Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tempat perlindungan satwa Pejaten Shelter di Jakarta Selatan masih bertahan menampung anjing liar dan terbuang di bawah asuhan dokter patologi klinik Susana Somali.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menempati lahan sekitar 5.000 meter persegi, Pejaten Shelter didirikan pada 30 Agustus 2009.
"Dari mulanya berdiri, saya nggak pernah punya cita-cita muluk. Pokoknya ini kecelakaan. Rencananya, saya mau ngirit biaya rawat inap dan mau punya banyak waktu untuk cari adopter," kata Susana saat ditemui di Pejaten Shelter hari ini, Sabtu, 28 Januari 2023.
Susana menceritakan "shelter" diambil dari nama halte busway Pejaten.
Semula, tempat itu disiapkan sebagai penampungan sementara anjing telantar. Namun, berkembang menjadi rumah bagi ribuan ekor anjing.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Anjing-anjing yang ditampung di Pejaten Shelter memiliki latar belakang berbeda, mulai dari yang diselamatkan dari jalanan hingga sengaja diserahkan oleh pemiliknya.
"Yang paling sedih adalah saat anjing itu di rumah tidur di kasur, lalu masuk Pejaten (shelter). Itu jauh lebih menyedihkan," ucap Susana.
Susana juga menyelamatkan jenis hewan lainnya yang telantar, seperti kucing dan monyet.
Dia lantas mendirikan shelter serupa di Bandung di area yang lebih tertutup agar tak menganggu lingkungan. Susana bahkan memberi makan 2.000 ekor anjing di luar shelternya berikut steril.
Dokter Susana sudah mendapatkan bantuan vaksin rabies gratis dari pemerintah. Tapi, apakah cukup?
"Saya mengajak serta masyarakat untuk membantu saya dalam bentuk donasi. Biaya hidup anjing Rp 350 ribu per ekor (per bulan) untuk biaya makan, listrik, air dan lainnya."
Bukan cuma bantuan dana alias donasi, Susana berharap bisa mendapatkan lokasi shelter baru yang lebih sepi agar suara-suara hewan telantar kesayangannya tak memunculkan protes dari warga sekitar.
Baca: Shelter Ojek Online Caplok Trotoar, Pejalan Kaki: Digeser Saja