Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Digital

Menghitung Peluang Situs WAP

Kemunculan ponsel WAP memicu tumbuhnya situs-situs baru. Tapi peluang bisnisnya masih samar-samar.

4 Juni 2000 | 00.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

LAKSANA sebuah pentas pertunjukan, ranah internet Indonesia memasuki babak perkembangan baru. Satu bulan terakhir ini, bermunculan situs yang menyediakan layanan wireless application protocol (WAP) seperti spora yang jatuh di tanah basah. Di antaranya ada Satunet.com, Melejit.com, dan menyusul sebentar lagi Catcha.com.

WAP adalah suatu format komunikasi yang spesifikasinya bersifat global dan terbuka. Berkat format yang diperkenalkan pertama kali pada Juni 1997 ini, sebuah telepon seluler (ponsel) GSM—global system for mobile communication—dapat berinteraksi dengan beragam informasi dan layanan di internet. Adapun situs WAP adalah situs yang menyediakan layanan—baik data maupun jasa—yang bisa diakses melalui ponsel WAP. Boleh dibilang, kemunculan situs penyedia layanan WAP merupakan buntut dari keluarnya ponsel berstandar tersebut.

Bagaimana fenomena kemunculan situs-situs yang menyediakan layanan WAP seperti itu mesti dilihat? Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ) edisi 16 Mei melaporkan, ponsel berfasilitas WAP sejatinya masih merupakan perangkat yang eksotis bagi pasar Asia. Sebagian besar pengakses internet tetap mengandalkan komputer dan baru sedikit yang memilih ponsel WAP sebagai alternatif. Sayang, AWSJ tak menyebut angkanya. Kebanyakan operator telekomunikasi pun baru dalam taraf coba-coba (trial basis) untuk menawarkan layanan WAP.

Mengutip keterangan Wakil Presiden Senior Nokia Asia-Pasifik, Nigel Litchfield, AWSJ menunjuk minimnya jumlah produk yang tersedia di pasar sebagai salah satu penyebab lambatnya popularitas WAP dan situs yang memfasilitasinya. Selain itu, kemampuan ponsel WAP sendiri masih terbatas. Ia baru mampu mengakses teks dan grafik sederhana. Padahal, selain pada aspek gaya dan warna, onsumen Asia sangat menaruh perhatian pada fungsionalitas dan teknologi sebuah ponsel. Walhasil, fenomena WAP, baik dalam bentuk ponsel maupun situs, belum begitu memikat konsumen atau pengguna internet pertama.

Di Indonesia, situasinya nyaris tak jauh berbeda dengan yang ditulis AWSJ. Nokia boleh dikata melaju sendirian sebagai penyedia ponsel WAP setelah Januari silam perusahaan telepon genggam Finlandia ini memperkenalkan Nokia 7110, mendahului produsen lain. Pembuat ponsel yang lain, meski sudah memiliki produk sejenis, belum secara resmi menjualnya di Indonesia.

Setelah lima bulan beredar, tidak ada data resmi mengenai daya serap pasar terhadap Nokia 7110. Manajer Umum Nokia Mobile Phones Indonesia, Shaun Colligan, pun hanya menjawab diplomatis bahwa produk tersebut sangat populer. Distributor-distributor Nokia, misalnya, melaporkan adanya minat yang tinggi terhadap ponsel itu. Tapi, sekali lagi, tidak ada angka penjualan yang diumumkan—sesuatu yang sejatinya menyulitkan analisis.

Satu-satunya yang bisa dijadikan patokan mungkin penjelasan Manajer Pelaksana InTouch, Kendro Hendra. InTouch adalah operator penyedia layanan WAP pertama di Indonesia. Menurut Kendro, sejak beroperasi perdana April lalu hingga saat ini, pihaknya berhasil mengoleksi 5.000 pelanggan—atau kurang dari setengah persen dari semua pelanggan ponsel di Indonesia, yang mencapai sekitar 2,1 juta orang.

Dari fakta tersebut, wajar jika para penyedia layanan WAP—yakni perusahaan internet—tampak seperti belum terlalu antusias menyediakan layanan mengingat jumlah pemilik ponsel WAP masih sedikit. Situasinya seperti pertanyaan lebih dulu mana antara telur atau ayam. Artinya, mereka menunggu pemilik ponsel WAP mencapai jumlah tertentu, baru kemudian menyediakan layanan, atau sebaliknya, mereka menyediakan layanan dulu untuk mendorong naiknya kepemilikan ponsel WAP.

Bila demikian kenyataannya, bagaimana peluang perusahaan internet untuk mengeruk keuntungan melalui situs-situs atau penyedia content WAP? Kendro mengakui, perolehan tahunannya untuk saat ini melulu hanya dari produsen ponsel (sebagai sponsor) yang memberikan layanan WAP secara cuma-cuma kepada pembeli ponsel WAP.

Kelak, ia merencanakan beberapa model bisnis yang mungkin dapat dilakukan untuk mengeduk untung, misalnya melalui penarikan biaya langganan dari pemakai, komisi penjualan e-commerce, dan iklan. "Atau melalui pola bagi hasil dengan operator," kata Kendro, "Kami masih menjajaki semua kemungkinan tersebut." Walhasil, masih terlalu dini memang untuk mengevaluasi peluang bisnis dan sukses-tidaknya WAP di Indonesia.

Wicaksono

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus