Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Tak Sekadar Kejar-kejaran

TAGnRUN mengadopsi permainan chase tag dari Amerika Serikat. KPOTI menilai olahraga ini mirip permainan tradisional Indonesia.

13 Agustus 2023 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Pemain TAGnRUN dalam kompetisi TAGnRUN di Cilandak Town Square, Jakarta, 2023. Dok. Indo Chase Tags (ICT)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Tak perlu keahlian khusus untuk bermain TAGnRUN.

  • TAGnRUN mengadopsi permainan serupa yang lebih dulu populer di luar negeri.

  • Chase tag merupakan permainan rakyat yang dibakukan sebagai olahraga.

Indo Chase Tags, promotor acara olahraga, menghadirkan kompetisi kejar-kejaran profesional pertama di Indonesia lewat TAGnRUN. Kompetisi ini dimulai dengan menghelat babak kualifikasi pada 28-29 Januari lalu, kemudian kualifikasi kedua pada Juli lalu. Sebanyak 16 tim bersaing merebut gelar juara utama pada November mendatang.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kegiatan ini memberi warna baru di kalangan pencinta olahraga karena tak perlu keahlian khusus untuk bermain TAGnRUN. “Hanya dibutuhkan kecepatan dan kegesitan,” kata Direktur Utama Indo Chase Tags, Roberto Olawan Christian, kepada Tempo, Selasa, 8 Agustus lalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pertandingan TAGnRUN dimainkan oleh dua orang, tagger dan runner, di sebuah arena berukuran 10 x 10 meter yang dilengkapi dengan rintangan (obstacle) berupa tiang-tiang besi yang dimodifikasi. Dalam 20 detik, tagger harus mengejar dan menge-tag runner untuk mendapatkan poin. Sebaliknya, runner harus menghindari kejaran tagger.

Roberto menjelaskan, para pemain harus bergabung dalam sebuah tim, minimal terdiri atas lima orang. Tim yang berhadapan akan diundi mana yang lebih dulu menjadi runner dan tagger. “Kita pakai wasit yang memandu,” ujarnya.

Setelah penentuan peran, runner diberi waktu 5 detik untuk mencari spot mana saja untuk melarikan diri. Setelah 5 detik, tagger baru bisa bergerak mengejar runner. Jika berhasil menyentuh runner sebelum 20 detik, tagger mendapatkan poin. Kalau tidak kena, runner yang mendapatkan poin. Ketika permainan berlangsung, tagger dilarang mendorong atau menarik runner

Roberto menuturkan tak ada aturan khusus mengenai pergantian pemain. Pria berusia 34 tahun itu menyerahkan kepada masing-masing tim untuk menentukan strateginya. Tim yang berhasil meraih 11 poin lebih dulu adalah pemenangnya. Olahraga ini juga tak memiliki ketentuan soal pakaian. Tapi pihak panitia akan menyediakan rompi untuk membedakan tim.

Walau baru dikenalkan di Indonesia, TAGnRUN mengadopsi permainan serupa yang lebih dulu populer di luar negeri, yaitu chase tag. Bahkan turnamennya pun sudah berlangsung lintas negara dan dinamai World Chase Tag. Kejuaraan ini dibentuk pertama kali oleh Christian Devaux pada 2012 bersama saudaranya, Damien. Christian terinspirasi mengadakan World Chase Tag setelah bermain permainan tag bersama putranya di halaman rumah. Olahraga ini pun kian berkembang hingga ke Eropa dan Asia.

Ilustrasi permainan TAGnRUN. TEMPO/ Nita Dian

Melihat chase tag, Ketua Umum Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), Zaini Alif, teringat permainan semasa kecil. Di tanah kelahirannya, di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kabupaten Subang, Jawa Barat, permainan itu disebut ucing-ucingan atau kucing-kucingan. “Mungkin karena seperti kucing yang berlari mengejar sesuatu,” ujarnya, Rabu, 9 Agustus lalu.  

Dalam permainan itu, seorang pengejar yang disebut kucing akan memburu teman-teman sepermainan. Siapa pun yang kena sentuh, dia gantian menjadi kucing. Pemain bisa berkelit menghindar atau beradu lari dengan luas area yang tidak dibatasi. Anak-anak bisa berlarian masuk perkampungan atau di sekitar tanah lapang. “Kalau di sekolah, terbatas di halaman.” 

Bedanya, chase tag punya batasan area dan waktu. Selain itu, dipasang beberapa rintangan yang sekaligus bisa digunakan sebagai tempat menghindar dari sentuhan tangan pengejar. “Chase tag itu termasuk permainan lama yang dimodifikasi menjadi olahraga dengan aturan-aturan tertentu yang disepakati,” ujar pendiri Komunitas Hong di Bandung itu.

Permainan lawas itu dikenalkan kepada warga pada 2022. Berlokasi di kampung kelahirannya, Zaini bersama KPOTI dan komunitas permainan tradisional menggelar kompetisi chase tag. Pesertanya berjumlah 96 orang, yang dibagi dalam kategori anak, remaja, dan dewasa. 

Pada sepetak tanah kosong yang berdebu, areanya berukuran sekitar 5 x 5 meter. Di bagian tengah ada beberapa halang rintang. Bentuknya seperti jemuran yang terbuat dari bahan bambu. Selain itu, dipasang sepasang ban luar truk dengan posisi berdiri dan rebah. Di tempat itu para peserta berlarian mengejar dan menghindari sentuhan tangan lawan. Acara itu, menurut Zaini, semula dilakukan tiga tahun lalu, tapi gagal karena pandemi.

Chase tag, ia melanjutkan, menggabungkan permainan tradisional kejar-kejaran dengan ketangkasan, seperti melompat, merangkak, atau meluncur, untuk menghindari kejaran lawan. “Chase tag merupakan permainan rakyat yang dibakukan sebagai olahraga,” tutur Zaini. Adapun permainan tradisional Indonesia yang dibakukan untuk perlombaan sejauh ini baru 11 jenis, seperti galasin alias gobak sodor, egrang, lari balok, dan tarik tambang. 

Standar untuk luas area dan aturan permainan ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan komunitas dan penggerak permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun kucing-kucingan sejauh ini belum dibakukan. 

FRISKI RIANA | ANWAR SISWADI (BANDUNG)

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
Friski Riana

Friski Riana

Lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana pada 2013. Bergabung dengan Tempo pada 2015 di desk hukum. Kini menulis untuk desk jeda yang mencakup isu gaya hidup, hobi, dan tren. Pernah terlibat dalam proyek liputan Round Earth Media dari International Women’s Media Foundation dan menulis tentang tantangan berkarier para difabel.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus