Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Lingkungan

Kisah Salju Abadi Carstensz Pyramid yang Dianggap Bohong di Eropa Selama 2 Abad

Salju abadi di Carstensz Pyramid sempat dianggap hoaks oleh masyarakat Eropa. Setelah dua abad hal itu baru terverifikasi.

4 Maret 2025 | 09.22 WIB

Puncak Carstensz Pyramid pada 2015. Foto: Istimewa
Perbesar
Puncak Carstensz Pyramid pada 2015. Foto: Istimewa

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Carstensz Pyramid, atau Puncak Jaya, yang terletak di Pegunungan Jayawijaya, Papua, termasuk dalam Seven Summits of Indonesia, yaitu tujuh puncak tertinggi di Tanah Air. Dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl), puncak ini menjadi impian bagi banyak pendaki.

Selain Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya juga memiliki dua puncak gunung lainnya, yaitu Puncak Mandala dengan ketinggian 4.760 mdpl dan Puncak Trikora yang mencapai 4.751 mdpl.

Nama Carstensz diambil dari nama Jan Carstenszoon, pendaki Belanda yang pertama kali mendaki gunung ini dan menemukan salju di puncaknya, meski sulit dipercaya karena Papua beriklim tropis. Pada 1963, bersamaan dengan bergabungnya Papua ke Indonesia, nama puncak ini berubah menjadi Puncak Soekarno, lalu Puncak Jaya. Namun, di kalangan pendaki, nama Carstensz masih populer digunakan.

Bagaimana sejarah pergantian namanya hingga tetap dikenal sebagai Carstensz di kalangan pendaki? Simak selengkapnya di sini!

Dilansir dari buku 9 Puncak Seven Summits karya Anton Sujarwo, Jan Carstenszoon, atau lebih dikenal sebagai Jan Carstensz, adalah seorang penjelajah asal Belanda pada abad ke-17. Pada 1623, ia memimpin ekspedisi yang ditugaskan oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda untuk menjelajahi pantai selatan Nugini dan wilayah sekitarnya. Ekspedisi ini bertujuan untuk menindaklanjuti laporan Willem Janszoon yang sebelumnya menemukan daratan baru pada 1606.

Carstenszoon berlayar dari Ambon dengan dua kapal, Pera yang ia kapteni sendiri, dan Arnhem yang dipimpin oleh Willem Joosten van Colster. Ekspedisinya menjelajahi pesisir selatan Nugini sebelum berbelok ke arah selatan menuju Semenanjung Cape York dan Teluk Carpentaria. Selama pelayaran ini, ia berinteraksi dengan penduduk asli Australia dan mencatat pengamatannya tentang kehidupan mereka. Pada 8 Mei 1623, Carstenszoon bahkan terlibat pertempuran dengan sekitar 200 penduduk Aborigin di muara sungai dekat Tanjung Duyfken.

Salah satu penemuan penting Carstenszoon adalah pengamatan gletser di puncak pegunungan di Papua Tengah, yang ia sebut Sneebergh atau "Gunung Salju". Saat kembali ke Eropa dan melaporkan temuannya tentang salju di daerah tropis, ia ditertawakan karena dianggap tidak masuk akal.

Menurut pemahaman ilmiah saat itu, salju tak mungkin ada di wilayah tropis khatulistiwa. Kesaksian Carstenszoon pun dianggap sebagai banyolan selama dua abad lamanya. Hingga akhirnya, pada 1909, Hendrik Albert Lorenz, seorang penjelajah Belanda menyaksikan sendiri padang salju. Kesaksian Carstenszoon bukanlah sebuah bualan. Kesaksian Lorenz memverifikasi temuan Carstenszoon. 

Puncak ini merupakan salah satu keajaiban alam di Papua. Meskipun dikenal sebagai wilayah tropis, pulau paling timur Indonesia ini memiliki gunung tertinggi yang diselimuti salju abadi. Namun, lapisan salju tersebut terus menyusut dari tahun ke tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memantau fenomena ini selama beberapa tahun terakhir dan memperingatkan bahwa pencairan "salju abadi" semakin mengkhawatirkan.

Carstensz Pyramid tidak hanya menjadi puncak tertinggi di Indonesia, tetapi juga termasuk dalam World Seven Summits, yaitu jajaran puncak tertinggi yang mewakili setiap benua. Menurut Britannica, daftar World Seven Summits mencakup Kilimanjaro di Afrika, Gunung Elbrus di Eropa, Denali di Amerika Utara, Gunung Aconcagua di Amerika Selatan, Everest di Asia, Vinson Massif di Antartika, Kosciuszko di Australia, serta Puncak Jaya di Oseania.

Selain itu, Carstenszoon juga menamai beberapa lokasi sepanjang pesisir utara Australia, termasuk Sungai Carpentier dan Teluk Carpentaria, sebagai penghormatan terhadap Pieter de Carpentier, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Penjelajahannya memberikan kontribusi besar dalam pemetaan wilayah Nusantara dan Australia, meskipun banyak penemuannya baru diakui bertahun-tahun setelahnya.

Mila Novita dan Hari Suroto turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 

Pilihan Editor: Bagaimana Proses Perizinan Mendaki Puncak Pegunungan Carstenz?

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus