Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Internasional

Pemilu Turki, Erdogan Diperkirakan Menang Mudah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diperkirakan menang mudah pada pemilihan umum 24 Juni 2018. Erdogan mendapat tantangan luar negeri.

2 Juni 2018 | 08.15 WIB

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan). [https://aa.com.tr]
Perbesar
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan). [https://aa.com.tr]

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Turki akan menggelar pemilihan umum pada 24 Juni 2018. Presiden Recep Tayyip Erdogan diperkirakan menang mudah setelah dia berhasil menggulung tokoh oposisi berpengaruh, termasuk Fethullah Gulen, yang kini hidup di pengasingan Amerika Serikat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

Selain itu, Erdogan telah melumat kekuatan oposisi Kurdi, baik di dalam negeri maupun di negara lain, di antaranya yang melakukan perlawanan dari Suriah dengan dukungan Amerika Serikat. Bahkan pasukan Turki didukung oleh militan bersenjata menguasai kawasan utara Suriah yang menjadi basis perlawanan Kurdi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Erdogan mengatakan pasukan Turki dan sekutunya di Suriah berada di 6 kilometer Afrin pusat. [Khalil Ashawi/Reuters]

"Perkembangan di Suriah dan negara lain harus menjadi perhatian demi masa depan kita," kata Erdogan kepada wartawan di Ankara, bulan lalu, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Erdogan berjuang keras memenangi pemilihan umum yang akan datang melalui Partai AK. Kemenangan tersebut, bagi Erdogan, memudahkan dia memaksakan keinginannya mengubah pemerintahan dengan sistem presidensial seperti Amerika Serikat atau Prancis, yang memberikan peran kuat terhadap presiden sebagai pemimpin negara.

Jika Erdogan benar-benar memenangi perebutan kursi presiden, dia bakal menghadapi berbagai tantangan luar negeri. Halangan yang sudah siap menghadang Erdogan antara lain persoalan Kurdi. Kelompok yang bergabung ke dalam Partai Pekerja Kurdi (PKK) ini masih melakukan perlawanan bersenjata di dalam negeri Turki.Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memeriksa barisan pasukan Turki di pangkalan militer Tariq bin Ziyad, selatan Doha. [AP]

Belum selesai sampai di situ, Erdogan juga harus mendesak Amerika Serikat mengekstradisi Fethullah Gulen. Menurut Ankara, Gulen adalah otak di belakang kudeta gagal pada Juli 2016. Turki masih harus bekerja keras menjadi anggota Uni Eropa.

Dari seberang negeri, Turki juga risau atas pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah, konflik di Siprus, serta hubungannya yang terus memburuk dengan Mesir, Israel, Libya, dan Yaman. Semua tantangan itu harus dijawab Erdogan ketika dia terpilih. "Erdogan juga berambisi agar Presiden Suriah Bashar al-Assad tumbang."

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus