SUATU hari, seusai mengikuti Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Adam Malik, kabarnya sempat berbincang-bincang dengan orang kuat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, mengenai keinginan organisasi itu membuka kantor perwakilan di Jakarta. Konon Adam, waktu itu masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia, menjawab, "Itu bisa diatur. Semua rumah rakyat Indonesia sesungguhnya adalah kantor perwakilan PLO." Jawaban Adam, meski bombastis, ada benarnya. PLO memang mendapat tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Sejak dulu sudah ada ikatan "batin" antara rakyat Indonesia dan negeri Palestina. Bukankah Yerusalem, yang sekarang dijadikan ibu kota negara Israel itu, adalah kota suci bagi pemeluk agama Islam maupun Kristen ? Tak heran, begitu Arafat memproklamasikan negara merdeka Palestina di depan peserta sidang Dewan Nasional Palestina di Kota Aljir tiga minggu lalu, Menteri Luar Negeri Ali Alatas segera menyatakan pengakuan terhadap negara baru tersebut. Indonesia adalah negara kesebelas yang mengakui negara Palestina merdeka. Bagi TEMPO, PLO juga mendapat halaman tersendiri. Organisasi Pembebasan Palestina itu merupakan lahan berita yang tak pernah kering. Selama 17 tahun usia TEMPO, sudah berkali-kali kami menulis cerita mengenai PLO -- ada dalam bentuk Laporan Utama (tujuh kali), ada dalam bentuk Selingan (enam kali), dan ada berupa berita satu halaman sampai cerita satu kolom. Bahkan, wartawan kami, Praginanto, pernah mewawancarai Arafat di markas PLO -- suatu tempat yang dirahasiakan di luar Kota Tunis. Kalau kami sering menulis Laporan Utama mengenai PLO semata-mata karena berita-berita menyangkut organisasi itu, sesuai dengan kriteria layak TEMPO, patut untuk diinformasikan kepada pembaca. Di situ ada unsur kehangatan, ada unsur relevan, ada unsur dramatik, ada unsur tokoh, ada unsur informatif, ada unsur misi, sampai unsur prestisius -- dua unsur terakhir lebih menyangkut kepentingan kami. Begitu seringnya kami memuat berita-berita mengenai PLO, hampir semua anggota Redaksi TEMPO, di luar penanggung jawab rubrik Luar Negeri, kebagian menuliskannya. Untuk menyiapkan Laporan Utama minggu ini, misalnya, Praginanto, yang sekarang menjabat jabrik Luar Negeri, dibantu oleh A. Dahana dan Zaim Uchrowi. Meski banyak di antara pembaca TEMPO punya hubungan "batin" dengan Palestina, tak berarti setiap terbit kami menurunkan cerita mengenai PLO. Tak jarang berita-berita tentang PLO tersisih oleh kejadian-kejadian menarik dari kawasan lain, terutama negara-negara anggota ASEAN, yang juga patut untuk diinformasikan kepada Anda semua. Unsur geografis termasuk salah satu hal yang juga kami pertimbangkan dalam memilih topik-topik untuk rubrik Luar Negeri. "Politik luar negeri" TEMPO memang sesuai dengan minat pembaca, umumnya. Maka, kami hampir tak pernah menulis tentang apa yang terjadi di Irlandia, misalnya, walaupun TVRI dulu sering menayangkannya. Soal-soal Dunia Ketiga, yang cocok dengan latar Indonesia, kami utamakan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini