Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Setiap pemerintahan berganti, Tempo selalu menyiapkan edisi khusus 100 hari pemerintahan. Di Tempo, edisi khusus menjadi beban tersendiri. Sebab, kami harus mempersiapkan bahan tulisan yang baru, informatif, dan bercerita. Itu sebabnya, agar pengejaran maksimal, edisi khusus dipersiapkan jauh-jauh hari dari waktu tayang. Bahkan bisa berbulan-bulan lamanya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Semua dimulai dari penentuan topik–FYI, tema edisi khusus 17 Agustus 2025 sudah kami tentukan pada November 2024. Dalam rapat redaksi yang membahas 100 hari Prabowo-Gibran berkuasa, kami berdiskusi tulisan apa yang akan kami sajikan untuk Anda sekalian. Tulisan yang harus muncul di majalah Tempo adalah in-depth story atau cerita mendalam sekaligus tajam.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kami melihat Presiden Prabowo punya tangan-tangan yang menopang kekuasaannya. Mereka tentu orang kepercayaannya yang ditempatkan di posisi strategis. Hal yang lazim untuk siapa pun yang berkuasa. Jokowi punya Pratikno yang menjadi operator politiknya. Sudi Silalahi menjadi tangan kanan Susilo Bambang Yudhoyono. Pratikno dan Sudi menjabat Sekretaris Negara.
Berbekal informasi yang sudah didapat sebelumnya dari orang-orang di lingkaran kekuasaan, kami mengetahui bahwa Prabowo setidaknya punya empat orang dekat. Mereka adalah Sekretaris Kabinet Mayor Teddy Indra Wijaya, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo.
Mencari informasi soal peran mereka enggak susah-susah amat, meski juga tidak gampang. Tapi mencari narasumber yang mau bercerita on the record, harus diakui kami mengalami berbagai kesulitan. Umumnya, para narasumber tak berani terang-terangan bercerita. Mau tapi takut. Perlu meyakinkan mereka agar mau memberikan informasi, yang setelah itu kami verifikasi.
Dalam kondisi regresi demokrasi, banyak orang merasa terancam untuk berbicara dengan bebas. Wartawan Desk Nasional Tempo Egi Adyatama, misalnya, kelimpungan mencari narasumber yang mau identitasnya ditulis untuk menggambarkan peran Mayor Teddy di pemerintahan Prabowo. Padahal ceritanya sudah didapat dari banyak narasumber.
Setiap kali melaporkan perolehan bahan liputan, jurnalis asal Garut, Jawa Barat, itu selalu bilang, “Belum ada yang on (the record). Masih diupayakan.” Menjelang tenggat, keberuntungan baru datang. Egi mendapat cerita on the record soal peran Teddy dari seorang narasumber yang mengalami konflik dengan pejabat pemerintahan.
Begitu pula Francisca Christy Rosana alias Cica yang ditugaskan menulis cawe-cawe Jokowi di pemerintahan Prabowo. Ia mendapat informasi beberapa mantan bawahan Jokowi yang kini jadi menteri di kabinet Prabowo diam-diam datang ke rumah Jokowi di Solo. Dalam wawancara pada hari deadline, Cica ketiban hoki. Ia mendapatkan narasumber dan informasi yang dibutuhkan.
Pembaca, dalam edisi khusus 100 hari Prabowo-Gibran, kami melengkapi informasi dengan diskusi bersama sejumlah ahli. Tujuannya, memberikan informasi dan evaluasi pemerintahan Prabowo yang komprehensif. Anda juga bisa menyaksikan evaluasi pemerintahan Prabowo di tayangan Bocor Alus Politik. Selamat membaca.