Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Tarif Impor AS Meroket: Ragam Respons Ekonom dan Pengamat

Ekonom Wijayanto, Didin, Ibrahim, Bhima mengkritik tarif impor AS, prediksi efek buruk bagi ekspor, rupiah melemah hingga Rp17.000, dan efek lainnya.

4 April 2025 | 18.00 WIB

Efek Tarif Impor Trump, Ekonom Sebut Rupiah Berisiko Merosot Hingga 17.000 per Dolar
Perbesar
Efek Tarif Impor Trump, Ekonom Sebut Rupiah Berisiko Merosot Hingga 17.000 per Dolar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor AS pada 2 April 2025 di Rose Garden Gedung Putih, Amerika Serikat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kebijakan itu akan memberlakukan tarif minimum 10% untuk semua produk impor ke AS dari berbagai negara termasuk Indonesia, dengan tarif khusus yang lebih tinggi untuk beberapa negara tertentu sebagai bagian dari kebijakan resiprokal ini.

Beberapa ekonom dan pengamat Indonesia memberikan komentar terkait tarif Trump tersebut.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin

Wijayanto Samirin mengkritisi kebijakan reciprocal tariff sebagai upaya AS untuk memperbaiki kondisi fiskalnya yang berpotensi berdampak negatif bagi negara lain. Ia memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi global, memaksa lembaga keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan OECD untuk meninjau ulang proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Menurutnya, kebijakan ini juga akan memicu pergerakan investor yang cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti emas dan surat utang negara.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Wijayanto memprediksi kebijakan ini akan meningkatkan volatilitas pasar saham global dengan tren penurunan, sekaligus mempengaruhi stabilitas nilai tukar mata uang berbagai negara. Bagi Indonesia, langkah AS ini dinilai akan memperumit pencapaian target pertumbuhan ekonomi 5% tahun 2025. Dalam keterangannya pada Kamis, 3 April 2025, ia menyebutkan IHSG berpotensi terkoreksi, khususnya pada sektor ekspor seperti tekstil, karet, dan elektronik, sementara nilai tukar rupiah menghadapi risiko pelemahan akibat tekanan eksternal yang semakin kuat.

Ekonom senior tersebut mengingatkan bahwa kenaikan tarif AS terhadap produk-produk padat karya Indonesia berpotensi memicu gelombang PHK. Di saat bersamaan, pemerintah juga akan menghadapi tantangan lebih besar dalam melakukan refinancing utang sebesar Rp800 triliun dan penerbitan utang baru Rp700 triliun yang direncanakan tahun ini.

Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Didin S Damanhuri

Didin S Damanhuri memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump berpotensi memperdalam pelemahan rupiah, dengan proyeksi nilai tukar bisa mencapai Rp17.000 per dolar AS. Pakar ekonomi ini menjelaskan bahwa kebijakan resiprokal AS menciptakan guncangan ekonomi global yang berdampak pada tekanan terhadap nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Didin menambahkan bahwa rupiah sebenarnya sudah mengalami tekanan akibat sentimen domestik negatif, seperti isu Danantara dan berbagai kebijakan populis pemerintah, yang telah mendorong kurs ke level Rp16.700 per dolar AS. "Kondisi saat ini menunjukkan sentimen negatif yang lebih dalam dibanding sebelumnya," jelasnya kepada Tempo, Kamis, 3 April 2025.

Lebih lanjut, Didin mengungkapkan bahwa arus modal asing yang keluar (capital outflow) belakangan ini telah memberikan tekanan ganda pada nilai tukar rupiah dan IHSG. Dengan kondisi fundamental ekonomi yang kurang mendukung, potensi pelemahan rupiah dinilai bisa semakin dalam.

Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuabi 

Ibrahim Assuabi memprediksi kenaikan tarif AS akan mengurangi daya saing ekspor Indonesia di pasar Amerika. Ia mendesak pemerintah segera mengambil tindakan strategis untuk menangani dampak negatifnya. "Selain berdampak pada penurunan ekspor, kebijakan ini juga akan memperlemah nilai tukar rupiah. Kami memproyeksikan rupiah bisa mencapai Rp16.900 bahkan berpotensi menyentuh Rp17.000 per dolar AS dalam pekan ini," jelas Ibrahim pada Kamis, 3 April 2025.

Ibrahim memperingatkan bahwa tanpa tindakan cepat dari pemerintah, tekanan terhadap perekonomian dalam negeri akan semakin membesar. Ia merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menghadapi perang dagang ini, antara lain: (1) memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk AS, (2) memperluas pasar ekspor ke negara-negara BRICS sebagai alternatif, (3) memberikan stimulus ekonomi, serta (4) melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan obligasi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira

Bhima mengungkapkan bahwa kebijakan tarif timbal balik Trump akan memberikan dampak besar bagi perekonomian Indonesia. Menurut analisanya, kebijakan ini tidak hanya akan mengurangi volume ekspor Indonesia ke AS, tetapi juga berpotensi menurunkan kinerja ekspor ke negara-negara lainnya secara berantai.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan tarif timbal balik ini akan sangat membebani sektor otomotif dan elektronik Indonesia. Kenaikan harga kendaraan di pasar AS akibat tarif ini diperkirakan akan menekan penjualan produk ekspor Indonesia. 

Bhima menjelaskan adanya korelasi kuat antara ekonomi kedua negara. Setiap penurunan 1% pertumbuhan ekonomi AS akan mengurangi 0,08% pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Industri otomotif nasional menghadapi kesulitan beralih ke pasar domestik karena perbedaan spesifikasi produk ekspor dan lokal. Kondisi ini berpotensi memicu PHK dan penurunan kapasitas produksi di seluruh rantai industri otomotif dalam negeri," jelas Bhima.

Pendiri CELIOS tersebut kemudian menekankan pentingnya Indonesia tidak bereaksi berlebihan terhadap kebijakan tarif impor AS, melainkan fokus pada upaya menarik relokasi industri melalui perbaikan iklim investasi. Ia mendorong pemerintah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih kompetitif dengan menyajikan kerangka regulasi yang jelas dan konsisten, mempercepat proses perizinan, melengkapi infrastruktur kawasan industri, menyediakan pasokan energi terbarukan yang andal, serta meningkatkan kapasitas tenaga kerja terampil sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Dinda Shabrina dan Ilona Estherina ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Indonesia Kirim Tim Lobi ke AS untuk Negosiasi Tarif Impor Donald Trump

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus