BECAK comeback di Jakarta, aturan daerah bebas becak yang
mengharamkan kendaraan itu memasukinya di luar pukul 6 pagi
hingga 10 malam, didiamkan para abang becak begitu saja. Mungkin
ini tanda zaman "pemerataan".
Daerah-daerah yang selama ini sudah sepi dari kendaraan roda
tiga itu, seperti Manggarai (Jakarta Selatan) dan Jatinegara
(Jakarta Timur), atau juga Cempaka Putih (Jakarta Pusat), secara
hampir tak disadari akhir-akhir ini kembali dirajai para abang
becak -- meskipun dengan sedikit sembunyi-sembunyi. "Kan
sekarang jarang ada razia," tutur seorang abang becak di Jalan
Halimun, Manggarai.
Tentu saja hal itu dibantah oleh DLLAJR DKI dan Kodak Metro
Jaya. "Usaha mati-matian polisi untuk menertibkan becak tetap
ada," kata Letkol Poeloeng, Dansatlantas Kodak Metro Jaya, "kami
melakukan razia minimal 7 kali sebulan." Buktinya, tambah
Poeloeng, dari April hingga akhir 1979 lalu, sebanyak 10.212
lebih becak diangkut ke Kodak Metro Jaya karena melakukan
pelanggaran. Tapi tak lupa ditambahkannya, dari jumlah itu,
10.121 buah dilepaskan lagi setelah membayar tilang, antara Rp
2.500 sampai Rp 3.000 setiap becak.
Jadi, apa sebenarnya yang terjadi? Becak yang dalam rencana
Pemda DKI harus sudah hapus di akhir Pelita II, ternyata
sekarang makin berkembang biak. Pembuat becak di Roxy, dan
Jembatan Lima, keduanya di Jakarta Barat, mau pun di Bungur,
Jakarta Pusat, memperkuat hal itu. "Meskipun Bang Ali pernah
melarang membuat becak baru, tapi kalau ada pesanan, saya buat
juga," kata pembuat becak di Jembatan Lima. Ia tak bersedia
mengungkapkan berapa jumlah pesanan rata-rata ia terima tiap
bulan. Tapi pembuat di Bungur mengaku, "selalu saja ada
pesanan."
Niat Pemda DKI untuk menghapuskan becak rupanya memang
mengendur. Sebab, kata B. Harahap, Humas Pemda DKI, "becak masih
dirasa perlu dan sangat dibutuhkan." Dan karena itu, tambah
Suyono, staf Harahap, Gubernur Tjokropranolo pernah mengatakan
bahwa "becak masih diberi hak hidup di Jakarta." Alasannya,
sampai sekarang Pemda DKI belum dapat memberi pekerjaan lain
kepada tukang-tukang becak.
Sebelum ada ketentuan daerah bebas becak (DBB), di Jakarta
diperkirakan ada 150.000 becak. Dari jumlah itu kurang dari
6.000 buah yang terdaftar. Waktu itu tiap becak yang terdaftar
diberi surat tanda nomor kendaraan dan tanda telah membayar
pajak. Tapi setelah DBB berlaku pada 1971, jumlah becak merosot
menjadi sekitar 80.000, liar maupun terdaftar.
Penyusutan jumlah itu selain karena banyak yang di "ekspor" ke
luar Jakarta, juga karena terjaring razia. Waktu itu setiap
becak yang tak memiliki surat tanda nomor kendaraan dan tanda
bayar pajak, langsung dimusnahkan di kuburan becak Jalan Pemuda.
Hanya pemilik becak yang dapat menunjukkan kedua jenis surat
tadi, diperkenankan menebus kendaraannya kembali.
Tapi SK Gubernur DKI yang dikeluarkan awal 1979 mengharuskan
semua becak didaftar ulang. Dalam ketentuan ini memang disebut
tentang kewajiban membayar pajak, tapi tak dicantumkan keharusan
memiliki surat tanda nomor kendaraan. Dan dalam razia-razia,
setelah ada SK tadi, seorang pemilik becak dapat membebaskan
kendaraannya hanya dengan menunjukkan tanda membayar pajak.
Pajak becak hanya Rp 200 setahun. Ditambah nomor plat Rp 100,
untuk registrasi Rp 2.500, retribusi Rp 50 dan formulir Rp 10,
maka jumlah beban sebuah becak dalam setahun Rp 2.860. Dan
karena tak ada keharusan memiliki Surat tanda nomor kendaraan,
satu lembar surat pajak sering digunakan pemilik becak untuk
beberapa buah kendaraan.
Sebab itu jumlah becak akhir-akhir ini membengkak dengan hebat.
Pihak kepolisian Kodak Metro Jaya memperkirakan di Jakarta
sekarang terdapat lebih dari 200.000 buah becak, di antaranya
hanya sekitar 30.000 buah yang resmi dan setengah resmi (pernah
membayar pajak, tapi tidak lagi pada tahun-tahun berikutnya).
Dan jumlah ini tampaknya akan menggelembung terus. Karena selain
jumlah bangkai becak di Jalan Pemuda itu tak pernah bertambah
lagi, juga kendaraan itu masih terus dibuat.
Melihat keadaan itu, mudah dipahami jika daerah becak makin
sempit (lalu menerjang DBB) meskipun DLLAJR dan pihak kepolisian
merazia terus tanda bahwa suatu ketika akan diperlukan
kejelasan: boleh atau tidak.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini