Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Perang dagang bukanlah fenomena baru dalam hubungan ekonomi global. Kebijakan proteksionisme yang diterapkan Amerika Serikat di bawah berbagai pemerintahan, terutama era Donald Trump, telah memicu ketegangan dagang dengan banyak negara. Amerika Serikat (AS) telah berkali-kali menggunakan tarif dan sanksi dagang sebagai alat untuk menekan negara lain agar mengikuti kepentingannya.
Amerika Serikat memang dikenal sebagai negara dengan kebijakan perdagangan yang dinamis dan terkadang agresif dalam menghadapi mitra dagangnya.
Dilansir dari laman Aljazeera dan El Pais, berbagai sumber, berikut lima negara yang pernah berkonflik dagang dengan AS.
1. Perang Tarif Antara AS dan Cina
Ketegangan dagang antara AS dan Cina memuncak saat Trump memberlakukan tarif tinggi pada produk impor asal Cina. Pemicu utamanya adalah tuduhan AS terhadap China yang dianggap melakukan praktik perdagangan tidak adil, seperti subsidi besar-besaran bagi industri dalam negeri dan dugaan pencurian kekayaan intelektual.
Pada 2018, AS menerapkan tarif 25% pada lebih dari 800 produk asal Cina, termasuk baja dan aluminium. Beijing membalas dengan tarif serupa terhadap produk pertanian dan teknologi AS, seperti kedelai dan pesawat terbang. Penerapan tarif ini membuat perusahaan Amerika yang bergantung pada rantai pasok Cina menghadapi lonjakan biaya produksi.
Konflik ini mengguncang rantai pasok global, memperlambat pertumbuhan ekonomi kedua negara, dan memaksa perusahaan-perusahaan mencari alternatif pasar atau sumber bahan baku.
2. Konflik Perdagangan Kayu dan Baja dengan Kanada
Meski dikenal sebagai sekutu dekat, hubungan dagang AS-Kanada pernah dirusak oleh kebijakan tarif. Sebelumnya, pada tahun 1982, konflik pernah terjadi antara AS dan Kanada yang damai setelah hadirnya North American Free Trade Area (NAFTA) atau Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara tahun 1994.
Pada tahun 2018 lalu, AS menuding Kanada memberikan subsidi tidak adil pada industri kayunya sehingga memberlakukan tarif tinggi pada produk kayu lunak. Trump menerapkan tarif 25% pada baja dan 10% pada aluminium Kanada dengan alasan keamanan nasional.
Langkah ini memicu kemarahan Kanada, yang kemudian menerapkan tarif balasan pada produk AS, termasuk minuman beralkohol dan produk pertanian. Retaliasi dari Kanada berupa tarif pada produk AS akhirnya memicu negosiasi ulang NAFTA menjadi USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement).
3. Perang Dagang Sektor Otomotif dengan Jepang
Pada 1980-an, industri otomotif Jepang mendominasi pasar AS yang mengancam produsen mobil dalam negeri seperti General Motors dan Ford. Pemerintah AS menuduh Jepang melakukan dumping dan memaksa negeri Matahari Terbit itu untuk membatasi ekspor mobil ke AS secara sukarela.
Pada 1987, Presiden Ronald Reagan menerapkan tarif 100% pada produk otomotif Jepang setelah Tokyo dianggap gagal membuka pasarnya untuk semikonduktor AS. Konflik ini berdampak terhadap nilai yen yang melonjak, ekspor Jepang menurun, dan ekonomi Jepang mengalami stagnasi panjang di era 1990-an.
Akhirnya Jepang mengubah strateginya dengan mendirikan pabrik di AS untuk menghindari tarif dan memenuhi permintaan domestik. Toyota, Honda, dan Nissan mulai memproduksi mobil langsung di Amerika yang justru memperkuat posisi mereka di pasar global.
4.Konflik Dagang Chicken War, Perang Baja, dan Sengketa Pisang dengan Uni Eropa
Uni Eropa (UE) dan AS telah beberapa kali berselisih dalam kebijakan perdagangan, mulai dari tarif produk pertanian hingga industri berat. Salah satu konflik terkenal adalah "Chicken War" tahun 1960-an, ketika Eropa menaikkan tarif ayam AS karena takut kalah bersaing dengan peternak Amerika.
Selanjutnya, konflik juga pernah terjadi kembali pada 1993 karena kebijakan Eropa yang memberi akses istimewa bagi pisang dari negara-negara bekas koloninya di Karibia. Kebijakan ini merugikan perusahaan Amerika yang memiliki perkebunan pisang di Amerika Latin. Konflik ini membuat AS mengajukan gugatan ke WTO dan akhirnya memberlakukan tarif tinggi pada berbagai produk Eropa.
Ketegangan dagang AS dan Uni Eropa juga pernah dipicu oleh perselisihan subsidi untuk Boeing dan Airbus serta tarif terhadap produk pertanian seperti anggur dan keju. Pada 2002, Presiden George W. Bush juga menerapkan tarif tinggi pada baja Eropa untuk melindungi industri dalam negeri AS. Dari konflik ini, Uni Eropa membalas dengan ancaman tarif pada produk-produk khas AS seperti motor Harley-Davidson dan jeruk Florida. Perang tarif ini menekan sektor ekspor kedua belah pihak dan memicu ketidakpastian bisnis.
5. Konflik Dagang Mobil dan Baja dengan Korea Selatan
Korea Selatan dan AS memiliki perjanjian perdagangan bebas Korea-US Free Trade Agreement (KORUS FTA) yang ditandatangani pada 2012. Namun, pada 2018, pemerintahan Trump menekan Korea Selatan untuk menegosiasi ulang perjanjian tersebut dengan alasan defisit perdagangan yang merugikan AS.
Ketika Donald Trump menjabat, ia menganggap perjanjian dagang KORUS merugikan AS dan menganggap perjanjian ini lebih menguntungkan Korea Selatan. Pada 2018, tarif tinggi diberlakukan pada produk baja Korea yang membuat Korea Selatan menegosiasikan ulang KORUS dengan AS, salah satunya dengan membatasi ekspor baja ke AS dan meningkatkan impor mobil buatan AS ke pasar Korea. Industri otomotif Korea Selatan, yang sangat bergantung pada pasar AS akhirnya menyetujui revisi KORUS FTA tersebut.
Pilihan Editor: Apa Saja Dampak Tarif Impor Trump Terhadap Barang Indonesia
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini