Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Pejabat dan Pengusaha Ukraina Dituduh Jadi Mata-Mata Rusia, Dibayar Rp400 Juta

Seorang pejabat dan pengusaha Ukraina ditahan karena dituduh jadi mata-mata Rusia dengan imbalan Rp400 jutaan.

21 Juni 2022 | 19.05 WIB

Ilustrasi mata-mata.
Perbesar
Ilustrasi mata-mata.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Ukraina telah menahan seorang pejabat senior pemerintah dan seorang pemimpin bisnis karena diduga menjadi bagian dari jaringan mata-mata Rusia, kata Dinas Keamanan Ukraina, Selasa, 21 Juni 2022.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Security Service (SBU) tidak menyebutkan nama kedua tersangka tetapi mengidentifikasi mereka sebagai pejabat senior di Sekretariat Kabinet dan kepala departemen lobi bisnis di Kamar Dagang dan Industri .

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dikatakan dalam sebuah pernyataan di aplikasi Telegram bahwa mereka telah melakukan "operasi khusus multi-tahap" untuk menetralisir dugaan jaringan mata-mata.

"Akibatnya: di Kyiv, kepala departemen Sekretariat Kabinet dan kepala salah satu direktorat Kamar Dagang dan Industri ditahan," kata SBU.

"Para pejabat ini menyampaikan berbagai informasi intelijen kepada musuh: dari keadaan kemampuan pertahanan kami hingga pengaturan di perbatasan negara dan data pribadi petugas penegak hukum Ukraina."

Rusia tidak segera mengomentari pernyataan SBU.

Dua tersangka utama terlihat duduk di depan bendera Ukraina dalam sebuah video dan mengatakan mereka telah bekerja sama dengan Moskow, yang telah berperang dengan Ukraina sejak Rusia menginvasi tetangganya pada 24 Februari.

Tidak segera jelas apakah mereka berbicara di bawah tekanan.

SBU mengatakan Rusia membayar tersangka dari $2.000 hingga $15.000 per tugas, tergantung pada tingkat kerahasiaan dan pentingnya informasi. Salah satu pria mengatakan dalam video bahwa dia telah menerima total $ 33.000 (Rp489 juta) untuk kegiatannya, dan yang lain mengatakan dia menerima $ 27.000 (Rp400 juta).

Reuters

Satu, yang memiliki nama kode "Kireev", mengatakan dia telah berkolaborasi sejak 2016. Yang lain mengatakan dia telah menjadi mata-mata Rusia sejak 2019.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus