Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Sulit Cari Rumah Sakit di Bandung, Pasien Covid-19 Dibawa ke Bogor Naik Taksi

Pasien Covid-19 di Bandung sulit memperoleh rumah sakit karena IGD sudah penuh dan harus antre sambil membawa tabung oksigen sendiri.

29 Juni 2021 | 17.29 WIB

Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS
Perbesar
Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Sulitnya mencari rumah sakit untuk pasien Covid-19 di Bandung memaksa Evi Mariani membawa ayahnya ke rumah sakit di Kabupaten Bogor. Ayah Evi, 79 tahun, terinfeksi virus corona.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kondisi ayah Evi cukup parah. Dia sempat tak sadarkan diri. Makan juga tak nafsu, hanya madu dan sedikit kaldu yang masuk ke perutnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sudah tiga hari Evi berupaya mencari rumah sakit di Bandung. Tapi, tak ada rumah sakit yang bisa merawat ayahnya karena sudah penuh.

"Salah satu nakes di satu RS swasta terkenal di Bandung, nada suaranya sudah frustrasi. 'Ga ada bu, penuh bu, penuh, ga ada, ga bisa, ga bisa'," tulis Evi di akun Twitter @evimsofian kemarin.

"Dia hanya mengulang-ulang itu saat saya tanya apakah bisa ayah saya datang saja ke IGD dan mendapatkan perawatan," lanjut dia.

Foto selasar IGD RS Hasan Sadikin Bandung penuh dengan pasien yang beredar pada Kamis, 24 Juni 2021. Kondisi membeludaknya pasien yang datang ke rumah sakit mengingatkan warga akan kondisi di India saat terjadi `tsunami Covid-19` pada bulan lalu. Istimewa

Hari ini Evi telah mengizinkan Tempo menulis cerita ini. Menurut dia, satu rumah sakit lain di Bandung juga tak bisa merawat sang ayah. Sebab, tak ada tempat tidur yang kosong. Pihak rumah sakit bahkan meminta warga membawa tabung oksigen sendiri jika punya, itu pun harus antre di rumah sakit.

Selanjutnya puskesmas di Bandung juga sulit dikontak 

Beruntung satu rumah sakit mempersilakan ayah Evi datang ke IGD untuk sekadar mendapat infus, tapi tetap harus antre. Keluarga Evi tak sampai hati melihat ayahnya harus menunggu. Sebab, ayah sempat tidak sadarakan diri, makan pun susah.

Evi mencoba cara lain dengan mengecek fasilitas kesehatan terdekat melalui situs Dinas Kesehatan Bandung. Dia mendapati ada lima puskesmas di kecamatannya. Satu nomor ternyata salah. Dua lainnya tidak diangkat, satu salah sambung.

Satu nomor lagi menjawab, tapi rupanya domisili sang ayah beda wilayah. Operator memberikan nomor petugas, tapi tak ada respons ketika dihubungi via Whatsapp.

Evi akhirnya berburu tabung oksigen di toko daring, mencari obat sendiri, dan konsultasi dengan dokter yang bisa dikontak.

Warga membawa tabung oksigen usai isi ulang tabung di kawasan Manggarai, Jakarta, Senin, 28 Juni 2021. Permintaan pengisia tabung oksigen rumahan dan rumah sakit mengalami kenaikam 100 persen sejak lonjakan kasus Covid-19 di DKI Jakarta. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

"Upaya lain yang kami lakukan, dan lumayan berhasil, seluruhnya kami upayakan di luar sistem kesehatan nasional, alias pakai mekanisme pasar," ujar Pemimpin Redaksi Project Multatuli itu.

Akhirnya Evi menemukan jalan keluar. Dia berhasil mendapatkan satu rumah sakit yang bisa menampung ayahnya. Akan tetapi, rumah sakit itu berlokasi di wilayah Kabupaten Bogor.

Selanjutnya, ada rumah sakit yang bisa merawat, tapi di Kabupaten Bogor

 

Sang ayah diantar dengan taksi kemarin, 28 Juni 2021. Tidak ada yang bisa menemani ayahnya, karena seluruh penghuni rumah tengah sakit. Sementara Evi berdomisili di Tangerang Selatan. Dia menahan diri tidak ke Bandung sejak Desember 2019.

Kini ayahnya dirawat di IGD sebuah RS di Kabupaten Bogor. Menurut dia, seharusnya sang ayah ditempatkan di ICU dan mendapat ventilator. "Tapi di RS itu ga ada lagi ICU dan ventilator untuk Covid-19," ucap dia dalam pesan teksnya.

Kabar terakhir yang didengarnya bahwa saturasi oksigen ayahnya rendah dan tidak sadarkan diri. Dia menunggu kabar baik dari rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 itu. "Saat ini paling tidak sudah diinfus, tidur nyaman, dan dapat masker oksigen," ujar dia.

#Cucitangan
#Pakaimasker
#Jagajarak

Baca juga: Kota Depok Bidik Asrama Mahasiswa UI Buat Lokasi Karantina Pasien Covid-19

Lani Diana

Menjadi wartawan Tempo sejak 2017 dan meliput isu perkotaan hingga kriminalitas. Alumni Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bidang jurnalistik. Mengikuti program Executive Leadership Program yang diselenggarakan Asian American Journalists Association (AAJA) Asia pada 2023.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus