Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Digital

Berpacu di Era 1 Gigahertz

Prosesor-prosesor berkecepatan satu gigahertz bermunculan. Apa pengaruhnya bagi konsumen komputer?

26 Maret 2000 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

AMD dan Intel adalah dua musuh bebuyutan di industri mikroprosesor. Dua raksasa mikroprosesor—chip (keping cerdas) yang berfungsi sebagai otak komputer—ini selalu bersaing dalam menciptakan chip-chip yang lebih baru, lebih cepat, lebih berdaya guna. AMD menyalip Intel ketika awal Maret lalu memperkenalkan Athlon, prosesor berkecepatan 1 gigahertz (GHz). Barulah dua hari kemudian, pasukan yang dipimpin Andy Groove itu meluncurkan Pentium III, juga berkecepatan 1 GHz.

Meski keduluan mengumumkan, para analis menilai kinerja prosesor Pentium III sedikit lebih unggul ketimbang pesaingnya. Ini lantaran Pentium III memiliki cache memory sekunder terpadu, yakni cadangan memori yang membuat inti chip tetap bisa diisi data. Coppermine, nama kode seri Pentium III yang keluar pertama kali akhir Oktober tahun lalu, punya cache sebesar 256 kilobyte, yang ditempatkan pada silikon yang sama dalam inti prosesor. Cache tersebut berjalan pada kecepatan yang sama dengan prosesor, dan mampu menyalurkan 256 byte informasi sekali jalan, atau empat kali lipat kemampuan cache 64 byte seri sebelumnya.

Athlon sebenarnya juga punya cache yang besar. Hanya, tempatnya terpisah di luar chip. Akibatnya, kecepatan cache tersebut dalam memproses informasi jadi lebih lambat dan data yang disalurkan ke prosesor lebih sedikit.

Selain itu, Pentium III 1-GHz juga mempunyai interaksi erat dengan peranti lunak Direct X Microsoft, yang banyak dipakai untuk program multimedia. "Nilai itu kami dapat dari hasil tes patok duga," kata seorang analis di biro riset TheMeter, seperti dikutip situs warta digital CNET. Kelebihan Intel, menurut analis itu, terutama tampak ketika menjalankan aplikasi tiga dimensi (3D) dan permainan.

Walau kesenjangan itu sesungguhnya tidaklah terlalu jauh—apalagi jika enam bulan mendatang AMD jadi mengeluarkan Athlon versi lanjut yang diberi nama kode Thunderbird—toh, sikap para produsen komputer telah terbagi dua. Compaq dan Gateway memilih Athlon sebagai otak mesin-mesin mereka, sementara Dell, Hewlett-Packard, dan IBM mendukung Intel.

Di luar kelebihan dan kekurangannya, kehadiran prosesor baru bikinan AMD dan Intel sejatinya menandai datangnya suatu era ketika orang mulai mengukur kinerja komputer dalam satuan gigahertz (kecepatan putaran komputasi satu miliar per detik), menggantikan era megahertz (satu juta operasi per detik). Namun, apa artinya perubahan ini bagi konsumen?

Dari sisi harga, komputer-komputer berisi prosesor satu giga jelas cukup mahal. Jika harga satu prosesor saja sudah sekitar US$ 1.000 (Rp 7,4 juta), satu komputer minimum bisa mencapai Rp 15 juta. Sebagai gambaran, Compaq meluncurkan seri Presario 5900Z, yang dipatok seharga US$ 2.499 (Rp 18 juta). Presario ini dilengkapi monitor 17 inci, memori 128 megabyte, hard disk 30 gigabyte, 40X CD-ROM drive, modem 56 K, kartu video 16-MB Diamond Stealth plus kartu grafik 2X AGP, speaker JBL Pro, dan lubang colokan Firewire untuk penyuntingan video digital.

Dari sudut kemampuan, kecepatan laksana kilat tentu saja bermanfaat bagi program-program aplikasi semacam permainan dan grafik, termasuk foto digital, penyuntingan video digital, desain halaman web, serta musik digital. Namun, bagi hampir kebanyakan konsumen, komputer yang sekarang ada—kecepatannya kurang lebih 500 MHz—sudah mencukupi kebutuhan aplikasi dasar semacam pengetikan, surat elektronik, dan penjelajahan internet, ketika kecepatan jari, mata, dan otak merupakan faktor penentu. Dan komputer-komputer seperti itu cukup terjangkau harganya.

Akan tetapi, harap dicatat bahwa kecepatan prosesor hanya sekadar alat ukur sederhana untuk menentukan kinerja komputer. Kadang ia malah tidak berhubungan sama sekali. Artinya, kinerja sebuah komputer berprosesor 500 MHz bisa saja mengungguli kinerja komputer berprosesor 700 MHz merek lain. Dengan kata lain, chip berkecepatan gigahertz buatan satu pabrik boleh jadi melampaui kinerja chip buatan produsen pesaing, meski kecepatannya setara.

Komponen lain dalam sebuah komputer, misalnya subsistem memori (RAM dan cache), kartu grafik, serta hard disk, juga berpengaruh kepada kinerja secara umum. Dan di era internet, modem yang cepat, kabel telepon berkualitas tinggi, dan koneksi berbentuk digital lebih menentukan kecepatan komputer ketimbang peningkatan beberapa megahertz sebuah prosesor.

Wicaksono

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus