Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Prabowo meminta agar desain gedung badan legislatif dan yudikatif dibuat lebih modern.
Permintaan Prabowo tersebut bisa saja sebagai upayanya menyenangkan hati Jokowi.
Di tengah pemangkasan anggaran timbul pertanyaan: apakah proyek ini layak menjadi prioritas?
PERMINTAAN Presiden Prabowo Subianto agar gedung Dewan Perwakilan Rakyat dan Mahkamah Agung di Ibu Kota Nusantara (IKN) didesain ulang merupakan bukti nyata kebiasaannya bermain kata-kata soal penghematan keuangan negara. Di tengah kondisi anggaran negara yang sedang cekak, dia semestinya tak perlu sungkan untuk menyetop megaproyek karya Joko Widodo yang tidak jelas manfaatnya bagi rakyat itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Prabowo berencana terus melanjutkan proyek IKN dan meminta agar desain gedung badan legislatif dan yudikatif dibuat lebih modern dengan tetap mencerminkan ciri khas Indonesia. Bukan hanya soal perbaikan bentuk, dia juga ingin desain interior gedung sidang paripurna DPR diubah dengan dilengkapi galeri atau museum di area lobi. Pemanfaatan panel surya pada gedung perkantoran dua lembaga itu juga diminta ditingkatkan dari 4 persen menjadi 11 persen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Permintaan Prabowo tersebut bisa saja sebagai upayanya menyenangkan hati Jokowi. Atau, sebaliknya, strateginya untuk secara halus membatalkan proyek mercusuar itu. Namun rencana tersebut tidak otomatis mengabaikan keadaan keuangan negara yang sedang kembang-kempis. Prabowo memerintahkan pemangkasan anggaran Rp 300 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025.
Tak cukup itu, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut juga berencana melanjutkan pemotongan anggaran hingga Rp 750 triliun pada tahun ini. Konsekuensinya, banyak kementerian dan lembaga guncang dan dapat mengganggu pelayanan publik. Pemotongan anggaran itu berdampak pada pembangunan infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat, seperti jalan, sarana irigasi, serta ketahanan pangan nasional.
Prabowo semestinya paham bahwa proyek karya Jokowi tersebut terus menyedot anggaran. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menetapkan anggaran Rp 48,8 triliun untuk pembangunan IKN tahap kedua periode 2025-2029. Pada periode sebelumnya, 2022-2024, pemerintah telah menghabiskan Rp 75,8 triliun. Rinciannya, pada 2022 sebesar Rp 5,5 triliun, pada 2023 sebesar Rp 27 triliun, dan pada 2024 sebesar Rp 43,3 triliun. Jika ditotal, anggaran pembangunan IKN telah mencapai Rp 124,6 triliun.
Tidak semestinya proyek yang disiapkan secara serampangan ini dibiarkan memakan anggaran negara dalam jumlah besar. Soal desain, misalnya, proyek IKN juga centang perenang. Pada Maret 2024, presiden saat itu, Joko Widodo, meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono merevisi desain Istana Wakil Presiden. Akibatnya, Kementerian PUPR melelang ulang pembangunan Istana Wakil Presiden. Sebelumnya, Istana Wakil Presiden masuk pengadaan pembangunan sarana-prasarana pemerintahan II IKN pada 4 Juli-12 September 2023. Pagu anggarannya Rp 1,65 triliun. Namun pengadaan tersebut dibatalkan.
Keputusan untuk tetap mengutamakan pembangunan IKN di tengah kebijakan efisiensi menimbulkan pertanyaan besar: apakah proyek ini memang menjadi prioritas? Jika efisiensi benar-benar menjadi tujuan utama, seharusnya anggaran untuk IKN dialihkan ke sektor yang lebih mendesak dan berdampak langsung bagi masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.
Biarlah proyek IKN jadi nomor sekian dan bahkan mungkin lebih baik dihentikan saja. Apalagi proyek IKN menghadapi tantangan dalam menarik investasi swasta. Meskipun beberapa investor telah menunjukkan komitmen, realisasi investasi masih jauh dari harapan. Realisasi investasi hingga 2024 hanya Rp 58,4 triliun, jauh di bawah targetnya senilai Rp 100 triliun.
Dari perjalanan proyek dan janji-janji manis Jokowi soal minat investor, sulit berharap proyek tersebut akan berjalan. Terbukti realisasi pembangunan di IKN meleset jauh dari target. Misalnya, komitmen investasi pembangunan mal dan hotel serta pembangunan Nusantara Superblock yang masih tersendat. Meski Otorita IKN beralasan ketersendatan itu masih dalam koridor perjanjian kerja sama, boleh jadi para investor memang ragu sehingga mereka mengulur-ulur waktu. Apalagi para investor diperbolehkan menunda pembangunannya hingga satu setengah tahun sejak melakukan groundbreaking investasi.
Dalam situasi ekonomi yang tak menentu, menggelontorkan anggaran untuk proyek IKN sangat tidak bijaksana. Prabowo tidak perlu terjebak pada ambisi pendahulunya, Jokowi. Sikap rasional dalam mengelola anggaran merupakan prioritas penting demi menjaga kesehatan ekonomi. ●