Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Hilirisasi nikel menjadi isu penting bagi Indonesia di tahun politik. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) meluncurkan studi terbaru yang mengungkap dampak ekonomi dan kesehatan dari industri pengolahan nikel di Indonesia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Permintaan global akan nikel meningkat seiring dengan melejitnya tren mobil listrik. Presiden Joko Widodo berupaya meningkatkan pendapatan negara dengan melarang ekspor bijih nikel pada tahun 2020, dan mendorong untuk fokus pada hilirisasi nikel.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Hasil studi dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti bahwa meskipun upaya hilirisasi nikel telah meningkatkan nilai ekspor nikel dari US$ 4 miliar (Rp 62,8 triliun) pada tahun 2017 menjadi US$ 34 miliar (Rp 532 triliun) pada tahun 2022, atau meningkat sebesar 750 persen. Namun, keuntungan ekonomi tersebut telah tergerus oleh dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, mata pencaharian, dan ekologi.
“Dampaknya terhadap masyarakat sekitar, terutama kesehatan dan sumber mata pencaharian, menempatkan mereka pada risiko yang besar,” tutur Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS (Center of Economic and Law Studies), di acara Peluncuran Studi Refleksi Kebijakan Hilirisasi Nikel, di Mercure Sabang, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Februari 2024.
Bertajuk ‘Membantah Mitos Nilai Tambah, Menilik Ulang Industri Nikel’, ini merupakan kajian mendalam mengenai dampak industri nikel terhadap ekonomi, ekologi, dan kesehatan masyarakat, dengan berfokus pada tiga provinsi utama operasi peleburan nikel, yakni: Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Diperkirakan bahwa laju pertumbuhan industri nikel di wilayah-wilayah tersebut akan menyumbang US$ 4 miliar pada tahun kelima pembangunannya, namun dampak negatif terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian serta perikanan akan mempengaruhi output perekonomian secara negatif setelah tahun kedelapan.
Selanjutnya: Nelayan dan petani di kawasan industri akan mengalami kerugian hingga...
Studi tersebut menunjukkan bahwa degradasi lingkungan adalah dampak utama dari operasional pengolahan nikel, yang menyebabkan penurunan kualitas air, tanah, dan udara. Nelayan dan petani di sekitar kawasan industri diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 3,64 triliun dalam 15 tahun ke depan.
“Itu menyebabkan efek deforestasi dan terganggunya kehidupan masyarakat lokal dan ternyata profit yang kemudian diperoleh dari industri nikel tidak semua kembali lagi ke ekonomi lokal,” ujar Bhima.
Ia juga menjelaskan menurunnya kualitas air, tanah dan udara, menyebabkan kemerosotan dalam jumlah nilai mata pencaharian pada nelayan dan petani di sekitar kawasan industri.
Selain itu, mitos tentang peningkatan kesejahteraan penduduk lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan kenaikan upah juga terbantahkan dalam studi ini. Peningkatan penyerapan tenaga kerja hanya terjadi pada tahap konstruksi pabrik pada tahun ke-3, kemudian cenderung menurun hingga tahun ke-15.
Keadaan tersebut berkaitan dengan dampak negatif dari industri nikel yang berpengaruh ke serapan kerja sektor usaha lain, khususnya pertanian dan perikanan.