Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Ilmu encer

Triswanto, pembantu rumah tangga di tegal ditangkap karena menipu anak-anak. dikatakan punya ilmu yang dapat membuat pintar dan disayang guru dan orang tua. dilakukan untuk mencari uang.

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Ilmu encer
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

ILMU dalam logat Jawa ngelmu. Itu konon singkatan angel (sulit) ketemu. Namun, di Tegal, Jawa Tengah, Triswanto mengaku punya jalan tol untuk meraihnya. Kepada Bungsu, 15 tahun, dan kawan-kawan mulanya ia sanggupi mengajar bahasa Inggris dan komputer. Cuma-cuma lagi. Bersama Bungsu ada 12 siswa SLTP di Tegal -- cowok dan cewek -- tertarik menikmati les gratis ini. ''Pada pertemuan pertama dia cuma mengucapkan ap-tu-yu,'' cerita Bulan, 14 tahun. Ketika pada pertemuan berikutnya yang meluncur dari bibir Triswanto masih ap-tu-yu melulu -- dan komputer tidak pernah dipelajari karena tak ada perabotnya, mereka mulai ragu. Menangkap gelagat ini, Triswanto segera membelokkan urusan. ''Saya punya ilmu yang dapat membuat otak kalian encer,'' katanya. Menurut dia, dengan ilmunya ini tanpa belajar pun orang bisa pintar. ''Selain itu, juga bisa dikasihani guru dan orang tua,'' tutur seorang korban kepada Marcelino X. Magno dari TEMPO. Karena ajian ilmu ini harus dibeli di Bogor, ya, anak-anak harus membayarnya. Tergoda ingin punya otak encer dan disayang orang tua serta guru, mereka bagai rebutan melayangkan sekian puluh ribu rupiah untuk Tris. Konon, ada yang sampai mencuri uang ibunya. Tiap anak kebagian seikat kain yang dibubuhi jampi. Selain itu, mereka harus mengumpulkan lintingan berisi jampi-jampi. Yang dapat menghimpun sampai 82 lintingan, menurut Tris, hidupnya bakal sempurna. Jimat sudah dililitkan di badan, tapi soal ujian tetap tidak terpecahkan. Kalau sudah begini, guru mana pula yang masih menyayangi muridnya? Di sekolah bego, ya, uang saku pantas saja tidak naik. Jadi, semua yang dialami tidaklah seencer yang dijanjikan Triswanto. Mengapa jimat itu tidak mangkus? Tris belum kehabisan muslihat. Ia menuding para siswa itu mengidap penyakit maut. Mereka dibawa ke kamar dan disuruh telanjang. Seraya memegang detektor Tris berlagak mirip satpam bandara: memeriksa tubuh-tubuh bugil itu. ''Kalian menderita piplas,'' ujarnya menyebut istilah penyakit kelamin. Kali ini Tris mengaku lulusan sekolah dokter Puri Nirmala jurusan piplas di Bandung. ''Kalian akan lumpuh dengan penyakit ini. Di rumah kalian ada guna-guna,'' katanya sambil menggerayangi alat kelamin anak-anak itu. Setelah mengelus-elusnya, Tris bilang, jika tak segera ditanggulangi seisi rumah akan mati. Gawat. Anak-anak lebih menggigil ketika di pojok kamar muncul hantu pocong. Melolong lagi. Dengan momok itu, uang makin encer mengalir ke kocek Tris. Malahan orang tua anak-anak itu bagai kerbau dicucuk hidung mengikuti Tris ke desanya. Juga anak-anak, mau-maunya disuruh naik gunung segala. Bolos, jadinya. Bumbu ancamannya lumayan. Misalnya, siapa yang tak ikut tiga hari akan mati di hari keempat. Siswa yang sudah waswas antara lain sebut saja Matahari, 15 tahun, menghadang ancaman itu. Aman saja. Lalu diajaknya Bulan mengadukan urusan ini. Orang tua Matahari yang polisi serta orang tua Bulan yang dokter kemudian meneruskannya ke polisi. Tris yang beroperasi sekitar dua bulan dibekuk akhir tahun lalu. Dan perkaranya disidangkan Kamis pekan lampau. Bujangan yang tidak lulus SD ini resminya pembantu rumah tangga di sebuah kantor pengacara di Tegal. Akan halnya hantu pocong tadi diakuinya cuma akal-akalan. ''Semua saya lakukan semata-mata cari uang,'' katanya kepada polisi. Ed Zoelverdi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus