Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Gangguan belajar bisa dialami anak di sekolah, misalnya tidak kunjung lancar membaca atau sulit mengingat pelajaran. Sayangnya kerap kali ini terlambat disadari orang tua dan guru sehingga anak terlanjur stres dan depresi. Padahal, jika ditelusuri lebin lanjut, anak bisa saja mengalami disleksia.
Disleksia yang berasal dari bahasa Yunani berarti kesulitan berbahasa. Hingga kini, disleksia merupakan gangguan belajar yang paling sering terjadi. Sebanyak 80 persen anak dengan gangguan belajar, mengalami disleksia.
Anak-anak disleksia memiliki perbedaan dalam menangkap informasi bahasa (input), memahami informasi, mengingat, dan mengaturnya dalam pikiran mereka (cognitive processing) sehingga menghasilkan tanggapan (response), serta bagaimana mereka menyampaikan tanggapan tersebut (output).
Seluruh tahapan ini dapat terganggu. Anak disleksia tidak hanya kesulitan membaca, tapi juga mengeja, menulis, dan aspek bahasa lain. Berikut ini masalah yang sering dihadapi anak disleksia.
1. Masalah fonologi
Fonologi merupakan hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Anak disleksia akan sulit membedakan "palu" dan "paku", atau keliru memahami kata-kata dengan bunyi yang hampir sama, seperti "lima puluh" dan "lima belas". Kesulitan ini tidak berkaitan dengan pendengaran.
2. Masalah mengingat perkataan
Kebanyakan anak disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal, bahkan banyak yang di atas rata-rata. Namun, mereka kesulitan mengingat kata-kata. Ketimbang menyebut nama, mereka biasanya menyebut "temanku di sekolah", "temanku yang laki-laki itu", dan lainnya.
3. Masalah penyusunan urutan
Anak-anak disleksia biasanya mengalami kesukaran dalam menyebut suatu urutan. Misalnya, urutan nama bulan, atau susunan aktivitas harian. Kadang mereka juga kesulitan memahami penghitungan sederhana, seperti jika mendapat pertanyaan ini, “Apakah uang yang dipegang cukup untuk membeli kue?”
4. Masalah ingatan jangka pendek
Anak disleksia kesulitan memahami instruksi panjang. Misalnya, perintah ibu untuk, "Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti baju, cuci kaki dan tangan, lalu turun lagi untuk makan siang sama ibu, tapi jangan lupa bawa buku PR matematika, ya!"
5. Masalah dalam pemahaman tata bahasa
Hal ini biasa ditemui pada anak disleksia yang terbiasa berkomunikasi dengan dua bahasa (bilingual), misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sebab, dua bahasa ini memiliki susunan bahasa yang berbeda.
Bahasa Indonesia menggunakan susunan diterangkan-menerangkan, contohnya “tas biru”. Sementara itu, bahasa Inggris sebaliknya, menganut konsep menerangkan-diterangkan. Bahasa Inggris “tas biru” bukanlah “bag blue”, melainkan “blue bag”.
Lalu, bagaimana mengenali anak dengan disleksia? Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, antara lain kesulitan mengenali huruf dan mengejanya; kesulitan mengerjakan pekerjaan tertulis secara terstruktur, misalnya menulis esai; dan kesalahan dalam memahami huruf, sehingga huruf-huruf yang mirip, sering tertukar. Misalnya "b" dan "d", "p" dan "q", "m" dan "w", "s" dan "z".
Anak juga tidak membaca dengan tepat, misalnya menghilangkan awalan dan kata penghubung.. selain itu tulisan tangan anak cukup buruk. Ia juga kesulitan membedakan kanan dan kiri.
Jadi, mulailah curiga jika kemampuan membaca anak di bawah rata-rata murid seusianya. Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Setelah itu, mungkin aka nada rekomendasi untuk menemui psikolog, dokter mata, dokter THT, dan dokter saraf.
Perlu diingat, disleksia bukan akhir segalanya. Banyak orang sukses yang sebenarnya mengidap disleksia.
SEHATQ.COM
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini