Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
DI hari-hari akhir 2004, indikator seperti laju inflasi, nilai tukar, ataupun tingkat suku bunga tak meleset jauh dari target. Pendek kata, sulit mendeteksi adanya gangguan dalam kesehatan makro-ekonomi Indonesia. Padahal, Indonesia sempat diramalkan terjerumus ke bencana fiskal pada tahun ini: ketika defisit anggaran negara membengkak tak terkendali karena brankas negara terkuras untuk melunasi cicilan utang.
Utang negara yang jatuh tempo tahun ini tak kurang dari Rp 130 triliun. Nilai cicilan yang fantastis itu semakin jadi masalah karena, di saat likuiditas ketat, Indonesia harus menyelenggarakan pemilihan umum. ”Di negara mana pun, pada saat pemilihan umum selalu akan ada kenaikan defisit anggaran,” kata ekonom Faisal Basri.
Indonesia memang tak terhindar dari kenaikan defisit. Realisasi defisit anggaran hingga Desember mencapai Rp 25 triliun dari target Rp 26,3 triliun selama satu tahun. Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto, defisit setahun diperkirakan akan mencapai 1,5 persen, naik dari target 1,3 persen. ”Angka itu masih tolerable,” ujar Faisal. Apalagi, seperti yang diakui Menteri Keuangan Yusuf Anwar, kenaikan realisasi itu disebabkan kenaikan harga minyak di pasar dunia.
Orang yang patut mendapat kredit dalam mengawal anggaran ini adalah Boediono. Menteri Keuangan di pemerintahan lalu itu terkenal ”pelit” mengeluarkan uang. Permintaan dana untuk proyek pembangunan infrastruktur yang dilontarkan Jusuf Kalla (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat saat itu) di masa kampanye merupakan contoh proyek yang ia tampik. ”Yang paling penting, jangan sampai apa yang kita (pemerintahan lalu) lakukan menimbulkan kewajiban beban yang tidak wajar di masa mendatang,” katanya.
Boediono tipikal birokrat keuangan konservatif. Ia bukan ekonom yang menyukai gagasan radikal, seperti mengemplang cicilan utang. Tak mengherankan jika ia tidak populer di kalangan ekonom progresif. Ia kerap diledek sebagai ”Menteri Keuangan IMF”. Namun, di masa yang penuh jebakan likuiditas, justru gaya Boediono yang kalem dan tidak neko-neko menjadi pas. ”Dengan segala kelemahannya, Boediono merupakan orang yang tepat untuk menstabilkan ekonomi Indonesia,” kata Faisal.
Nilai lebih Boediono yang lain adalah gaya hidupnya yang sederhana. Jika melakukan perjalanan dinas ke luar kota, ia sungkan meminta bawahan menjemput. Jika pulang ke rumahnya di Yogyakarta, istrinyalah yang biasa menjemput di bandar udara. ”Saya tidak mau disubyo-subyo (disanjung) karena risikonya saya bisa lupa diri,” ujar Boediono tentang kebiasaannya menghindari heboh protokoler.
Kesederhanaan juga tebersit dalam pilihannya mengisi waktu luang setelah tak ikut lagi dalam kabinet. ”Jalan-jalan pagi melalui Selokan Mataram,” katanya. ”Saya bisa melihat sawah dan pemandangan. Hobi saya yang lain adalah bermain dengan kedua cucu saya,” ia tertawa berderai.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo