Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini jamak kita jumpai orang mengobrol, tapi pandangannya tidak tertuju kepada orang di depannya. Ini adalah perubahan yang kita alami akibat revolusi digital. Betul, revolusi digital telah banyak mengubah manusia, terutama cara kita berkomunikasi. Terutama komunikasi kita dengan sesama manusia. Meski ia mendengar lawan bicara, dan sesekali menimpali, tapi mata dan tangannya tersedot ke ponsel yang dipegangnya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Masalahnya, bukan hanya mata yang tersedot, tapi juga sebagian otak dan perhatian kita. Perbincangan tetap terjadi, tapi ada banyak hal yang hilang. Selain detail topik perbincangan yang kerap terlupa, interaksi menjadi amat dingin dan kaku. Bahkan kerap terjadi salah paham yang dimulai dari perbincangan model seperti ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Mindfulness adalah hal terbesar yang dicuri oleh gadget. Kita kini mengerjakan apapun tanpa keutuhan perhatian. Kita makan sambil melihat ponsel, meeting, mengobrol dengan istri, bahkan menonton televisi dan menyetir mobil.
Cara berkomunikasi yang benar, dengan perhatian penuh, mata dan tubuh yang menghadap lawan bicara, sudah semakin berkurang. Sayangnya, ini terjadi justru ketika mulai beramai-ramai kembali ke Islam.
Loh, apa hubungannya?
Hubungannya ada di sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (disahihkan oleh Al-Albany):
Abu Hurayra said, “When he faced someone, he faced him completely. When he turned away, he turned away completely. I have never seen anyone like him and I will never see anyone like them.”
Ketika Nabi menghadap seseorang, beliau menghadapinya dengan sepenuhnya. Saat dia berpaling, dia berpaling sepenuhnya. Beliau memberi teladan bagaimana seharusnya berkomunikasi. Ketika berpaling beliau tidak memutar lehernya, tapi memutar seluruh badannya. Ketika dia selesai berbicara, dia berpaling dan sepenuhnya berpaling untuk menghadapi masalah atau orang lain.
Selain tidak menghargai orang di depan kita, mengobrol sambil memainkan gadget itu tidak mensyukuri momen kebersamaan kita bersama orang lain. Padahal, momen bersama manusia (keluarga, kolega, teman) adalah salah satu hal terbaik yang pernah kita miliki di dunia ini.
Jika kita bisa mengamalkan hadits ini, saya yakin hubungan kita dengan orang lain akan meningkat drastis.
Tulisan ini sudah tayang di Almuslim