Satu tim ahli yang dipimpin pakar dari Harvard telah menyusun proyeksi yang cerah untuk Chandra Asri. Dampak defisit diakui ada, tapi hanya untuk tahun 1992-1993. ADA senjata ampuh yang diandalkan Chandra Asri untuk meyakinkan banyak pihak, bahwa proyek olefin pantas diteruskan. Senjata itu adalah sebuah studi analisa yang dikerjakan oleh sekelompok pakar yang menamakan dirinya The Economic Resource Group (ERG). Studi itu berjudul, "An Assessment of The Impact of The PT Chandra Asri Petrochemical Project on Indonesia's Economy." Pakar yang mendukung tim ERG tersebut juga bukan sembarangan. Koordinatornya adalah Henry Lee, doktor bidang public policy lulusan J.F. Kennedy School of Government yang juga direktur eksekutif Program Lingkungan dan Sumber Alam Universitas Harvard yang terkenal itu. Tak heran jika studi ini lantas disebut-sebut sebagai hasil penelitian "Tim Harvard". Studi ini berpendapat, jika proyek olefin diteruskan, Indonesia meraih banyak keuntungan, baik bagi pengusahanya maupun untuk masyarakat luas. "Dilanjutkannya proyek ini dengan segera bisa membuat keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar dibanding kerugiannya," demikian kesimpulan Henry Lee dan rekan-rekan. Untuk itu, mereka melontarkan serangkaian alasan dengan perhitungan yang cukup matang. Tentang kemungkinan membesarnya defisit neraca transaksi berjalan yang banyak dikhawatirkan orang, misalnya. Diakui, memang pada dua tahun pertama masa konstruksi (1992 dan 1993), proyek ini akan berdampak negatif pada transaksi berjalan sebesar masing-masing US$ 702 juta dan US$ 134,2 juta. "Akan tetapi, ini secara otomatis juga akan tertutup oleh masuknya modal secara langsung maupun tidak langsung, yang dibawa oleh investor dari luar negeri," demikian ERG. Tapi, menurut ERG, beban defisit itu hanya akan berlangsung dua tahun itu saja. Sejak 1994, proyek mulai menyumbang pemasukan devisa sebesar US$ 42 juta, setelah dipotong pembayaran utang dan repatriasi keuntungan karena ini modal asing. ERG juga menghitung, dalam lima belas tahun, devisa yang diraih akan lebih dari US$ 1,8 milyar. "Itu dua kali lipat dibanding devisa yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek ini sekarang," tulis ERG selanjutnya. Selain menguntungkan dari segi teknis lalu lintas devisa, menurut ERG, proyek ini amat penting untuk dilanjutkan demi menjaga kredibilitas pemerintah Indonesia. Disebutkan bahwa penundaan proyek yang modalnya sudah dikucurkan, bahkan sudah dikerjakan sebagian seperti Chandra Asri, akan membawa dampak negatif yang sangat serius. Kepercayaan kreditur luar negeri bisa hancur. Selain alasan yang menyangkut kepentingan orang banyak, perhitungan ERG juga menunjukkan bahwa proyek ini secara ekonomis cukup menguntungkan bagi pengusahanya. Pasar polyethyelene yang merupakan salah satu produk utama Chandra Asri, menurut ERG akan semakin bagus dalam tiga tahun mendatang. ERG memperkirakan, selain negara-negara Asia, Jepang yang saat ini masih mencukupi kebutuhannya sendiri akan menjadi importir olefin mulai tahun 1995. Rupanya, kebutuhan Jepang meningkat pesat. Dengan memperhitungkan berbagai faktor lain, ERG akhirnya sampai pada kesimpulan, proyek ini secara ekonomis cukup layak dengan internal rate of return lebih dari 15 persen, dan mencapai titik impas dalam tujuh tahun lebih. Salah satu faktor yang memungkinkan ialah, Chandra Asri akan mendapatkan proteksi Pemerintah berupa tarif sebesar 15 persen dan beban bunga yang 8 persen setahun. Melihat betapa optimistisnya semua perhitungan tadi, tak heran jika banyak orang mempertanyakan kesahihan perhitungan Lee dan temantemannya. Soal pasar tadi, misalnya. Banyak pihak menyebut, pasar olefin di kawasan ini dalam beberapa tahun ke muka akan jenuh, mengingat banyak proyek petrokimia yang sedang dalam proses pembangunan. Di Asia saja, tercatat tiga negara yang sudah bergerak: Muangthai, Malaysia, dan India. Belum lagi negara-negara Timur Tengah. "Sudah overcrowded," kata seorang ekonom. Belum lagi analisa harga yang digunakan ERG. Lee tak memasukkan unsur harga olefin yang biasanya cenderung tidak stabil. Sepanjang Perang Teluk, misalnya, harga olefin melambung ke US$ 1.200 per ton, jauh dibanding harga sekarang yang US$ 900 per ton. Kepekaan harga ini tentu perlu diperhitungkan, karena langsung terkait pada siapa yang harus menanggung rugi jika mereka bangkrut. Ketika ditanya TEMPO soal ini, Lee mengakui bahwa ia tak memasukkan analisa itu. Namun, ia punya alasan. "Harga yang saya pakai sudah sangat konservatif. Saya menghitung pada taraf harga US$ 740 per ton. Itu lebih rendah dibanding harga rata-rata dalam sepuluh tahun terakhir ini," katanya. Di luar itu, seorang ekonom Indonesia mengkritik satu hal lain. "Memang betul, pengeluaran devisa proyek bisa dikompensasi oleh masuknya modal dari luar karena PMA murni. Namun, itu membutuhkan waktu, sementara bengkaknya defisit langsung terjadi begitu mereka mulai impor dan membangun. Akibatnya, defisit transaksi berjalan bisa lebih dari US$ 6 milyar tahun ini. Kalau memang betul, defisit itu akan merupakan beban yang berat bagi ekonomi Indonesia," katanya, khawatir. Beban atau bukan beban, hal itu bisa saja diperdebatkan. Sebab, ada juga ekonom yang yakin, bila Chandra Asri 100% murni swasta, ia tidak akan membawa dampak apa pun bagi neraca transaksi berjalan. Jadi, 100% aman. Yopie Hidayat (Jakarta), Bambang Harymurti (Washington)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini