Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Fakta di Balik Kampanye Keberhasilan Jokowi

Kampanye keberhasilan Jokowi tak menggambarkan kondisi sebenarnya. Masyarakat adat menjadi salah satu korban.

13 Oktober 2024 | 00.00 WIB

Presiden Joko Widodo menyampikan pidatonya ketika membuka BNI Investor Daily Summit 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta, 8 Oktober 2024. Antara/Muhammad Adimaja
Perbesar
Presiden Joko Widodo menyampikan pidatonya ketika membuka BNI Investor Daily Summit 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta, 8 Oktober 2024. Antara/Muhammad Adimaja

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

SEJAK awal Oktober 2024, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies atau Celios, Bhima Yudhistira, makin sering membaca berita dan konten media sosial mengenai klaim keberhasilan pemerintahan Joko Widodo. Salah satu isi kampanye Jokowi adalah keberhasilan mendulang pertumbuhan ekonomi sebesar 5,08 persen pada kuartal kedua 2024.

Menurut Bhima, angka itu tak memotret kondisi ekonomi dalam negeri yang sesungguhnya. Ia mencontohkan, angka produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur merosot, yakni dari 20 menjadi 18,6 persen. Sejumlah pabrik pun tutup dan menambah jumlah penganggur. “Yang disampaikan pemerintah itu keberhasilan semu,” ujar Bhima saat dihubungi, Jumat, 11 Oktober 2024.

Presiden Jokowi dalam acara BNI Investor Daily Summit pada Selasa, 8 Oktober 2024, mengklaim bahwa performa ekonomi Indonesia positif. Saat pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,7-2,8 persen, Indonesia bisa tumbuh 5,08 persen. Jokowi juga yakin Indonesia bisa bersanding dengan Cina dan India menjadi tiga kekuatan ekonomi di kawasan Asia.

Selain itu, Jokowi mengklaim keberhasilan mengendalikan inflasi di angka 2-3 persen. Ia juga yakin angka PDB per kapita yang saat ini US$ 5.060 bisa menjadi US$ 7.000 pada 2029. Ia pun mengklaim keberhasilan penghiliran nikel yang menaikkan pendapatan negara dari US$ 1,4-2 miliar menjadi US$ 34,8 miliar. “Itu lompatan yang besar sekali,” katanya.  

Bhima menyatakan kenaikan pendapatan negara dari penghiliran nikel terjadi karena harga bahan baku sedang meroket. Ia menilai pemerintah tak punya peta jalan soal penghiliran. “Banyak anggapan bahwa program penghiliran tak efisien.”

Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arie Rompas juga menilai program yang dibanggakan Jokowi seperti pembangunan infrastruktur malah merusak lingkungan hidup. Pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah juga menghilangkan hak masyarakat setempat. Ia mencontohkan proyek pembangunan Bendungan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Sampul Indah Ponten Merah"

Hussein Abri

Bergabung dengan Tempo sejak April 2014, lulusan Universitas Pasundan, Bandung, ini banyak meliput isu politik dan keamanan. Reportasenya ke kamp pengungsian dan tahanan ISIS di Irak dan Suriah pada 2019 dimuat sebagai laporan utama majalah Tempo bertajuk Para Pengejar Mimpi ISIS.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus