Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau Telkom Ririek Adriansyah mengungkapkan rencana perseroan untuk masuk ke layanan 5G. Jaringan tersebut akan terealisasi dalam waktu dekat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
“Dalam waktu dekat kita sudah masuk ke jaringan 5G, meski masuk limited,” ujar Ririek dalam webinar Investor Daily yang digelar secara virtual, Selasa, 13 Juli 2021.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Layanan 5G adalah teknologi dalam perangkat seluler yang dapat mencapai kecepatan data lebih tangkas. Layanan ini memiliki latency lebih rendah dan jumlah kerapatan koneksi lebih banyak daripada jaringan4G.
Adapun 5G merupakan evolusi dari Teknologi 4G LTE. Pada tahun lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memberikan izin kepada dua operator, salah salah satunya Telkomsel atau anak usaha Telkom Indonesia, untuk menggelar layanan 5G di sejumlah wilayah di Tanah Air.
Untuk meningkatkan jaringannnya, secara paralel, Telkom Group juga menyiapkan infrastruktur, seperti keterjangkauan fiber optik. Ririek mengatakan Telkom telah memiliki layanan fixed broadband, yakni Indihome, yang telah menjangkau 496 kota dan kabupaten. Angka ini setara dengan 96 persen dari total kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Namun, tidak semua wilayah bisa mengakses layanan tersebut. Untuk kota dan daerah yang tidak dapat terjangkau oleh fiber optik, Telkom Group menyiapkan layanan fixed wireless dan satelit. Saat ini terdapat 43 titik yang telah terjangkau dengan satelit.
Di samping itu, Telkom Group terus membangun data center, Cloud, dan big data sehingga layanan terhadap data sudah dapat dimulai. “Diharapkan bisa membuat negara kita bisa menikmati pertambahan value yang tinggi,” ujar Ririek.
Ririek menjelaskan peningkatan layanan komunikasi sejalan dengan upaya pemerintah menggenjot pertumbuhan ekonomi digital.
Pada 2020, kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 4 persen atau setara Rp 614 triliun dalam setahun. Sedangkan pada 2025, proyeksi ekonomi digital terhadap PDB bisa menyentuh 8 persen PDB atau Rp 1.760 triliun. Sedangkan pada 2030, ditargetkan ekonomi digital Indonesia bisa menyumbang 18 persen PDB atau setara Rp 4.531 triliun.