Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Berita Tempo Plus

Hubungan Puisi dan Pantun dalam Sastra Melayu Lama

Hasan Aspahani

Hasan Aspahani adalah penulis puisi, cerpen, novel, esai, dan biografi. Ia anggota Dewan Kesenian Jakarta.

Pantun punya daya hidup melampaui zaman. Bagaimana sastra Melayu lama itu menjadi inspirasi estetis dan sumber penciptaan puisi?

25 Januari 2025 | 12.00 WIB

Sutan Takdir Alisjahbana, Jakarta, 1984. Dok. TEMPO/EH Kartanegara
Perbesar
Sutan Takdir Alisjahbana, Jakarta, 1984. Dok. TEMPO/EH Kartanegara

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Sutan Takdir Alisjahbana pernah menyindir puisi ala pantun dan syair sebagai dreun, ulangan bunyi tiada bermakna.

  • Sastra Melayu lama itu punya daya hidup yang melampaui zaman.

  • Pada abad ke-19, syair, pantun, dan gurindam telah menjadi satu bentuk yang mapan.

Pantun kini makin populer di kalangan pejabat. Dalam setiap pidato mereka, para pejabat tak lupa menyelipkan pantun, terutama pada awal dan akhir pidato. Tak hanya itu, kegiatan-kegiatan pantun pun makin sering diadakan. Terbaru adalah Festival Pantun Nusantara di Taman Indonesia Indah pada 21-22 Desember 2024. 

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus