PT Astra Microtronics Technology (AMT) kini sudah menembus pasar Integrated Circuit (IC), Amerika. Pekan silam, 1.135 ribu unit IC -- IC adalah komponen elektronik terpadu yang merupakan bagian dari software -- senilai US$ 240 ribu dikapalkan anak perusahaan Astra Graphia itu dari Batam. Ekspor perdana ini diluncurkan oleh Ketua Otorita Batam, Menristek J.B. Habibie. Hingga akhir 1992, ekspor tersebut ditargetkan meraih devisa US 33 juta. Sampai kini AMT sudah menerima pesanan dari lima perusahaan di AS dan dua perusahaan di Singapura. Lalu 20 perusahaan dari Eropa, Asia, dan Jepang sedang menjajaki kemampuan AMT merakit IC. Tak mengherankan bila omzetnya ditaksir US$ 126 juta lebih di tahun 1995. Untuk menjaring prospek itu, kantor pemasaran telah dibuka di Lembah Silikon, San Jose (AS), Munich (Jerman), dan Singapura. Agak berbeda dari pabrik IC yang sudah ada di Indonesia (PT Omedata Bandung), AMT adalah perusahaan independen yang tidak terikat merek. Maka setiap IC yang dihasilkannya -- kini baru menghasilkan jenis PDIP dan PLCC -- adalah pesanan dari pemegang merek. "Karena itu, kerahasiaan customer harus kami jaga," kata Presiden Direktur AMT, Inget Sembiring. Pabrik perakitan IC termasuk padat modal dengan investasi awal US$ 25 juta dan akan menjadi US$ 72 juta di tahun 1995. Astra Graphia, seperti kata Inget, terdorong menerjuni industri hulu elektronik ini karena marginnya sekitar 20%. "Dalam 34 tahun, sudah mencapai titik pulang pokok," kata Inget. Dengan mengandalkan kualitas dan biaya yang kompetitif, AMT mampu menghadapi pesaing, misalnya dari Penang, Malaysia. Apalagi tahun depan, Boeing 747 sudah bisa mendarat di Batam.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini