Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 150 karyawan perhotelan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) massal per bulan ini. Ratusan karyawan itu merupakan para pekerja dari dua hotel di Bogor, Jawa Barat, yang tutup lantaran gagal bertahan dari lesunya perekonomian nasional.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Ketenagarkerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan mengatakan pihaknya belum mendapatkan informasi mengenai PHK massal tersebut. “Mungkin mereka belum laporan juga. Tapi nanti kita akan cek lah ya di Dinas Ketenagakerjaan Bogor atau Provinsi Jawa Barat ya,” kata Noel -sapaan akrab Immanuel- saat ditemui di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa, 1 April 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dia menuturkan hingga saat ini Kemenaker belum mempunyai data lengkap jumlah pegawai yang di PHK di sepanjang 2025.Oleh karena, kata dia, pertama yang akan dilakukan saat ini adalah mengumpulkan data PHK dari seluruh Kementerian untuk diintegrasikan menjadi satu database. “Secepatnya ini akan kita kerjakan ya,” kata dia.
Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan 150 orang terkena PHK imbas tutupnya 2 hotel di Bogor, Jawa Barat. Hariyadi menyebut hotel tersebut merupakan dua di antara sekian banyak hotel yang terdampak dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan melemahnya daya beli masyarakat.
Di lebaran ini saja, kata Hari, tingkat keterisian atau okupansi hotel turun hingga 20 persen dibanding tahun lalu. Bahkan, cuti bersama yang lebih panjang pun tidak memberikan dampak signifikan. “Daya beli yang bermasalah ini membuat reservasi perhotelan tahun ini bergerak lambat,” kata dia. Ia mengungkap banyak masyarakat yang memangkas waktu berliburnya dari 7 hari menjadi 4 hari saja.
Penurunan daya beli masyarakat salah satunya tercermin dari deflasi yang terjadi pada awal 2025. Pada Februari lalu, penurunan harga tercatat sebesar 0,1 persen secara tahunan. Ini merupakan tingkat deflasi terendah sejak Januari 2000 yang saat itu mencapai 1,1 persen.
Mengutip laporan Tempo berjudul ‘Mengapa Ekonomi Lebaran 2025 Lesu’, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Dzulfian Syafrian, mengatakan bahwa salah satu penyebab menurunnya daya beli adalah adanya fenomena penurunan kualitas pekerjaan. Meskipun jumlah pekerjaan terus bertambah, banyak yang bersifat informal dengan pendapatan tidak stabil. “Hal ini membuat pendapatan rumah tangga lebih tidak menentu, teruatama pada momen Lebaran ketika konsumsi biasanya meningkat,” ujarnya, Selasa, 25 Maret 2025.