Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Tren peralihan kendaraan tenaga listrik di Indonesia diprediksi meningkat tahun 2021, jumlahnya diperkirakan mencapai 125.000 unit di masyarakat. Produsen ban Hankook Tire ikut bersiap menyambut peralihan itu dengan inovasi produk.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
President Director PT Hankook Tire Sales Indonesia Yoonsoo Shin menjelaskan, pihaknya secara bertahap sedang mengembangkan ban eco-friendly. Ban yang mengurangi penggunaan bahan bakar dengan membatasi resistensi rotasi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Dan menggunakan produk sampingan minyak, seperti karet sintesis, karbon hitam, dan minyak sintetis yang lebih ramah lingkungan,” ujar Shin dalam keterangan tertulis, Rabu, 17 Maret 2021.
Menurut Shin ban mobil listrik harus mampu mempertahankan esensi performa emisi rendah tanpa membatasi fleksibilitas. Ban juga harus punya hambatan gulir (rolling resistance) yang rendah.
Sehingga melaju lebih halus, tapi di saat yang sama harus tetap punya daya cengkram yang optimal. Dua hal ini berlawanan, tapi harus dicari titik tengahnya. “Perpaduan material dan desain ban yang tepat akan sangat berpengaruh dalam mengakomodir objektif tersebut,” tutur Shin.
Baca juga: 92 Persen Ban Hankook Made in Indonesia Diekspor ke 180 Negara
Shin menjelaskan, mobil listrik umumnya lebih berat 10-20 persen dibandingkan mobil biasa karena mesin berbasis baterai. Ini membuat mobil listrik menghasilkan torsi yang lebih boros, dan membutuhkan ban berakselerasi yang lebih sporty.
Hankook Tire merancang inovasi ban untuk mobil listrik di pusat R&D Hankook Technodome, Korea Selatan. Inovasi itu melahirkan ban mobil listrik perdana, Kinergy AS EV, generasi pertama dan kedua pada 2018 lalu.
Hankook Tire juga merilis Ventus S1 Evo 3 EV untuk versi all-electric vehicles, yang diadopsi dari tipe sport. Ban ini mengusung teknologi bead-packing dan kekakuan lateral agar gerakan ban tetap terkendali meski dalam kecepatan tinggi.
Meskipun inisiatif global sudah cukup digencarkan, Shin menilai Indonesia masih membutuhkan waktu untuk adaptasi mobil listrik. “Tantangan memasarkan mobil listrik di sini adalah masih minimnya kesadaran masyarakat menggunakan produk otomotif yang ramah lingkungan,” katanya.
Sebelum beralih sepenuhnya ke ekosistem mobil listrik, kata Shin, masyarakat bisa mengenal ban yang eco-friendly dan merasakan manfaatnya sendiri saat digunakan berkendara.
“Beberapa tipe ban regular Hankook yang sudah eksis seperti segmen ultra-high performance sebetulnya mampu memenuhi kebutuhan mobil listrik untuk pemakaian harian,” tutur dia.