Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Uniknya Perayaan Imlek di Semarang, Ada Tradisi Tuk Panjang Simbol Toleransi

Tradisi tuk panjang biasanya dilakukan orang Tionghoa di rumah orang paling tua, tetapi di Semarang dilakukan di jalanan menjelang Imlek.

10 Februari 2024 | 20.31 WIB

Tradisi tuk panjang dalam menyambut perayaan Imlek yang berlangsung di kawasan Pecinan, Semarang, Kamis (8/2/2024). (ANTARA/Pemkot Semarang)
Perbesar
Tradisi tuk panjang dalam menyambut perayaan Imlek yang berlangsung di kawasan Pecinan, Semarang, Kamis (8/2/2024). (ANTARA/Pemkot Semarang)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Perayaan Imlek umumnya dilakukan dengan tradisi yang sama, tapi ada beberapa daerah yang memiliki kebiasaan yang unik seperti Semarang. Di ibu kota Jawa Tengah itu, Imlek disambut dengan tradisi "tuk panjang".

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menjelaskan bahwa tradisi tersebut sarat dengan akulturasi budaya sebagai simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso, di Semarang, Jumat, 9 Februari 2024, menjelaskan bahwa "tuk panjang" telah menjadi prosesi rutin di sana.

Makan bersama

"Tuk panjang" adalah sebuah tradisi meja panjang yang di atasnya disediakan berbagai hidangan, seperti kue keranjang kukus santan, nasi hainan, tujuh macam sayur hijau yang masing-masing punya lambang dan harapan baik. Menu lainnya adalah lumpia dan aneka makanan sebagai wujud akulturasi budaya. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Makanan tersebut ditata di atas meja sepanjang 200 meter untuk dimakan bersama-sama masyarakat keturunan Tionghoa, perwakilan tokoh agama, dan masyarakat.

Wing menyebutkan bahwa "tuk panjang" selalu hadir menyambut perayaan Imlek di Semarang dan selalu berlangsung meriah. Pada Imlek tahun ini, "tuk panjang" telah digelar pada Kamis malam, 8 Februari 2024 di kawasan Pecinan.

Menurut dia, akulturasi budaya yang tergambar dalam tradisi "tuk panjang" menyambut Imlek sebenarnya melekat bagi masyarakat dan menjadi kekuatan, termasuk untuk pariwisata dan lainnya.

"Ini ada filosofinya, makan bersama yang mewujudkan kerukunan umat beragama karena ada berbagai macam etnis yang ikut memeriahkan. Akulturasi budaya, harapannya menjadi semangat menjaga toleransi di kota ini," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Jaga keharmonisan dan kerukunan

Sementara itu, Ketua Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Haryanto Halim menjelaskan bahwa tradisi "tuk panjang" coba diangkat ke jalan guna wujudkan keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama.

"Tradisi ini biasanya dilakukan orang Tionghoa di rumah orang paling tua, karena keluarga yang datang banyak, akhirnya banyak meja yang disusun memanjang," katanya.

Dengan dihadirkan di jalanan, tidak hanya masyarakat Tionghoa yang menikmati, tetapi juga warga sekitar, tokoh agama, tokoh masyarakat juga diajak duduk dan makan bersama menyambut Imlek.

ANTARA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus