Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Kado Terakhir dari Seattle

25 Desember 2006 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Daniel S. Lev 23 Oktober 1933–29 Juli 2006

Sebuah perpustakaan baru ber­operasi di Puri Imperium, Ku­ningan, Jakarta Selatan, sejak Jumat 24 November 2006. Namanya Daniel S. Lev Law Library. Ada dua sebab nama Indonesianis da­ri Universitas Washington, Seattle, itu diabadikan. Pertama, karena Lev mendonasikan hampir semua koleksi pribadi dan risetnya tentang Indonesia sejak 1950 ke perpustakaan itu. Kedua, ”Karena Daniel S. Lev adalah inspirasi bagi banyak orang di Indonesia yang peduli pentingnya negara hukum yang adil dan demokratis,” ujar pengacara Arief T. Suro­widjojo dalam pembukaan perpustakaan itu.

Lev wafat pada usia 72 tahun akibat kan­ker paru-paru akut. Sahabat dekatnya, Benedict Anderson, menemaninya saat menjemput maut. Pada detik-detik menjelang perpisahan abadi itu, Lev gelisah. ”Beberapa bulan terakhir dia resah karena biografi Yap Thiam Hien belum ju­ga diselesaikannya,” bisik Arlene, istri Lev, kepada Anderson. ”Bisakah kau mengambil alih tugas itu?” kata Arlene kepada Ben lagi.

Terbata-bata, Ben Anderson berujar kepada sahabatnya itu, ”Dan, aku di sisimu se­karang. Aku akan bereskan naskahmu sampai terbit, dan menerjemahkannya ke bahasa Indone­sia.” Ajaib, Lev langsung terlihat ­tenang. ”Dua ­m­e­nit kemudian ia berpulang,” kata Ben ­ke­pada ­­­­­Tempo.

Dari Modjokuto ke Pennsylvania

Clifford Geertz 1926–2006

DI BALIketika itu ia sedang meneliti tradisi sabung ayamClifford Geertz pernah ditangkap polisi. Ketika aparat menggerebek permainan itu, ia ikut lari bersama para penjudi. Padahal ia hanya menonton. Tapi trik ikut lari itu bukan tak disengaja Geertz. Sebelumnya selama berminggu-minggu ia ”tak diterima” oleh komunitas sabung ayam. Setelah sama-sama masuk sel, baru ia tak lagi dianggap sebagai orang luar.

Geertz adalah milestone antropologi Indonesia. Guru besar Universitas Princeton, Amerika Serikat, ini adalah peletak dasar studi antropologi di Tanah Air. Bukunya, The Religion of Java (1960), mendatangkan kagum sekaligus cemooh: kategori abangan, santri, dan priyayi dirujuk sekaligus dikritik karena menyederhanakan masyarakat Jawa.

Pada 1952, dia datang ke Indonesia. Selama dua tahun ia menyambangi pasar, masjid, dan pusat keramaian di sebuah kota yang ia samarkan dengan nama ”Modjokuto”.

Geertz tak ingin terpukau pada suku ter­asingsesuatu seolah mentradisi dalam studi antropologi. Ia memilih berkeliaran di perkotaan. Bagi Geertz, kebudayaan bukanlah sesuatu yang serba utuh dan padu, melainkan penuh ­variasi. Dia juga dikenal berani masuk ke ber­bagai sektor ilmu lewat pendekatan teori involusi.

Pada 2002, pemerintah Indonesia menganu­gerahkan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama kepadanya. Salah satu alasannya, Geertz adalah generasi pertama peneliti Amerika yang melakukan studi tentang Indonesia.

Pada 21 Oktober 2006 di sebuah pagi yang tenang, Geertz menghembuskan napas ter­akhir setelah menjalani operasi jantung di rumah sakit Universitas Pennsylvania. Ketika itu usianya 80 tahun.

Rajawali Terbang Sendiri

Riswandha Imawan 17 Januari 1955 - 4 Agustus 2006

Seorang wartawan pernah me­ngeluh pada Riswandha Imawan, betapa sulitnya menghubu­ngi te­lepon seluler pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu. Riswanda minta maaf. ”Sorry Mas, beberapa hari ini aku diteror. Aku ganti nomor.”

Teror adalah buah dari sikap kritis ayah tiga anak kelahiran Bangkalan, Madura, 17 Janua­ri 1955, ini. Pria yang gemar menyepi ke lereng Merapi ini sejatinya bukan pengamat politik yang garang. Ia santun dan hangat kepada setiap orang. Celotehnya tentang politik le­bih ter­dengar seperti obrolan seorang teman ketimbang seorang akademisi. Tapi yang namanya dikritik, ada saja orang yang meradang.

Riswandha meraih gelar doktor pada 1989 dari Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat. Pada 4 September 2004, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Politik UGM. Ter­akhir ia menjabat sebagai Ketua Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Pada 1998, ketika terjadi euforia reformasi, ia memilih jalan sunyi sebagai akademisi. Ia tak masuk partai politik seperti akademisi lain. Ia memelihara kegelisahan sebagai cendekiawan. ”Eagle flies alone,” tulisnya di akhir beberapa artikelnya. Jumat 4 Agustus 2006, akibat serang­an jantung, si penulis terbang ke alam baka pada usia 51 tahun. Sendiri.

Yang Pergi di Sepanjang Tahun

Soedarjo, 83 Tahun Rabu, 18 Januari 2006

Ketika harian Sinar Harapan dibreidel pemerintah Orde Baru, Soedarjo terus berusaha menerbitkan koran baru. Lalu terbitlah Suara Pembaruan. Dia menjadi pemimpin umum hingga akhir hayatnya.

Jenderal (Purn.) Rudini, 77 TahuN Sabtu, 21 Januari 2006

Jabatan terakhirnya dalam kemiliteran adalah Kepala Staf Angkatan Darat. Kemudian ia masuk ke birokrasi menjadi Menteri Dalam Negeri. Ayah tiga anak dan suami Oddyana ini meninggal karena penyakit jantung dan gagal ginjal. Pada 1999, ia menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum.

Herry Komar, 60 Tahun Senin, 13 Februari 2006

Ketika majalah Tempo dibreidel pada 1994, wartawan senior ini menjabat redaktur eksekutif. Herry kemudian memimpin majalah Gatra dan berhenti pada 1999. Dari situ, dia membidani lahirnya Gamma dan berkarya di sana hingga majalah itu berhenti terbit.

Profesor Ayatrohaedi Sabtu, 18 Februari 2006

Mang Ayatdemikian ia disapameninggal karena penyakit lever. Terakhir ia menjabat sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Selain aktif di bidang arkeologi, adik kandung Ajip Rosidi ini juga menggeluti budaya dan kesenian. Dicky Suprapto, 64 Tahun

Senin, 3 April 2006 Dia menderita sesak dan nyeri hebat di dada sebelum akhirnya meninggal saat berobat di Sukabumi. Sepanjang hidupnya Dicky dikenal sebagai aktor dan produser film.

Astrid S. Susanto, 70 Tahun Kamis, 13 April 2006

Doktor Sosiologi Komunikasi lulusan Freie Universitat, Jerman, ini pernah menjabat Dekan Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran Bandung. Astrid juga sempat menjadi anggota MPR (1987–1992) dan anggota DPR (2002–2004). Dia meninggal karena serangan jantung.

Nunung Wardiman, 46 Tahun Rabu, 26 April 2006

Album Nada dan Improvisasi yang dia rilis pada 1981 melambungkan namanya sebagai pendendang jazz papan atas di negeri ini. Dia tampil di Sea Jazz Festival bersama kelompok Baskara pada 1985. Sembilan hari sebelum meninggal, wanita lajang ini meluncurkan buku catatan harian CakaranKu, kisah satu setengah tahun perjuangannya melawan kanker payudara.

Johanna Masdani, 95 Tahun Sabtu, 13 Mei 2006

Ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928, dia menjadi salah satu pelakunya. Begitu pula dalam peristiwa Proklamasi 1945. Semasa hidupnya Jo berkarya di Bagian Psikiatri FKUI RSCM. Dia juga mengajar di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Prof Dr Hasan Muarif Ambary, 67 Tahun Kamis, 18 Mei 2006

Tokoh ini dikenal dedikasinya dalam penelitian kepurbakalaan Islam, suatu bidang yang sepi peminat. Menuntaskan kesarjanaannya di Universitas Indonesia, Muarif Ambary kemudian menyelesaikan program master dan doktor di École des Hautes Étude en Science Sociales. Pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Dia juga menulis buku Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia (1998). Mengepalai Museum Bait Quran di Taman Mini Indonesia Indah. Hasan meninggal karena penyakit asam urat dan diabetes.

Teuku Ibrahim Alfian, 76 Tahun Rabu, 31 Mei 2006

Sejumlah buku sudah ditulis guru besar emeritus Universitas Gadjah Mada ini. Lewat berbagai tulisannya Ibrahim menyorongkan pendapat bahwa Aceh bagian tak terpisahkan dari Indonesia.

Edi Suhardi Ekadjati, 61 Tahun Kamis, 1 Juni 2006

Ahli sejarah Unpad, Bandung, sempat dirawat sebulan karena stroke sebelum menghembuskan napas terakhir. Sejumlah jabatan struktural di kampus Unpad pernah diembannya. Peraih penghargaan Satyalencana Karya Satya 20 Tahun itu juga menulis sejumlah buku.

Junus Melalatoa, 74 Tahun Selasa, 13 Juni 2006

Antropolog senior dari Universitas Indonesia ini meninggal setelah hampir sebulan dirawat karena mengidap kanker kandung kemih.

Yuwaldi, 54 Tahun Rabu, 21 Juni 2006

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ini meninggal dunia diduga karena stroke. Sebelum berkiprah di Komnas HAM, dia pernah menjadi konsultan hukum sebuah perusahaan dan menjadi pengacara (1998–2001).

Sudarso, 92 Tahun Jumat, 23 Juni 2006

Pelukis realis angkatan Affandi ini sejatinya tak punya penyakit serius. ”Bapak memang sudah sepuh,” kata Sudargono, anaknya. Salah satu karya Sudarso yang terkenal, Dik Kedah, menjadi koleksi Presiden Soekarno. Bersama Affandi, Barli, Hendra Gunawan, dan Wahdi, Sudarso membentuk Kelompok Lima Bandung.

Yokoyama Sinapoy, 64 Tahun Rabu, 28 Juni 2006

Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara ini meninggal dunia akibat sakit jantung. Di DPD, Yokoyama terlibat aktif sebagai anggota Panitia Ad Hoc IV yang mengurusi keuangan dan anggaran.

Abi Kusno Nachran, 65 Tahun Senin, 24 Juli 2006

Sebuah kecelakaan lalu lintas menewaskan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Kalimantan Tengah ini. Dalam posisinya sebagai anggota DPD, Abi Kusno dikenal galak dalam isu pembalakan liar di Kalimantan Tengah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus