Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Lebaran identik dengan makanan lezat seperti opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan aneka kue manis. Sayangnya, konsumsi berlebihan makanan bersantan, berminyak, dan tinggi gula ini dapat membuat tubuh terasa lemas, berat badan naik, hingga menimbulkan gangguan pencernaan. Oleh karena itu, melakukan detoks tubuh agar kembali usai lebaran bisa menjadi pilihan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip dari Medical News Today, menyatakan detoks atau detoksifikasi adalah upaya membantu tubuh menyingkirkan zat berbahaya dan melindungi dari kerusakannya. Biasanya, ini melibatkan konsumsi makanan atau mengikuti diet tertentu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pada dasarnya tubuh sudah membuang racun secara alami. Namun, beberapa makanan menyehatkan, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan, dapat mendukung proses ini. Berikut tiga cara melakukan detoks.
1. Makan Makanan yang Bervariasi
Dokter spesialis penyakit dalam Cindy Geyer, mengatakan hal penting dari melakukan detoks yakni makan dengan bervariasi. Misalnya Bukan hanya makan daun ketumbar, tapi juga peterseli. Bukan hanya brokoli dan blueberry, tapi kacang-kacangan dan wortel dan pisang dan lainnya.
Ketumbar, misalnya, telah terbukti mencegah penyerapan logam berat seperti merkuri, yang berarti diekskresikan alih-alih diproses oleh hati. Sayuran seperti brokoli mengandung senyawa antioksidan yang tampaknya membantu hati dalam proses detoksifikasi.
2. Tingkatkan Asupan Serat
Menambahkan makanan berserat tinggi ke dalam proses detoks dapat membantu tetap kenyang lebih lama sehingga Anda tidak terjebak untuk ngemil. Selain itu juga membantu membersihkan usus dari masalah yang tersisa, dan membuat tubuh tetap teratur.
“Jika ada racun yang Anda telan secara tidak sengaja, serat dapat bertindak seperti sikat scrub untuk usus besar, mengikat racun dan membantu Anda mengeluarkannya daripada menyerapnya,” kata Dr. Geyer.
Serat memiliki peran penting dalam keseimbangan mikrobioma usus. Makanan berbasis tumbuhan mengandung prebiotik, yaitu jenis serat yang tidak dapat dicerna dan berfungsi sebagai sumber energi utama bagi bakteri baik di usus. Mengonsumsi prebiotik dalam jumlah cukup membantu meningkatkan pertumbuhan bakteri usus yang beragam dan sehat.
3. Kurangi Makanan Inflamasi
Meskipun makan dalam jumlah sedang, makanan tertentu memiliki sifat peradangan yang lebih tinggi yang dapat memperburuk perasaan kembung dan berat, serta memberi lebih banyak tekanan pada ginjal dan hati.
Salah satu yang harus dikurangi untuk menghindari hal ini adalah alkohol. Ini bisa menjadi racun dan dapat merusak sel-sel hati, menyebabkan peradangan, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Selain itu hindari makanan kemasan dengan konsentrasi tinggi karbohidrat olahan dan lemak tidak sehat, yang bisa meningkatkan peradangan dan dapat merusak hati dari waktu ke waktu, serta mencegahnya proses detoks secara efektif.
Amelia Rahima Sari turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.