Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Setelah Sang Ibu Berpulang...

Meninggalnya Siti Hartinah—wanita yang menjadi penggagas sebagian ide-ide besar Soeharto—membuat presiden yang menjabat 32 tahun itu berjalan tanpa pengawasan.

4 Februari 2008 | 00.00 WIB

Setelah Sang Ibu Berpulang...
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

NDALEM Kalitan tiba-tiba berubah jadi beku. Rumah joglo kuno yang terletak hanya sekitar 100 meter dari jalan protokol Slamet Riyadi yang membelah Solo itu seperti tercekat. Beberapa orang menangis. Tak terkecuali Soeharto, Presiden Indonesia kala itu. Lelaki yang dijuluki sebagai orang terkuat di Asia menurut versi majalah Asiaweek itu tampak kuyu. Berulang kali pria berbaju hitam-hitam itu mengusap air mata yang membasahi pipi. Apalagi, saat peti mati dari kayu jati berpelitur cokelat itu mulai berangkat menuju pemakaman, Pak Harto makin terpekur.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus