Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Penyebab Ayam Jantan Suka Berkelahi dan Jejak Sejarah Sabung Ayam

Di kitab Pararaton mengisahkan bahwa Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari pada abad ke-13, awalnya dikenal sebagai seorang tukang sabung ayam.

29 Maret 2025 | 15.13 WIB

Pelaku sabung ayam di depok. TEMPO/Seno Aji
Perbesar
Pelaku sabung ayam di depok. TEMPO/Seno Aji

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Ramai kasus judi sabung ayam di Lampung yang menyebabkan tiga polisi tewas ditembak oleh dua anggota TNI semakin menjadi perbincangan hangat. Ayam, yang biasanya dibudidayakan untuk produksi daging dan telur, telah lama digunakan dalam adu laga sebagai hiburan dan perjudian sejak berabad-abad yang lalu. Lalu apa sebenarnya yang diperjuangkan ayam jantan ketika berkelahi?

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurut tulisan Dr. Jacqueline Jacob di situs Poultry Extension, yang dikelola oleh Departemen Ilmu Ternak dan Pangan Universitas Kentucky, Amerika Serikat, diketahui bahwa ayam mulai bertarung untuk menentukan hierarki kekuasaan sejak berusia 16 hari setelah menetas.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Pertarungan yang dimulai sejak usia dini di antara anak ayam sering berlanjut hingga mereka dewasa. Namun, jika seekor ayam jantan merasa tidak puas dengan posisinya dalam kelompok, ia dapat menantang ayam jantan lain, memicu perkelahian baru. Hal ini menunjukkan jika ayam jantan berkelahi berkaitan dengan faktor penentuan urutan kekuasaan.

Selain itu, pertarungan lebih sering terjadi ketika ayam baru diperkenalkan ke dalam kelompok dan harus menemukan posisinya dalam hierarki atau ketika ayam yang telah lama absen kembali ke kawanan. Persaingan untuk mendapatkan makanan juga menjadi faktor penting yang dapat memicu perkelahian di antara ayam dalam kawanan.

Perubahan warna atau pola pada tubuh ayam juga dapat mempengaruhi dinamika kelompok. Perubahan yang mencolok, terutama di area kepala dan leher, dapat menyebabkan kesulitan dalam pengenalan oleh ayam lain. Meskipun ayam memiliki berbagai cara untuk mengenali sesamanya, perubahan tersebut dapat menghambat identifikasi, terutama saat ayam yang telah dimodifikasi kembali ke dalam kawanan. Ayam umumnya mampu mengenali sekitar 30 ekor lainnya dalam kelompoknya.

Sejarah Sabung Ayam di Nusantara

Dikutip dari indonesia.go.id, pada awal April 1958, Clifford James Geertz dan istrinya, yang saat itu sedang melakukan penelitian lapangan sebagai antropolog, mengunjungi sebuah desa terpencil di Bali. Geertz, yang kemudian dikenal luas melalui karyanya Negara: The Theatre State in Nineteenth Century Bali, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan polisi yang datang untuk menggerebek acara judi sabung ayam di desa tersebut.

Kehadiran aparat membuat semua orang panik dan berlarian, termasuk Geertz dan istrinya. Namun, pengalaman ini justru membantunya lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. Sebagai seorang peneliti etnografi, ia tidak hanya berhasil memahami kehidupan sosial masyarakat Bali secara lebih mendalam, tetapi juga menemukan makna yang tersembunyi di balik ritual sabung ayam yang mereka lakukan.

Pengalaman tersebut kemudian diabadikan dalam esainya yang terkenal, Deep Play: Notes on The Balinese Cockfight. Esai ini menjadi salah satu artikel penting dalam bukunya, The Interpretation of Culture: Selected Essays. Dalam tulisannya, Geertz menyimpulkan bahwa meskipun tampaknya hanya ayam-ayam yang bertarung di arena, sejatinya yang sedang berhadapan adalah manusia-manusia yang terlibat dalam dinamika sosial dan simbolisme budaya mereka.

Dalam membahas latar sejarah sabung ayam, Ani Rachmat dan Agusmanon Yuniadi (2018) dalam artikelnya Simbolisme Ayam Jago dalam Pembangunan Kultural Masyarakat Kabupaten Cianjur, serta I Wayan Gede Saputra K.W (2016) dalam Sabung Ayam Pada Masyarakat Bali Kuno Abad IX-XII, sampai pada kesimpulan yang serupa. Sejalan dengan pandangan Geertz, mereka menegaskan bahwa praktik sabung ayam di Bali telah ada sejak abad ke-10. Rachmat dan Yuniadi mendasarkan temuan mereka pada Prasasti Sukawana dan Prasasti Batur Abang, sementara Saputra merujuk pada Prasasti Trunyan dan Prasasti Sembiran.

Adapun pada kitab Pararaton mengisahkan bahwa Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari pada abad ke-13, awalnya dikenal sebagai seorang tukang sabung ayam. Tradisi ini bahkan menjadi latar belakang peristiwa politik besar ketika Anusapati, penguasa Singasari, dibunuh oleh adik tirinya, Tohjaya, di tengah acara sabung ayam.  

Di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk (1350–1389) justru memakai nama "Ayam yang Terpelajar" (Hayam Wuruk), meski kebanyakan pejabat kerajaan saat itu menggunakan nama hewan besar seperti kerbau (Kebo Anabrang) atau gajah (Gajah Mada). Ini menunjukkan bahwa meski ayam bukan hewan yang dianggap perkasa seperti gajah atau kerbau, namanya justru dipakai oleh salah satu raja terbesar Majapahit.  

Di Sulawesi sendiri, sabung ayam bahkan memicu konflik politik antara Kerajaan Bone dan Gowa pada 1562. Ketika Raja Gowa X, Tunipalangga Ulaweng, berkunjung ke Bone, perhelatan sabung ayam (massaung manu) diadakan sebagai hiburan. Raja Gowa mempertaruhkan 100 kati emas, sementara Raja Bone, La Tenrirawe Bongkange’, mempertaruhkan satu kampung (orang panyula). Peristiwa ini menunjukkan betapa sabung ayam bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana diplomasi hingga pemicu perang di masa lalu.  

Putu Setia dan Zulkifli Ramadhani ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Sabung Ayam di Lampung Berujung Maut: Ini Sederet Faktor di Balik Ayam Jantan Sering Berkelahi

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus