Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendapat

Konservasi Orangutan di Sumatera: Antara Tantangan dan Peluang

Data dasar yang terbarukan sangat berguna untuk melahirkan kebijakan dan strategi pengelolaan konservasi orangutan di Sumatra yang efektif.

22 Agustus 2022 | 15.30 WIB

Salah satu dari sembilan orangutan berada di dalam kandang disaat Repatriasi Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dari Malaysia ke Indonesia, di Terminal Kargo Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat 18 Desember 2020. Sebanyak sembilan ekor orangutan asal Indonesia terdiri dari empat ekor jantan dan lima ekor betina yang dirawat di National Wildlife Rescue Center Perak Malaysia direpatriasi ke Indonesia, dan selanjutnya dilakukan perawatan dan rehabilitasi di pusat karantina orangutan Sibolangit sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitatnya. ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Perbesar
Salah satu dari sembilan orangutan berada di dalam kandang disaat Repatriasi Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dari Malaysia ke Indonesia, di Terminal Kargo Bandara Kualanamu Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat 18 Desember 2020. Sebanyak sembilan ekor orangutan asal Indonesia terdiri dari empat ekor jantan dan lima ekor betina yang dirawat di National Wildlife Rescue Center Perak Malaysia direpatriasi ke Indonesia, dan selanjutnya dilakukan perawatan dan rehabilitasi di pusat karantina orangutan Sibolangit sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitatnya. ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Status konservasi dua spesies kera besar endemik pulau Sumatera: orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), masuk dalam kategori Sangat Terancam Punah (Critically Endangered) menurut Daftar Merah (Redlist) IUCN. Penetapan status tersebut berdasarkan pada ukuran (kelimpahan dan sebaran) populasi yang cenderung menurun dan diprediksi akan berkurang sebesar 80% di masa mendatang (Nowak et al. 2017; Singleton et al. 2017). Saat ini diperkirakan kurang dari 14.000 individu orangutan Sumatera dan tidak lebih dari 800 individu orangutan Tapanuli tersebar di habitat alaminya (Wich et al. 2016).

Populasi orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli saat ini diketahui tersebar di sedikitnya 10 kantong habitat di seluruh Sumatera. Habitat utama bagi populasi orangutan Sumatera antara lain adalah Kawasan Ekosistem Leuser, Jantho, dan Bukit Tigapuluh. Sementara itu Orangutan Tapanuli diketahui hanya tersebar di kawasan ekosistem Batang Toru. Keberlangsungan populasi-populasi ini menghadapi  tantangan terutama adanya faktor-faktor tekanan terhdap habitat. dan konflik dengan manusia (Gaveau et al. 2009; Nijman 2017; Wich et al. 2016, 2019).

Tantangan Konservasi

Data yang akurat dan terbarukan sebagai salah satu elemen mendasar dalam pengambilan kebijakan dan penentuan strategi pengelolaan populasi/habitat orangutan yang efektif dalam upaya konservasi orangutan di Sumatera. Hal ini karena ketersediaan data dasar (populasi dan habitat) mutlak diperlukan dalam menganalisis, mengevaluasi dan menyusun langkah konservasi yang tepat dengan mendeterminsai sejauh mana populasi-populasi yang ada (existing) memenuhi kriteria Minimum Viable Population atau ukuran populasi minimum untuk keberlangsungan di masa mendatang (Brook et al. 2006). Hal tersebut akan membantu mengidentifikasi tren populasi dan sebarannya. Misalnya, membantu menjawab pertanyaan apakah telah terjadi penurunan atau pertambahan populasi dan di habitat mana saja perubahan tersebut terjadi. Di samping itu juga dapat membantu menjawab apa saja faktor-faktor penyebab kecenderungan atau perubahan-perubahan tersebut. 

Tantangan lain yang dihadapi dalam upaya pelestarian orangutan di Sumatera (terutama orangutan Tapanuli), adalah adanya populasi-populasi yang terisolasi di habitat-habitat dengan daya dukung yang terbatas. Misalnya, kantong populasi orangutan Tapanuli di bagian barat dengan kantong populasi di bagian timur ekosistem Batang Toru . Masing-masing populasi ini teriosalasi karena habitatnya tidak saling terhubung (Wich et al. 2016).

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan tanpa intervensi konservasi, maka potensi kepunahan lokal akan meningkat. Hal ini disebabkan adanya risiko penurunan viabilitas populasi misalnya akibat terjadinya tekanan inbreeding (perkawinan sedarah). Faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan risiko kepunahan lokal ini adalah penurunan populasi akibatnya tingginya angka konflik yang tidak tertanggulangi.

Peluang 

Sejauh ini, berbagai inisiatif konservasi orangutan di Sumatera memanfaatkan data populasi dan habitat yang terkonsolidasi di dalam PHVA tahun 2016, dimana diketahui masih terdapat beberapa kesenjangan data pada dokumen tersebut. Hasil kajian awal yang dilakukan sebuah organisasi yang bergiat pada konservasi orangutan di Sumatera, diketahui bahwa di beberapa wilayah di Sumatera Utara mengindikasikan adanya kemungkinan keberadaan orangutan di luar 10 kantong populasi yang telah diketahui. . Indikasi awal keberadaan populasi-populasi orangutan di luar peta distribusi terakhir (berdasarkan PHVA 2016), membuka peluang untuk dilakukan pemutakhiran/pembaruan data melalui kajian yang lebih komprehensif dan akurat.

Sejalan dengan kemungkinan pembaruan data populasi orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli di luar area sebaran yang terakhir diketahui, upaya lain yang mungkin dilakukan adalah mengidentifikasi habitat-habitat potensial sebagai lokasi translokasi orangutan yang terdampak konflik dengan manusia. Hal ini merujuk pada fakta bahwa translokasi masih menjadi salah satu solusi dalam penanggulangan atau mitigasi konflik manusia dan orangutan. Fakta lain yang terungkap melalui survei yang dilakukan di Kawasan Ekosistem Batang Toru melibatkan lebih dari 700 responden, menunjukkan bahwa wilayah ini masih rawan terhadap konflik manusia dan orangutan. Konflik tertinggi tercatat di Kabupaten Tapanuli Selatan (57%), diikuti oleh Kabupaten Tapanuli Utara (38%) dan Kabupaten Tapanuli Tengah (5%). Situasi ini sejalan dengan kondisi populasi yang terisolasi. Oleh karena itu upaya konservasi berikutnya yang mungkin dilakukan adalah dengan mendorong kebijakan pengelolaan koridor ekologis untuk memastikan konektifitas habitat antara populasi-populasi yang tersiolasi.

Pada akhirnya, data dasar yang terbarukan sangat berguna untuk mengetahui bagaimana dinamika populasi yang terjadi pada suatu habitat tertentu dan untuk menentukan aspek-aspek pengelolaan yang terkait dengan kecenderungan tersebut. Berangkat dari hal tersebut, kebijakan dan strategi pengelolaan konservasi orangutan di Sumatera yang efektif diharapkan akan lahir. Semoga.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus