Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Menhir Maek: Situs Megalitikum Peradaban Moyang Masyarakat Minang

Menyusuri jejak peradaban Megalitikum, Menhir Maek, yang berserak di Lima Puluh Kota. Peradaban moyang masyarakat Minang.

25 Agustus 2024 | 00.00 WIB

Gugusan ratusan menhir di Situs Bawah Parit, Jorong Koto Tinggi, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, Juli 2024. Tempo/Fachri Hamzah
Perbesar
Gugusan ratusan menhir di Situs Bawah Parit, Jorong Koto Tinggi, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, Juli 2024. Tempo/Fachri Hamzah

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dijuluki negeri seribu menhir. Ribuan batu Megalitikum itu tersebar di delapan kecamatan di daerah tersebut.

  • Situs menhir berserak di pedalaman Pegunungan Bukit Barisan, di daerah yang subur. Budaya menhir bertahan dan berkembang dari waktu ke waktu, menjadi tradisi masyarakat setempat.

  • Ditemukan beberapa rangka manusia yang memiliki ras Mongoloid. Dari sisi tipologi kebudayaan, posisi awal Kebudayaan Maek berada di level Megalitikum, kira-kira 2500-1500 sebelum Masehi. Tradisi kebudayaan ini berlanjut hingga abad ke-7.

RATUSAN batu tegak yang jaraknya tak beraturan dipagari kawat terserak di tanah lapang yang sedikit lebih luas dari lapangan sepak bola. Sepi, tak ada satu pun manusia di sana saat Tempo berkunjung pada Ahad pagi, 21 Juli 2024. Bentuk batu-batu itu tak sama. Ada yang pipih menyerupai moncong burung, ada yang lonjong, ada pula beberapa yang berbentuk batu agak melengkung dan bermotif. Sekeliling kawasan itu dipagari rimbun hijau pepohonan dan perbukitan di kejauhan.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Dian Yuliastuti berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Menyingkap Menhir Maek di Kabupaten Lima Puluh Kota"

Seno Joko Suyono

Seno Joko Suyono

Menulis artikel kebudayaan dan seni di majalah Tempo. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Pada 2011 mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dan menjadi kuratornya sampai sekarang. Pengarang novel Tak Ada Santo di Sirkus (2010) dan Kuil di Dasar Laut (2014) serta penulis buku Tubuh yang Rasis (2002) yang menelaah pemikiran Michel Foucault terhadap pembentukan diri kelas menengah Eropa.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus