Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan perempuan Spanyol berunjuk rasa dengan memukul panci dan wajan di Madrid untuk memperingati Hari Perempuan Internasional.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip dari Reuters, 8 Maret 2019, beberapa perempuan mengenakan tas dan pakaian ungu sambil memegang spanduk bertuliskan "Saudari! aku percaya padamu". Para perempuan tersebut bertemu di alun-alun Puerta del Sol jantung ibu kota Spanyol, Jumat dini hari.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Unjuk Rasa pertama yang dilakukan di Eropa untuk menuntut kesetaraan gender. Warna ungu menjadi ciri khas para pengunjuk rasa dalam memperingati Hari Perempuan Internasional.
"Sangat penting untuk menunjukkan dan peringatan hari perempuan semestinya bukan hanya sehari, karena masih banyak celah-celah atas persoalan masyarakat yang dihadapi dan perlu diatasi perempuan. Kita berada dalam masyarakat yang patriarki," kata Abril Vilatrollol, 21 tahun salah satu peserta unjuk rasa mahasiswa perfilman, dilansir dari Asia One, Jumat, 8 Maret 2019.
Dia menambahkan kadang-kadang dia khawatir akan keselamatannya ketika pulang ke rumah setelah pulang pesta malam hari. Dia berpendapat adanya diskriminasi yang jelas terhadap perempuan di sektor perfilman.
Partai sayap kanan baru Vox, menurut jajak pendapat pertama kalinya akan memenangkan kursi dalam pemilihan parlemen, diKarenakan mengajukan proposal undang-undang pengentasan kekerasan berbasis gender di Spanyol.
Partai konservatif Partido Popular tidak akan ambil bagian dalam demonstrasi besar 8 Maret, dengan alasan bahwa mereka telah dipolitisasi oleh kaum kiri. Di sisi lain, Perdana Menteri Spanyol yang sosialis, Pedro Sanchez, telah menjadikan kesetaraan gender sebagai prioritas utama dari pemerintahan sembilan bulan dan kampanye pemilihannya.
Aksi unjuk rasa Hari Perempuan Internasional yang lebih besar direncakan digelar di Spanyol pada Jumat, di mana ketidakadilan gender menjadi isu yang memecah belah selama pemilihan parlemen Spanyol 28 April.
MUHAMMAD HALWI | REUTERS | ASIA ONE