SEBUAH dunia yang riang-ria, tenang tenteram, damai dan polos, pernah dialami semua orang. Tapi dunia anak-anak yang sungguh sarat dengan kenangan itu kini secara perlahan-lahan mulai terlupakan. Dunia anak-anak yang mulai terlupakan itulah -- main bola di lapangan becek, main petak umpet, main layang-layang -- yang dalam beberapa lama ini direkam kembali oleh pelukis Salim M., 51 tahun, dengan teknik melukis yang kurang lazim, yaitu dengan semacam teknik sablon. Dengan cara sederhana itu, karya pelukis kelahiran Kroya, Jawa Tengah, itu tiga kali berturut-turut menang dalam lomba melukis ilustrasi buku anak-anak tingkat internasional. Dalam kompetisi Noma Concours for Picture Book Illustrations (1990) yang diselenggarakan di Tokyo oleh Asian Cultural Centre for Unesco itu Salim mengirimkan cerita rakyat Cindelaras dan memenangkan hadiah kedua. Tahun berikutnya, dalam pameran pertama ilustrasi buku anak-anak di Iran, ia mengirimkan karya yang sudah tercetak sebagai ilustrasi untuk buku Tiga Cobaan Hidup. Kali ini ia meraih hadiah ketiga. Lalu, tahun 1992 yang lalu, dalam lomba yang diselenggarakan Unesco di Tokyo, ia menggondol hadiah hiburan untuk ilustrasi Kisah Palupi. Kisah Palupi merupakan rekaman kisah anak perempuan Salim -- ia kini beranak dua. Ilustrasi yang terdiri dari enam episode itu menggambarkan gadis kecil yang suka berbicara dengan pepohonan, bunga, kupu, burung, kemudian juga dengan boneka kayu di lumbung padi, lantas ''berteman'' dengan sebuah boneka. Teman-temannya yang semula mengganggunya belakangan menjadi akrab. Maka, Palupi si gadis alam itu kini tak lagi sendiri. Pada karya-karyanya yang imajinatif itu, amat terasa bahwa Salim bermaksud menyuguhkan suasana yang sangat akrab antara alam, manusia, dan hewan. Kenangan manis semasa anak-anak itu tampak lucu, bersih, dan menarik, digarap dengan sederhana dan seperti apa adanya. Gaya dan tema seperti ini rupanya kurang laku di antara para penerbit buku anak-anak. Mungkin ilustrasi semacam itu dinilai tidak komersial, atau barangkali memang selera artistik kalangan penerbit yang mulai kurang memahami ilustrasi dunia anak-anak yang imajinatif. Dulu banyak pelukis yang mampu menggambarkan dunia anak-anak yang naif seperti itu. Misalnya beberapa pelukis kelompok Sanggar Bambu yang ikut menggarap penerbitan majalah Kawanku (edisi lama) dan para pelukis yang membuat ilustrasi buku cerita anak-anak terbitan PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta. Pada masa sekarang ada juga ilustrasi buku bacaan anak-anak yang cukup bagus, seperti karya ilustrator Yunani, Yannis Stephanides, dalam seri mitologi Yunani terbitan PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta. Sejak kecil Salim, pelukis yang hanya berpendidikan SLTA dengan keterampilan melukis berkat belajar sendiri ini, memang suka menggambar dengan pensil. Berkali-kali ia melukis wajah Pangeran Diponegoro sampai hafal luar kepala. Pada tahun-tahun revolusi bersenjata, Salim yang baru berusia 5 atau 6 tahun sudah mampu melukiskan khayalannya mengenai para pejuang bersenjata bambu runcing berdasarkan cerita orang-orang tua. Pada usia 10 tahun ia menderita tifus, yang justru membawa hikmah yang menunjang nasib dan kariernya sebagai seniman. Penyakitnya yang parah menyebabkan Salim kecil tak lagi bisa bebas bermain seperti teman-temannya. Ia hanya mampu melihat dan merekam tingkah-laku, sorak-sorai, suka-duka, suasana bermain rekan-rekan semasa kanak-kanaknya itu. Riang-ria main layang-layang, keramaian main gundu, kegembiraan loncat tali. Dan sebagainya. ''Saya merasa sayang, rekaman masa kanak-kanak itu hilang begitu saja bila tidak diungkapkan, dilukis,'' katanya. Pada tahun 1963 ia mengadu nasib ke Jakarta, dan bekerja sebagai penulis dan penyusun huruf pada perusahaan reklame jalanan, juga membuat desain untuk kaus oblong. Dari profesinya inilah rupanya Salim memperoleh ''teknik'' menyusun bentuk yang rapi. Pada tahun 1975 ia mulai serius membayangkan kembali dunia anak-anak yang terasa mulai menghilang itu. Teknik sablon yang digunakan Salim dimulai dengan melukis, misalnya figur anak-anak, dengan pensil di karton manila. Lalu ia menoreh figur itu hingga karton berlubang. Karton berlubang itulah yang ia tempelkan pada kanvas yang sebelumnya sudah digambari lanskap. Nah, lubang-lubang gambar itulah yang kemudian diwarnai. Caranya, dengan menyentuh- nyentuhkan potongan spons yang dilumuri dengan cat akrilik. Kini ia tak hanya melukis anak-anak pinggiran, tapi juga ''memotret'' kehidupan anak-anak urban seperti para penjaja koran atau anak-anak ''pasukan payung'' sewaktu hujan menderas di Jakarta. Budiman S. Hartoyo dan Siti Nurbaiti
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini