Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Rusuh Tersulut Ucapan Politisi India yang Dinilai Hina Nabi

Kerusuhan meletus di India, dipicu pernyataan politisi yang disebut penghina Nabi Muhammad. Bagaimana pangkal mulanya?

14 Juni 2022 | 17.04 WIB

Warga memasang bendera nasional India sebelum protes menuntut penangkapan anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) Nupur Sharma atas komentarnya yang menghujat Nabi Muhammad, di Kolkata, India, 7 Juni 2022. REUTERS/Rupak De Chowdhuri
Perbesar
Warga memasang bendera nasional India sebelum protes menuntut penangkapan anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) Nupur Sharma atas komentarnya yang menghujat Nabi Muhammad, di Kolkata, India, 7 Juni 2022. REUTERS/Rupak De Chowdhuri

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Unjuk rasa yang diwarnai kekerasan terjadi sejumlah daerah di India. Protes oleh umat Muslim diawali dari ucapan politisi India, Nupur Sharma yang dinilai menghina Nabi Muhammad dan Aisyah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sekitar 400 orang telah ditangkap sejak Jumat lalu, karena dituduh terlibat kerusuhan. Demonstrasi meletup mulai dari Delhi, Uttar Pradesh, Jharkhand, Karnataka, Benggala Barat, Telangana, Madhya Pradesh, Gujarat, Bihar, dan Hyderabad.

Protes diwarnai dengan kekerasan terjadi di semua negara bagian. Para demonstran melemparkan batu dan membakar beberapa kendaraan, termasuk sepeda motor serta mobil polisi. Untuk meredakan kerusuhan, polisi menggunakan pentungan dan gas air mata di sebagian besar negara bagian.

Dua pengunjuk rasa tewas setelah ditembak polisi di Ranchi, pada Jumat. Kedua korban adalah Mudasir, remaja pria berusia 14 tahun dan Sahil Ansari, 19 tahun. Mereka ditembak setelah salat Jumat.

Dua hari setelahnya, pihak berwenang di negara bagian Uttar Pradesh, menghancurkan rumah beberapa orang yang dituduh terlibat dalam kerusuhan setelah demo menentang penghinaan Nabi Muhammad pekan lalu. Kepala menteri negara bagian Uttar Pradesh, Yogi Adityanath, memerintahkan penghancuran tempat-tempat ilegal dan rumah orang-orang yang dituduh terlibat dalam kerusuhan menyusul demo menentang penghinaan Nabi Muhammad.

Rumah seorang terduga dalang kerusuhan, yang putrinya adalah seorang aktivis hak-hak Muslim perempuan, dihancurkan di tengah kehadiran polisi pada hari Minggu. Properti dua orang lagi yang dituduh melempar batu setelah salat Jumat dihancurkan juga di negara bagian itu.

Polisi menangkap pula seorang YouTuber dari Kashmir, Faisal Wani karena memposting video yang menunjukkan dia memenggal patung politisi perempuan Nupur Sharma. Polisi mengatakan bahwa video itu telah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Kerusuhan dipicu oleh pernyataan politisi partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP), Nupur Sharma di sebuah stasiun televisi tentang Nabi Muhammad dan istrinya Aisyah. Ucapannya itu dinilai melukai umat Muslim hingga mendapat reaksi keras dari negara-negara Arab.

Usai pernyataan Nupur Sharma yang disebut penghina Nabi Muhammad, Partai Baharatiya Janata atau BJP pun menangguhkan jabatannya sebagai juru bicara hingga penyelidikan polisi selesai digelar. BJP juga memecat pemimpin lain, Naveen Kumar Jindal, karena komentarnya, yang menyebabkan pertikaian diplomatik dengan beberapa negara Muslim.

Selama bertahun-tahun, Muslim India sering menjadi sasaran dalam segala hal mulai dari gaya berpakaian, makanan hingga pernikahan antaragama. Kelompok hak asasi manusia seperti Human Rights Watch dan Amnesty International telah memperingatkan bahwa serangan dapat meningkat.

Mereka juga menuduh partai yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi memberi peluang ujaran kebencian terhadap Muslim. Sebanyak 14 persen dari 1,4 miliar penduduk India adalah Muslim. Partai Modi telah membantah hal itu. Namun umat Muslim mengatakan serangan terhadap mereka dan keyakinannya meningkat tajam selama beberapa waktu terakhir.

Penindasan terhadap Muslim dan umat minoritas lainnya di India, dikuatkan oleh laporan tahunan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Anthony Blinken menyoroti serangan yang meningkat di India pada awal Juni ini.

Ini adalah kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua bulan AS menyatakan kegelisahan tentang tren meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia di India. Laporan tahunan disusun oleh Departemen Luar Negeri AS, berdasarkan masukan dari kedutaan yang berlokasi di seluruh dunia.

Blinken mengamati bahwa ada juga pelanggaran substansial di belahan dunia lain seperti di India. “Di luar negara-negara ini, laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana kebebasan beragama dan hak-hak minoritas agama terancam di komunitas di seluruh dunia. Misalnya, di India, negara demokrasi terbesar di dunia dan rumah bagi keragaman agama yang besar. Kita telah melihat meningkatnya serangan terhadap orang dan tempat ibadah, di Vietnam, di mana pihak berwenang melecehkan anggota komunitas agama yang tidak terdaftar; di Nigeria, di mana beberapa pemerintah negara bagian menggunakan undang-undang anti pencemaran nama baik dan penistaan agama untuk menghukum orang yang mengekspresikan keyakinan mereka,” katanya.

Keresahan atas India semakin diperkuat oleh Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional Rashad Hussain. “Di India beberapa pejabat mengabaikan atau bahkan mendukung meningkatnya serangan terhadap orang dan tempat ibadah,” kata Hussain dalam sambutannya.

Sebelumnya pada April, Blinken telah menyatakan bahwa AS sedang memantau meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia oleh beberapa pejabat pemerintah, polisi dan penjara di India. “Kami secara teratur terlibat dengan mitra India kami, kami memantau beberapa perkembangan terbaru di India termasuk peningkatan pelanggaran hak asasi manusia oleh beberapa pejabat pemerintah, polisi dan penjara,” katanya. dalam teguran langsung yang langka.

Dalam laporan itu ditulis bahwa serangan terhadap anggota komunitas agama minoritas, termasuk pembunuhan, penyerangan, dan intimidasi, terjadi sepanjang tahun di India. Sebagian besar insiden dilaporkan di negara bagian yang diperintah oleh BJP. Selain umat Muslim, serangan mengarah pula terhadap pendeta, gangguan kebaktian, dan vandalisme.

ALJAZEERA | REUTERS | NDTV | THE WIRE

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus