Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Normalisasi Sungai DKI Digenjot, Ahli: Ikuti dengan Optimalisasi Waduk, Embung, Situ & Danau

Nirwono Joga mengingatkan Pemerintah DKI Jakarta perlunya optimalisasi waduk, situ dan embung sebagai tampungan air seiring dengan normalisasi sungai.

24 Januari 2023 | 10.33 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Ahli tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengingatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait perlunya optimalisasi waduk, situ dan embung sebagai tampungan air seiring dengan normalisasi sungai atau kali di Ibu Kota.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurut Nirwono, normalisasi sungai yang biasanya memasang tanggul atau turap beton di badan-badan sungai, tidak berhubungan langsung dengan penanggulangan banjir, tapi berdampak dalam mempercepat aliran air sungai karena tidak ada yang memperlambatnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Untuk itu perlu didukung dengan optimalisasi situ/danau/embung/waduk untuk menampung luapan air sungai ketika musim hujan sehingga beban sungai tidak melebihi kapasitas atau meluap menggenangi kawasan sekitar," kata Nirwono kepada pers di Jakarta, Senin, 23 Januari 2023.

Lebih baik lagi, lanjut Nirwono, dibangun bendungan di kawasan hulu, terutama di sungai-sungai yang tidak memiliki infrastruktur tersebut. Seperti di Kali Pesanggrahan untuk mengurangi debit air yang masuk ke aliran sungai.

Meski demikian, Nirwono menilai pemasangan turap tersebut diperlukan di badan-badan sungai yang masuk ke pusat kota karena keterbatasan lahan sehingga tidak memungkinkan bantaran kali alami dengan kemiringan yang tidak curam. "Tujuan pemasangan tersebut lebih kepada pengamanan untuk mencegah tepi badan sungai tergerus air, terutama saat musim hujan atau arus sungai deras," katanya.

Selain itu, kata dia, kawasan yang sudah dipasang turap juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk memberikan fasilitas kepada warga sekaligus usaha mempercantik kota. "Tepi sungai yang sudah diturap, bantaran kalinya dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik seperti jalur hijau pengaman sungai, 'jogging track', hingga jalur sepeda yang dapat difungsikan ketika tidak hujan/banjir," tuturnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini melakukan berbagai usaha untuk penanggulangan banjir di Jakarta, seperti dilanjutkannya pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) dan juga normalisasi berbagai sungai.

DKI dan Kementerian PUPR lanjutkan proyek sodetan Kali Ciliwung

Mulai tahun 2021, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melanjutkan pembangunan terowongan atau sodetan Ciliwung menuju Kanal Banjir Timur (KBT). Sodetan di Kali Ciliwung ini dibuat karena DKI Jakarta merupakan provinsi yang sering jadi langganan banjir di Indonesia. Salah satu penyebabnya ialah luapan sungai Ciliwung.

Dikutip dari laman KemenPUPR, pu.go.id, sodetan ini adalah bagian dari rencana induk sistem pengendalian banjir atau flood control dari hulu hingga hilir Jakarta. Proyek sodetan ini telah rampung sepanjang 550 meter pada tahun 2015. Setelahnya, pada tahun 2015 hingga 2017, pembangunan dilanjutkan dengan pemasangan permanen outlet dan dinding penahan tanah kali Cipinang.

Kemudian pada tahun 2021, pembangunan ini kembali dilanjutkan dan telah tuntas sepanjang 549 meter, dan diharapkan panjang keseluruhan nantinya 1,26 kilometer. Selain itu, pada hulu dari terowongan ini, ada bendungan kering atau dry dam yang ditempatkan di Ciawi, Kabupaten Bogor dengan kapasitas tamping 6,05 juta meter kubik. Sedangkan pada hilirnya, terdapat bendungan Sukamahi berkapasitas 1,68 juta meter kubik.

Dalam upaya meminimalisasi risiko banjir daerah hilir Jakarta, dibangun pula Tanggul Pantai untuk muara sungai dan pantai yang kritis. Mengutip dari arsip Tempo, tanggul ini akan ditempatkan di empat lokasi, yaitu Muara Angke, Pantai Mutiara, Ancol Barat dan Kali Blencong.

Dengan anggaran sebesar Rp 595 milyar pada tahap awalnya, tanggul ini direncanakan memiliki panjang 46 kilometer dan telah rampung sepanjang 13 kilometer. Perhitungan rencana panjang tanggul ini disesuaikan dengan daerah pesisir utara Jakarta yang rawan rob. Hingga awal tahun ini, sodetan sungai Ciliwung masih belum terisi air karena memang belum tersambung sepenuhnya.

Sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta William Aditya Sarana sempat menyinggung proyek ini yang pernah mandek selama lima tahun di era Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Ia mengapresiasi keputusan Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono yang berani melanjutkan pembangunan proyek ini. Proyek ini ditargetkan untuk selesai pada Agustus 2023. Akan tetapi menurut Heru, sodetan Ciliwung akan bisa beroperasi mulai Maret 2023.

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus