Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis dan kartunis asal Turki yang telah dipenjara tiga tahun lebih meraih pengharagaan pers dunia dalam kategori Gambar Jurnalistik Terbaik, kamis, 3 Mei 2018, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Sedunia. Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun sekali untuk kartunis, terutama yang menjadi jurnalis di tengah rezim otoriter.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip dari Reuters, Jumat 4 Mei 2018, kartunis karikatur, Musa Kart, dari surat kabar oposisi Cumhuriyet, merupakan salah satu jurnalis yang ditahan bersama 13 rekannya. Rata-rata vonis antara 2,5 tahun hingga 7,5 tahun atas tuduhan mendukung imam Fetullah Gulen, yang disalahkan mendalangi kudeta yang berakhir gagal pada tahun 2016 silam. Keempat belas jurnalis Cumhuriyet membantah tuduhan ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Jurnalis dan aktivis berkumpul di depan gedung pengadilan di Istanbul, Jumat 28 Juli 2017, dengan membawa poster bertuliskan "Kami Ingin Mereka Semua Bebas" memprotes peradilan terhadap jurnalis dan staf surat kabar Cumhuriyet, yang mengkritik Presiden Recep Tayyip Erdogan, dengan tuduhan membantuk kelompok teroris. Pengadilan ini menentukan mereka ditahan atau dibebaskan. [AP]
Musa Kart, 64 tahun, divonis tiga tahun dan sembilan bulan. Pascakudeta, ia menghabiskan sembilan bulan di penjara.
"Surat kabar yang saya cintai kini dikepung pihak yang merasa gerah dengan arah jurnalismenya dan ingin membungkamnya dengan ancaman hukuman yang berat," kata Kart melalui pesan yang dibacakan putrinya, Seran Uney, dalam peringatan Hari Pers Dunia di Jenewa, Swiss, Kamis kemarin.
"Kartunis adalah barometer kebebasan berekspresi. Ketika hanya sedkit keterbukaan di Iran, kita mengetahuinya berkat kartunis," ujar Jean Plantu, kartunis dari Prancis sekaligus juri dari Cartooning for Peace Foundation.
Kasus penangkapan jurnalis Cumhuriyet termasuk dalam kasus penangkapan tingkat tinggi sejak negara Turki mengumumkan darurat negara pascakudeta. 150 media Turki dibredel dan 160 jurnalis dipenjara.