Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Destinasi wisata religi biasanya berupa tempat ibadah atau makam tokoh agama. Tapi di Kabupaten Cilacap, ada sejumlah gua yang menjadi destinasi wisata religi yang kerap didatangi wisatawan atau peziarah.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Salah satu diantaranya adalah gua Masigit Sela. Gua yang berada di sisi barat Pulau Nusakambangan itu cukup terkenal di kalangan peziarah muslim.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Nama Masigit Sela berasal dari kata masigit yang artinya masjid dan sela yang berarti batu, sehingga berarti masjid di dalam gua. Konon gua ini dulunya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelum memasuki gua, peziarah biasanya melakukan mandi kungkum atau berendam di sebuah kedung atau mata air yang berada 100 meter di pinggir jalan menuju ke lokasi gua. Kemudian, para peziarah bisa melaksanakan salat di musala yang berada di kawasan tersebut.
Selain oleh peziarah, gua ini cukup menarik wisatawan yang ingin menikmati keindahan stalaktit dan stalagmitnya.
Gua lainnya adalah gua Bendung atau gua Maria. Gua ini letaknya tak jauh dari gua Masigit Sela dan ditemukan pertama kali oleh tentara Belanda yang menduduki Cilacap.
Pemberian nama bendung karena di dalam gua ini ada stalakmit yang menyerupai Bunda Maria. Ini pula yang menyebabkan gua ini akrab disebut gua Maria. Gua tersebut pun menjadi destinasi wisata bagi umat Katolik di wilayah Cilacap dan sekitarnya.