langsung disterilisasi oleh orang tuanya karena si anak dianggap kurang waras. Padahal Hillary mendapat catatan medis bahwa anak itu ''hanya agak sedikit terbelakang''. Dalam kaitan perlindungan anak-anak ini Hillary juga menyinggung soal aborsi. Musuh-musuh Hillary langsung menuding istri Clinton itu memperjuangan hak anak-anak untuk menggugurkan kandungan tanpa persetujuan orang tua. ''Padahal sebaliknya,'' kata Hillary. Yang terbanyak dalam pengalamannya justru orang tualah yang memaksa anaknya melakukan aborsi untuk menghindari malu. ''Mengapa harus aborsi kalau remaja itu memang menginginkan anaknya?'' kata Hillary. Namun, meski Hillary orang yang suka bicara blak-blakan, ada satu pantangannya: membicarakan kehidupan pribadinya. Yang jelas ia baru ketemu Clinton belakangan. Sebelumnya, ketika di college, remaja Hillary sempat punya teman kencan yang semuanya mahasiswa dari universitas keren: Harvard atau MIT (Massachusetts Institute of Technology). Baru pada tahun 1970-an seorang pemuda lulusan Oxford yang getol bicara soal Arkansas masuk ke Yale Law School. Mereka bertemu. Maklum, kampus Yale mirip akuarium kecil yang penuh ikan. Lima ratus mahasiswa belajar, makan, tidur di tempat yang sempit itu. Berbulan-bulan, di dalam akuarium itu Clinton dan Hillary cuma saling menatap, melirik, dan menguping percakapan masing-masing. Suatu kali, di perpustakaan, Hillary ''si inovator '' itu berdiri. Ia berjalan ke meja Clinton, dan bicara -- mengutip sebaris kalimat artis Lauren Bacall: ''Jika kamu memperhatikan saya, dan sebaliknya saya balas menatap kamu, kita setidaknya ingin tahu satu sama lain. Saya Hillary Rodham.'' Itulah perkenalan yang berani, dan unik, dan mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berkarakter seperti Hillary. Tahun berikutnya mereka keluar dari asrama dan menyewa rumah sempit di New Haven. Baru setahun kemudian Clinton dibawa Hillary ke rumah keluarganya di Park Ridge. Ibu Hillary, Dorothy, langsung tertarik pada anak muda itu. ''Ia kelihatan jujur.'' Ketika Dorothy bertanya, ''Apa rencanamu setelah lulus dari Yale?'' tanpa berkedip pacar Hillary itu menjawab, ''Saya akan kembali ke Arkansas, untuk membantu wilayah itu.'' Clinton juga pandai mengambil hati adik Hillary, Tony. Sekali waktu, begitu turun dari mobil, ia langsung ikut Tony memotong rumput. Hillary tampaknya wanita yang lebih repot dengan soal isi daripada bungkus. Tak seorang pun dari temannya yang ingat aktivis itu pernah dandan. Mukanya selalu polos pada zaman ketika rias wajah seronok digemari para remaja. ''Rias'' di wajah Hillary hanyalah kaca matanya yang tebal yang menghiasi wajahnya yang oval. Rambutnya yang pirang dibiarkan tumbuh sembarangan. Dan logis saja bila ia lupa menyiapkan gaun pengantin ketika mau menikah. Baru setelah ibunya mengingatkan, ia bersama Clinton pergi ke Toko Dillard, mencomot sebuah gaun pendek berenda. Itulah kostum Hillary untuk upacara kecil di rumah sewaan dekat kampus di Arkansas. Lalu resepsinya agak lebih besar, di sebuah garasi ukuran tiga mobil yang disulap sebagai ruang pesta. Yang membuat suasana mirip pesta kawin, selain tuan rumah mengenakan pakaian pengantin, ada kue pengantin bertingkat, dan ada iringan piano yang mengumandangkan lagu-lagu yang lazimnya diperdengarkan dalam pesta perkawinan. Kepiawaian putri sulung keluarga Rodham itu tampaknya termasuk langka. Ketika Komite Pengadilan Parlemen membantu komisi penuntut untuk kasus skandal Watergate Richard Nixon, tahun 1974, Hillary dipanggil untuk bergabung dalam tim yang beranggota sekitar 40 ahli hukum itu. Dan ia salah satu dari hanya dua cewek di situ. Karena tugas itu Hillary tinggal di Washington. Ia terpaksa berpisah dengan Clinton -- waktu itu mereka masih pacaran. Yang mengherankan induk semang Hillary, wanita muda itu sanggup bekerja 18 jam sehari dalam timnya di sebuah hotel kuno. Kalau pulang pukul 9 malam, Hillary bilang ''pulang kepagian''. Dan yang ia lakukan kemudian cuma menyantap yogurt sambil menelepon Clinton. Di Washington, sekali lagi, Hillary membuktikan bahwa ia memang bukan seorang yang konvensional. Kolega-koleganya waktu itu menduga, karena nama Hillary yang terus menanjak, ia akan masuk dalam salah satu kantor pengacara ternama. Dan sebenarnya saja Kantor Pengacara Williams & Connoly, termasuk papan atas, sudah menawarinya. Ternyata Hillary pergi ke Fayetteville, daerah yang oleh kawan-kawannya disebut pelosok. Tapi di situ Hillary bisa dekat dengan Clinton, yang waktu itu mencalonkan diri sebagai anggota Kongres. ''Kesempatan ada di mana saja,'' kata Hillary tentang pilihannya itu. Dan lebih dari itu, katanya berulang-ulang, ''Saya mencintainya. Dan harus mengasihinya.'' Hillary pindah diantar mobil Buick sahabatnya, Sara Ehrman. Roda empat itu terengah-engah keberatan kardus berisi buku Hillary. Sepanjang jalan, tepatnya setiap 20 menit, Sara masih mencoba membujuknya. ''Kamu gila. Buat apa mengubur diri di kampung itu. Kamu nggak mikir, tempat itu pelosok. Dan kamu mau kawin sama pengacara dari desa itu?'' Dalam hal satu ini, rupanya Hillary tidak inovatif. Ia balik menjawab dengan alasan yang itu-itu juga: cinta. Hillary menurut rekannya memang hampir tidak pernah mengeluh soal pribadi. ''Dia matang, seimbang, dan agak keras hati,'' kata teman-temannya. Di kota kecil itu, nama Hillary melesat bak meteor. ''Wanita Pengacara'', begitu julukan barunya di kota yang hanya segelintir wanitanya menekuni profesi di bidang hukum. Ia lekas dikenal karena empat gebrakannya: mengajar studi hukum untuk memahami segala sistem, mendirikan program bantuan hukum, dan bergaul sebanyak-banyaknya. Pasangan Clinton-Hillary ini memang punya teman yang jumlahnya makin menumpuk bagai bola salju. Ibu Hillary, Dorothy Rodham, sampai berkata, ''Hillary dan Bill harus masuk Guinness Book of World Record sebagai orang yang banyak teman.'' Kelak, ketika pasangan Clinton berkampanye untuk kursi presiden, tampak kerumunan sahabat-sahabatnya. Produser TV, Linda Thomason, yang membuat film dokumenter tentang calon dari Partai Demokrat itu, menjulukinya sebagai ''bungker hidup''. Ke mana mereka bergerak, kerumunan kawan-kawan selalu ada. Tampak Clinton bergerak bagaikan ''sedang perang,'' kata Thomason. Ternyata, Hillary menyukai Arkansas. Ia tinggal di sana sampai Clinton memenangkan kursi Kongres dan jabatan jaksa agung Arkansas. Ia tidak pindah ke Washington. ''Yang diinginkan Hillary adalah memperbaiki yang rusak, bukan cari uang,'' kata Ann Henry, istri pemimpin Partai Demokrat Negara Bagian Arkansas. Inilah salah satu sifat Hillary yang dipuji oleh Clinton. ''Ia banyak berkorban untuk saya demi kehidupan publikku,'' kata Clinton. ''Tapi baik saya maupun dia tak pernah peduli tentang memperkaya diri,'' tutur Clinton dua tahun lalu. Ketika Clinton duduk sebagai Gubernur Arkansas pertama kalinya, 1979, Hillary mendapat peluang besar ''untuk memperbaiki yang tidak efektif'' itu. Clinton menunjuknya sebagai ketua komite untuk meningkatkan standar pendidikan di Arkansas, suatu hal yang dianggap genting oleh Clinton. Yang ia tangkap selama mengajar, murid-muridnya mengidap kompleks rendah diri. ''Kami kan hanya orang desa, orang Arkansas.'' Negara bagaian ini memang paling miskin dan juga paling terbelakang dalam bidang pendidikan. Untuk itu Hillary bersafari dari desa ke desa, untuk meyakinkan bahwa orang tua berhak mendapatkan guru terbaik. ''Anda kan yang membayar mereka,'' begitu kata Hillary. Meskipun ditentang oleh persatuan guru di Arkansas, istri gubernur itu meluncurkan program ujian untuk guru. Setelah itu, ia menerapkan semua pengetahuannya yang didapat ketika bertugas di Dana Perlindungan Anak di Washington. Misalnya membangun tempat penitipan anak, mendirikan sekolah untuk balita, dan mendirikan puskesmas, sistem yang diimpornya dari Perancis. Ini, katanya, hak-hak yang harus diperoleh anak dan wanita. Untuk anak-anak yang tidak mampu masuk penitipan balita? Jangan khawatir, Nyonya Gubernur membawa paket sontekan program HIPPY (Home Instruction Program for Preschool Youngster, Program Rumah untuk Anak Prasekolah) dari Israel yang dirancang untuk imigran dari Afrika Utara. Isi program: teknik pengajaran keterampilan dasar untuk anak-anak. Akan halnya Hillary sendiri, ia baru beroleh anak pertama ketika Clinton menjadi gubernur. Namun, yang dianggap ''menggangu'' rakyat Arkansas bukan itu. Untuk lingkup negara di Selatan itu, model perkawinan mereka ''aneh''. Bagaimana suami-istri itu dalam beberapa hal bisa berjalan sendiri-sendiri. Suami-istri menyimpan uang di bank yang berlainan, pergi ke gereja yang berbeda, dan Hillary tetap memakai nama bapaknya: Hillary Diane Rodham. Dan, kadang-kadang, mereka berlibur ke tempat pilihan masing-masing. Kecuali di musim panas tahun 1979, mereka berlibur bersama ke London. Sehabis berlibur bersama di Chelsea itulah Hillary mengandung. Tampaknya mereka punya kenangan manis masa liburan itu. Anak yang lahir kemudian diberi nama Chelsea. Ketika itu Clinton begitu gembira, ia berlari ke sana-kemari menggendong bayi di tangannya, seperti yang dicatat oleh Arkansas Gazette. Clinton pula yang digambarkan lebih dekat dengan anaknya. Sang bapaklah yang tertidur di ranjang anaknya setelah membacakan dongeng, atau berteriak di pinggir lapangan kalau anaknya main softball. Meski dari luar kelihatan Clinton dan istrinya menikmati hidup secara sendiri-sendiri, dalam keadaan susah, Hillary menopang kuat-kuat suaminya. Umpamanya ketika Clinton tak terpilih kedua kalinya sebagai gubernur, tahun 1980, Hillary yang bangkit lebih dulu. Ketika diadakan pesta perpisahan dengan staf dan pendukungnya di halaman rumah gubernur, semua meneteskan air mata, kecuali Hillary. Hillary juga yang menyampaikan pidato ucapan terima kasih. Dan Hillary, seperti dulu, siap memperbaiki apa yang dianggap perlu demi tujuannya. Dan itu termasuk soal penampilan Hillary sendiri. Orang menggunjingkan jangan-jangan citra Hillary sebagai ''Yankee liberal'' mengganjal kampanye Clinton. Mulailah ia memperhatian soal-soal yang lazim. ''Saya tak pernah menilai orang dari bajunya,'' kata Hillary. Tapi orang lain mungkin menghargai orang karena baju dan dandanannya apa boleh buat. Pertama-tama Hillary yang keras itu menelepon kolomnis lokal yang paling banyak mengkritik Clinton. Ia membuka diri, berdialog -- hal yang tak pernah ia lakukan dengan mereka yang dianggapnya punya pandangan yang ''keliru''. Ia pun mulai ikut ke gereja suaminya, dan bukan saja ia tak marah bila dipanggil ''Mrs. Clinton'', ia sendiri menuliskan namanya sejak itu: Mrs. Hillary Clinton. Tahun berikutnya, pasangan itu bersafari menyisir Arkansas, termasuk ke supermarket, mendekat ke masayarakat pemilihnya. Pakaian-pakaian Hillary peninggalan ''zaman Watergate'' digudangkan. Rambutnya ditata apik, kaca matanya ditanggalkan. Ia juga berkenalan dengan perhiasan mutiara. Kelak, dalam pemilihan presiden, ''pengorbanan'' Hillary dalam soal ''gincu'' ini masih belum cukup. Ada yang masih dianggap norak sebagai calon ibu negara, yaitu bando berwarna menor dan ketinggalan zaman yang biasanya dipasang di kepalanya. Dengan kesal, kata Hillary: ''Masa, orang tidak suka saya hanya karena bando.'' Akhirnya Clinton berhasil kembali ke apartemen gubernuran, tahun 1982. Hillary berhasil memperbaiki yang rusak. Dan sejak itu, sampai Rabu pekan lalu, Bill Clinton selalu terpilih menjadi gubernur Arkansas. Setelah keadaan aman, Hillary kembali mengurus kariernya sendiri. Ia diangkat sebagai anggota dewan komisaris di beberapa perusahaan besar dan bergaji sampai US$ 60 ribu. Ia punya meja di Kantor Pengacara Rose, mengurus hak cipta, pelanggaran paten, dan hukum perdagangan. Ia dibayar US$ 160 ribu per tahun, sedangkan gaji Clinton sebagai gubernur cuma sekitar seperenam total penghasilan Hillary, US$ 35 ribu. Namun, Hillary akan selalu kembali sebagai partner suaminya bila diperlukan, khususnya untuk membersihkan batu besar yang menjadi penghalang kariernya. Itu terjadi di masa kampanye pemilihan presiden, tahun lalu. Saingan-saingan Clinton mengungkit hubungan Clinton dengan artis Gennifer Flower. Urusan ''gula-gula'' ini memang bisa membuat seorang kandidat kehilangan kredibiltasnya, sebagaimana sering terjadi di Amerika. Dan tampaknya yang bisa menyelamatkan calin-calon yang dituduh punya affair ini cuma istrinya. Ketika kandidat Gary Hart dituduh pernah berpiknik bersama model foto, misalnya, istri Hart langsung kabur ke lain kota. Akhirnya Hart pun mengundurkan diri. Sebaliknya, Hillary justru menyorongkan mukanya di sebuah acara televisi, di saat hangat-hangatnya tuduhan pada Clinton. Hillary dengan sengaja membuka kasus ini, tapi dengan lihainya sekaligus menangkisnya, hingga orang lalu ragu, benar-tidaknya hubungan Clinton dan Gennifer Flower. Hillary tidak menangis, bahkan membela Clinton. Dalam layar televisi terlihat Hillary merangkul mesra suaminya sebentar, lalu katanya: ''Saya duduk di sini karena saya mencintainya. Saya menghargai kehidupan yang pernah dilaluinya, dan apa yang telah kami lalui bersama. Dan, kalau itu belum cukup, persetan, jangan pilih dia.'' Anehnya, tak seorang teman Hillary pernah mendengar penyelewengan ini dari mulut Hillary sendiri. Sebaliknya, mereka punya banyak cerita bagaimana Clinton begitu memuja istrinya. Pernah, misalnya, suatu kali pasangan itu bersama kawannya main tebak-tebakan. Tim Clinton beradu dengan tim Hillary. Lucunya, setiap kali ada pertanyaan sulit untuk istrinya, Clinton berdiri memberi semangat istrinya. Kalau jawaban Hillary benar, Clinton berjingkak, ''Horee! hore! hore!''. Padahal setiap tim Hillary menjawab benar, tim Clinton kehilangan angka. Jadi, akankah muncul konflik kepentingan seperti itu di Gedung Putih? Menengok sejarah, Rossevelt sering bisa dibujuk istrinya melakukan hal yang sebenarnya ia tak menyukainya, umpamanya memberi perhatian pada proyek hak asasi urusan istrinya. Tapi akhirnya lebih banyak orang yang percaya bahwa Roosevelt menjadi presiden dengan lebih baik karena mempunyai istri yang mandiri. Dalam hal Presiden Clinton dan Mrs. Hillary Clinton, orang baru bisa menebak. ''Yang lebih baik'' itu masih harus dibuktikan. BSU

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus