Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Konflik antara Israel dan Palestina kembali terjadi setelah Hamas melancarkan serangan ke kota-kota Israel pada Sabtu, 8 Oktober 2023. Israel membalas serangan itu sehari kemudian. Konflik Palestina-Israel bukanlah yang pertama dan telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pengamat Politik Timur Tengah, Siti Mutiah Setiawan, mengatakan bahwa konflik kedua negara itu bukanlah semata konflik agama. “Persoalan konflik kedua negara itu bermula ketika bangsa Yahudi menginginkan kembali wilayah Palestina yang sudah diduduki bangsa Arab Palestina selama ribuan tahun,” ujar Siti kepada Tempo, 20 Mei 2021.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut dia, orang-orang Yahudi itu memang pernah tinggal di wilayah Palestina yang merupakan jajahan dari Romawi. Tetapi orang-orang Kristen kemudian datang dan orang-orang Yahudi diusir oleh Nebukadnezar dari Romawi.
Meskipun begitu, banyak versi terkait cerita itu. Tetapi alasan mereka diusir dari Romawi karena orang Yahudi dianggap telah menyalib Yesus. “Orang Yahudi menolak ajaran Yesus Kristus dan mereka menyalibnya. Mereka kemudian menjadi bangsa yang tersebar di beberapa negara di Eropa, Amerika, sampai Asia,” ujarnya.
Di Eropa, orang Yahudi mengalami diskriminasi, terutama ketika Nazi membasmi orang Yahudi di bawah Adlof Hitler. Lalu akhirnya sejak 1897 terdapat Kongres Zionis Internasional yang memutuskan agar orang Yahudi kembali ke tanah Palestina.
Saat itu tanah Palestina dikuasai Inggris. Para bangsa Yahudi kemudian mengajukan ke Inggris untuk memberikan tanah Palestina itu. Keinginan bangsa Yahudi ke Palestina disetujui oleh Inggris pada 1917 melalui Deklarasi Balfour.
Akibat dari deklarasi itu, menurut Siti, orang Yahudi jadi merasa berkuasa. Dari situ, bangsa Yahudi kembali ke Palestina dan Israel mendeklarasikan kemerdekaan pada 14 Mei 1948.
Dilansir dari Koran Tempo edisi 10 Oktober 2023, nama Israel pertama muncul menjelang akhir abad ke-13 sebelum Masehi dalam Prasasti Mernepath di Mesir.
Pada 135 M, Kaisar Romawi Hadrianus mengusir orang-orang Yahudi dari Yerusalem, dan wilayah itu kemudian disebut “Suriah-Palestina”. Nama Palestina diambil dari nama wilayah pesisir Filistin kuno, musuh-musuh bangsa Israel.
Sebelum memutuskan untuk pindah ke tanah Palestina, Israel awalnya ditawarkan tanah lain seperti di Sinai sampai Argentina. “Tetapi orang Yahudi tidak mau karena tidak ada ikatan di sana. Palestina dipilih karena menurut orang Yahudi itu adalah tanah dijanjikan oleh Tuhan dan tanah Palestina merupakan tanah hanya untuk orang Yahudi,” jelas Siti.
Dari situ, menurut Siti, Israel telah melanggar kesepakatan hubungan internasional dan hukum internasional karena Palestina sebenarnya sudah lebih lama berada di tanah itu, setidaknya telah ada 1.800 tahun sejak Israel mendeklarasikan kemerdekaan.
Upaya perdamaian antara kedua negara itu sebenarnya telah dilakukan sejak 1947. Pada 1967, ada peran Arab-Israel dan PBB untuk mendamaikan tetapi gagal. Sampai saat ini, kedua negara itu masih berkonflik.
ANDIKA DWI l ANNISA FEBIOLA l MARIA RITA HASUGIAN l DANIEL MILLER