Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Buku

Berita Tempo Plus

Hubungan benci dan cinta

Penulis : harry harding washington : the brookings institutional,1992 resensi oleh : a. dahana. penulis : harry harding

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Hubungan benci dan cinta
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SEJAK terbitnya Sino-American Relations, 1949-1971 karya Roderick MacFarquhar belum ada buku komprehensif lain yang membicarakan hubungan Amerika-Cina. Terbitnya buku Harry Harding, peneliti senior pada The Brookings Institution di Washington, DC, telah mengisi kesenjangan itu. Buku yang terdiri dari sepuluh bab dan dilengkapi dokumen, tabel, daftar statistik, dan grafik, selain meliput periode yang menjadi objek buku MacFarquhar, juga mencoba melihat ke masa depan. Harding membagi hubungan ''cinta campur benci'' Washington-Beijing itu dalam empat periode. Selama dua dasawarsa pertama (1949-1969) hubungan diwarnai sikap saling bermusuhan karena perbedaan ideologi, konfrontasi militer, tak ada hubungan ekonomi dan kebudayaan, dan kontak diplomatik sangat terbatas. Mulai 1969 sampai awal 1980-an kedua negara terlibat dalam ''perkawinan karena kesamaan kepentingan'' (marriage of convenience) strategis untuk melawan Uni Soviet yang semakin ekspansionistis di bawah Leonid Brezhnev. Walaupun keduanya bersekutu di satu front, rasa saling mencurigai masih dominan. Karenanya, setiap muncul tanda-tanda hubungan membaik Soviet-Amerika, pihak Cina mencurigainya. Kedekatan Beijing-Moskwa juga mengundang Washington waswas. Karena pentingnya hubungan strategis menghadang Uni Soviet, kedua pihak mencoba melupakan Taiwan -- faktor paling berperan dalam hubungan AS-Cina. Menjelang pertengahan 1980-an pertalian itu mengalami perubahan sangat mendasar. Era itu bisa digambarkan sebagai uluran tangan Amerika untuk membantu program modernisasi dan reformasi Cina. Cina memang berusaha memperbaiki ekonomi dan politiknya yang telah dirusakkan oleh eksperimen Maois lebih dari 20 tahun. Namun ada pula faktor lain yakni pengaruh internasional Uni Soviet di bawah Breznev kian mundur, plus reorientasi politik luar negeri Mikhail Gorbachev. Semangat kemitraan itu telah menyebabkan hubungan bilateral tumbuh pesat di bidang perdagangan, investasi, hubungan akademik, dan kebudayaan. Menjelang akhir 1980-an tahap ketiga hubungan itu mengalami erosi. Washington mengkritik pembatasan-pembatasan Cina dalam hubungan dagang, menuduh Cina melakukan dumping dan membatasi impor. Cina juga mengeluhkan pembatasan pasar Amerika untuk produk Cina, pengetatan impor teknologi, dan banyaknya mahasiswa atau sarjana Cina di Amerika yang tak mau pulang. Setelah ancaman Soviet sirna, perbedaan persepsi atas beberapa isu internasional muncul, terutama soal penjualan senjata, senjata nuklir, dan soal Kamboja. Perbedaan ideologi yang pernah dikesampingkan sepuluh tahun lebih itu mencuat lagi. Di satu sisi para pemimpin Cina, terutama yang konservatif, mulai mempertanyakan fakta bahwa kemitraan ekonomi berarti mengundang masuknya tata nilai Amerika. Di sisi lain Amerika juga menyadari bahwa Cina masih saja melakukan banyak pelanggaran hak-hak asasi. Perbedaan persepsi itu kian nyata karena kedua pihak menempuh jalan berbeda dalam mencapai tujuan mereka, saling keliru menafsirkan hubungannya. Cina menganggap Amerika bersedia membantu usaha ''modernisasi sosialis''-nya. Sedangkan Amerika menganggap dirinya membantu agar Cina menyapu sisa-sisa Leninisme. Salah persepsi kedua pihak itu jadi kompleks dengan terjadinya krisis Tiananmen 1989. Beijing menganggap Amerika terlibat kegiatan subversi dan mau menjatuhkan kekuasaan Partai Komunis Cina. Harding tak dapat mengatakan dengan pasti bagaimana hari depan hubungan RRC-AS. Ia mengetengahkan lima skenario: timbulnya aliansi strategis untuk melawan musuh bersama, hubungan dengan Cina yang terpecah-belah, kemitraan untuk mendorong modernisasi dan reformasi Cina, konfrontasi, dan hubungan yang tersendat. Menerbitkan buku memerlukan persiapan dan proses yang sangat panjang. Buku yang mencoba menganalisa masalah-masalah kontemporer sangat rawan terhadap kelemahan seperti itu. Saya setuju dengan Harding bahwa dua skenario terakhir tampaknya akan mewarnai hubungan Beijing-Washington. Itu sangat tergantung perkembangan politik di Cina setelah Deng Xiaoping meninggalkan pentas politik. Tapi perubahan kepemimpinan di Washington tampaknya juga akan berpengaruh. Boleh jadi pemerintah Bill Clinton akan lebih seia-sekata dengan Konggres. Harus pula diperhitungkan kepresidenan Amerika sangat sensitif terhadap pendapat umum yang tak bersahabat dengan Cina. Clinton boleh saja terus menempatkan Cina pada daftar MFN (Most Favored National) dalam perdagangan luar negerinya. Kalau itu terjadi, tampaknya skenario kelima, Amerika dan Cina akan saling membutuhkan, yang paling mungkin. Itu tak sempat dibicarakan, walau secara keseluruhan karya ini sangat solid. A. Dahana *) *)Program Studi Cina, FSUI

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus