Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Film

Wawancara Sha Ine Febriyanti: Stigma Kesehatan Mental dan Alasan ke Psikolog Bukan Hal Tabu

Sha Ine Febriyanti menekankan perlunya mencari bantuan psikolog adalah hal yang wajar, sejalan dengan tema dalam Mungkin Kita Perlu Waktu.

24 Maret 2025 | 09.05 WIB

Aktris Sha Ine Febriyanti ketika media visit film "Mungkin Kita Perlu Waktu" di kantor Tempo, Jakarta, 18 Maret 2025. Tempo/Fajar Januarta
Perbesar
Aktris Sha Ine Febriyanti ketika media visit film "Mungkin Kita Perlu Waktu" di kantor Tempo, Jakarta, 18 Maret 2025. Tempo/Fajar Januarta

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Aktris, Sha Ine Febriyanti berbagi kisah bagaimana cara menghadapi kehilangan. Memang bukan perkara mudah. Setiap individu mempunyai cara masing-masing dalam menyembuhkan luka, baik melalui pendekatan spiritual, dukungan keluarga, maupun bantuan profesional. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, masih ada stigma yang melekat pada mereka yang memilih pergi mencari bantuan ahli seperti ke psikolog.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu, ada satu adegan yang terasa dekat dengan realitas banyak orang: ketika karakter utama harus memilih antara mencari pertolongan psikologis atau menyerahkan segalanya pada kepercayaan atau agama. Dilema ini bukan sekadar bumbu cerita, tapi cerminan nyata dari perdebatan di masyarakat—apakah kesehatan mental harus didekati secara ilmiah, spiritual, atau justru diabaikan?

Ditemui di kantor Tempo, pada Selasa, 18 Maret 2025, aktris Sha Ine Febriyanti menyoroti realitas ini melalui perannya sebagai Kasih dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu. Sebagai ibu yang berduka atas kepergian anaknya, Kasih memilih berpegang pada keyakinan spiritual, sementara putranya, Ombak (Bima Azriel), mencoba mencari jalan keluar dengan bantuan psikolog. Konflik batin inilah yang menjadikan film garapan Teddy Soeriaatmadja terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata.

Aktris peraih Piala Citra itu melihat film ini bukan hanya drama keluarga, tapi juga refleksi sosial tentang bagaimana trauma sering kali dibiarkan mengendap tanpa penanganan yang tepat. Sha Ine menilai, tak ada satu cara yang benar atau salah dalam menghadapi trauma. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menerima keadaan dan menemukan cara terbaik untuk bangkit.

Dalam wawancara berikut, pemeran Bu Parni dalam film Budi Pekerti (2023) ini juga berbagi pandangannya tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, persiapan peran, serta bagaimana ia memaknai keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam menghadapi tantangan mental.

Apa alasan Anda mengambil peran Kasih dalam film ini? 

Salah satu alasannya adalah karena Teddy. Dia adalah salah satu sutradara yang sangat ingin saya ajak bekerja sama. Saya sudah ingin diajak Teddy dari lama, dia itu salah satu sutradara incaran. Karena dia oke banget, dia menulis sendiri (skenarionya), ketika nge-direct juga, arahannya menarik dan cerdas. Jadi, saya melihat sutradaranya.

Bagaimana perbedaan karakter Kasih di film ini dibandingkan peran-peran Anda sebelumnya? Terutama film yang sama-sama mengangkat isu psikologis?

Yang menarik dari film ini, justru pengarahan untuk saya (akting) tidak sekeras film-film sebelumnya. Biasanya butuh waktu sekitar dua bulan untuk riset, tapi kali ini, karena Teddy sendiri yang menulis dan nge-direct, dia tahu betul apa yang dia inginkan. Dia memantik potensi yang ada pada saya, yang diperlukan saja. 

Jadi, dia gak perlu banyak bicara, cukup 'Gue butuh ini segini ya.' Jadi sebenarnya, untuk riset pasti ada proses membaca, tapi Teddy punya sistem yang menarik buat saya dalam mengarahkan pemainnya supaya semuanya efektif, nggak berlebihan.

Dalam film ini, kedua orang tua Ombak bisa dibilang bukan keluarga ideal dalam menangani trauma. Menurut Anda apakah mereka adalah orang tua yang gagal, atau justru korban? 

Mereka korban sebenarnya. Mereka juga orang-orang yang merasa gagal, merasa gagal untuk melampaui cobaan yang terjadi, melampaui sebuah kehilangan. Nah, masalahnya adalah sekarang ada tubrukan persepsi di dalam keluarga—dari anaknya, suaminya. Ada tiga persepsi yang bertubrukan, dan semuanya rumpang. Terus-menerus, lama-lama ini menggerogoti dan hancur. Jadi sebenarnya, persepsi ketiganya hancur. 

Lama-lama ya sudah, nggak bisa diselamatkan. Yang hanya bisa menyelamatkan adalah kebesaran hati kita untuk menerima itu. Menerima bahwa ‘gue sakit nih’. Menerima bahwa ‘gue nggak bisa, gue nggak mampu, gue minta tolong.’ Itu ternyata yang menyembuhkan. Begitu mengakui kelemahan—dalam karakter ini ya—semua akan terbuka jalannya.

Nilai parenting apa yang bisa diambil dari film ini? Menurut Anda, apa yang ingin disampaikan untuk orang tua baru? 

Mungkin soal komunikasi, ya. Dalam satu rumah tangga, kalau komunikasinya nggak sehat, itu pasti akan oleng. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang nggak selalu tampak di permukaan. Ada masalah yang tersembunyi, yang sangat tipis, tapi ternyata menggerogoti masing-masing orang di dalam keluarga. Itu yang akhirnya menjadi bom waktu pada saatnya. 

Mungkin film ini bukan parenting yang secara verbal memberi tahu, tapi lebih ke menunjukkan contoh bahwa ternyata komunikasi itu penting. Bahwa mengenali bahwa kita bermasalah itu penting.

Dalam salah satu adegan di teaser, ada sorotan tentang pilihan antara pendekatan kesehatan mental secara ilmiah atau pendekatan agama. Menurut Anda, apakah memilih di antara keduanya itu bijak? 

Saya pribadi, malah akan mengambil jalur spiritual. Bukan sekadar religi, karena religius itu belum tentu spiritual. Jadi, saya akan mengambil jalur itu. Tapi tiap orang berbeda-beda. Mungkin saya akan mengembangkan hobi, atau mencari jalan supaya saya merasa lebih bermakna dalam hidup ini. Masing-masing orang punya human design yang berbeda dalam merespons situasi seperti ini.

Film ini juga menyisipkan peran psikolog. Dari sisi nilai yang disampaikan, apakah Anda setuju bahwa pergi ke psikolog itu sesuatu yang wajar? 

Setuju, setuju banget. Kita harus menghormati pilihan orang. Kadang-kadang masih ada orang yang judgmental, padahal itu nggak penting. Itu pemikiran masa lalu, jadul. Sudah bukan zamannya menghina orang yang sakit mental. Kita harus lebih terbuka.

Apa yang membedakan film ini dari film-film lain yang mengangkat isu kesehatan mental

Saya berani mengatakan bahwa film ini ditangani oleh orang yang memang paham tentang psikologi. Teddy ini benar-benar paham detailnya, karena dia memang sekolah psikologi. Jadi dia tahu aksi dan reaksi yang tepat, sampai ke gestur harus bagaimana. Artinya, semua bisa dipertanggungjawabkan. 

Naskahnya sangat padat dan efektif, tapi subteksnya benar-benar dalam. Dari satu kalimat saja, ada pecahan subteks yang padat. Jadi, saya tahu bahwa sutradara dan penulisnya sangat paham. Karena banyak naskah bagus, tapi nggak make sense (masuk akal), nggak ada logika karakternya. Nah, itu nggak terjadi di naskahnya Teddy. Layer-nya banyak, dan itu yang seru.

Adinda Jasmine

Bergabung dengan Tempo sejak 2023. Lulusan jurusan Hubungan Internasional President University ini juga aktif membangun NGO untuk mendorong pendidikan anak di Manokwari, Papua Barat

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus