Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Riwayat Orang Asing di Tanah Rencong

17 Agustus 2003 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Hasan Muarif Ambary Arkeolog, guru besar Universitas Islam Jakarta

Hanya sedikit sejarawan yang punya data sejarah bagaimana asal-usul terjadinya "bangsa" Aceh. Sebab, untuk itu kita harus menelusurinya dari studi arkeologi. Di Asia Tenggara, wilayah Aceh termasuk wilayah yang pertama-tama dihuni manusia. Di bukit-bukit kerang Aceh Timur (Langsa dan Tamiang) dan Sumatera Utara (Binjai dan sekitarnya), ditemukan sisa-sisa manusia 10 ribu tahun lalu. Rangka-rangka itu menunjukkan bahwa tinggi tubuhnya sedang dan tengkoraknya lonjong. Sebuah rangka yang ditemukan di Bukit Hitam (Tamiang) kepunyaan seorang perempuan, berusia kira-kira 40 tahun, tengkoraknya lonjong lebar tetapi rahang bawah dan giginya kecil-kecil. Kedua rangka itu menunjukkan ciri-ciri Austromelanosoid.

Bukit-bukit kerang ini, selain membentang mulai Binjai hingga Langsa, juga ada di sepanjang pantai barat Malaysia di daerah Kepah, Paya Keledai, Lahar Ikan Mati, dan Pematang Tiga Ringgit. Tempat tersebut bersebelahan dengan timur Sumatera dan hanya terpisah oleh Selat Malaka. Penduduk prasejarah Aceh dulu diperkirakan nelayan dengan makanan pokok berbagai jenis karang, terutama remis. Karena itu, tidak mengherankan jika gigi mereka aus. Penduduk sudah pandai membuat api serta menguburkan mayat dengan upacara-upacara tertentu. Mereka diduga tidak melakukan kanibalisme karena mereka hanya terdiri dari kelompok-kelompok kecil. H. Krupper, seorang ahli prasejarah, melaporkan bahwa telah ditemukan situs Bukit Karang di daerah Langsa. Situs ini ternyata sangat penting karena letaknya 60 sentimeter di atas permukaan laut. Di Lhok Seumawe kemudian ditemukan kapak genggam Sumatera. Bentuknya beraneka ragam. Bentuk yang umum adalah lonjong, bulat, dan meruncing. Alat tersebut dipangkas dari satu sisi saja (monofacial). Khususnya di Lhok Seumawe, kapak genggam dipangkas dari kedua sisinya (bi-facial). Temuan Bukit Kerang di daerah Langsa dan Lhok Seumawe serta berbagai temuan kapak genggam Sumatera memberikan gambaran kepada kita bahwa kehidupan masa itu sudah pada taraf berburu dan mencari makanan dari laut.

Memasuki masa sejarah, di Aceh tampaknya hal itu ditandai juga oleh gelombang migrasi berbagai suku bangsa dari Asia Tenggara dan Asia Selatan. Ditemukan bukti-bukti sekelompok suku bangsa Champa (Vietnam) mendiami sepanjang pesisir daerah Aceh Utara dan Aceh Timur. Migrasi lainnya adalah gelombang kedatangan suku bangsa Tamil dari Asia Selatan (India Selatan). Bukti-bukti tertua tentang kehadiran kerajaan Islam di Nusantara ada di Aceh, yakni ditemukannya makam Malik as-Shaleh yang wafat pada bulan Ramadan 696 H atau 1297M.

Studi gelombang migrasi di masa sejarah itu sejauh ini terus terang belum secara menyeluruh, dan belum dilakukan studi secara memuaskan. Karena itu, di masa depan perlu dilakukan studi ini untuk memperkaya informasi tentang asal-usul dan gelombang migrasi berbagai suku bangsa dari luar ke daerah Nanggroe Aceh Darussalam.

Kehadiran masyarakat Tamil di Aceh ditandai dengan ditemukannya prasasti Tamil pada 1873 di Lobu Tua. Prof. Nilaanta Sastri menerbitkan artikel berjudul A Tamil Merchant Guild in Sumatera. Di situ, ia menyebut fragmen prasasti dari Lobu Tua sebagai penemuan berharga untuk dijadikan bukti tentang aktivitas perdagangan mereka yang telah menyebar ke Sumatera. Mungkin tidak tepat menyimpulkan bahwa bahasa Tamil telah digunakan dalam dokumen-dokumen umum di Pulau Sumatera abad ke-11 Masehi. Namun, jelas bahwa sekumpulan orang Tamil telah tinggal di Pulau Sumatera secara permanen atau semipermanen. Termasuk di antaranya tukang-tukang yang mahir mengukir prasasti di atas batu.

Tulisan mereka serupa dengan tulisan pada berbagai prasasti abad ke-11 dan 12 Masehi dari dinasti Cola. Dari tanggalnya, tampak tulisan 1010 Saka, bulan Masi yang sama dengan bulan Februari-Maret 1088 M.

Kalau kita perhatikan saat ini, di Nanggroe Aceh Darussalam, kehadiran etnis Tamil sudah menyatu dengan masyarakat Aceh seluruhnya. Fisiknya saja yang menunjukkan mereka dari etnis itu. Di luar itu, mereka semua sudah menjadi masyarakat Aceh tulen. Mereka sudah berbicara dengan bahasa Aceh, dan beradat-istiadat Aceh. Pada umumnya "sisa" masyarakat Tamil tinggal di daerah Pidie dan Aceh Utara.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus