Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Jokowi Ajak Benci Produk Asing, Indef: Pejabat Sering Pamer Tas Branded Impor

Bhima Yudhistira, menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal ajakan untuk membenci produk luar negeri atau asing.

5 Maret 2021 | 13.48 WIB

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato untuk ditayangkan dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu 23 September 2020. Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Lukas
Perbesar
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato untuk ditayangkan dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu 23 September 2020. Dalam pidatonya Presiden Joko Widodo mengajak pemimpin dunia untuk bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/HO/Setpres-Lukas

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal ajakan untuk membenci produk luar negeri atau asing. Bhima menyinggung selama ini masih ada pejabat yang acap memamerkan barang-barang impor.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Ada pejabat yang memamerkan tas branded impor, barang impor secara vulgar. Itu kan artinya pejabat sendiri sebagai brand ambasador barang impor,” ujar Bhima kepada Tempo, Jumat, 5 Maret 2021.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Bhima juga mencontohkan pejabat-pejabat yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, seperti Edhy Prabowo. Dalam pengungkapan alat bukti, KPK menyita barang-barang mewah merek asing yang dibeli Edhy di Hawaii, seperti jam tangan hingga baju.

Presiden Jokowi sebelumnya meminta masyarakat lebih menyuarakan kampanye mencintai produk dalam negeri. Namun, hal itu saja tak cukup. Jokowi menyampaikan agar masyarakat menggaungkan benci barang luar negeri.

“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri, produk-produk Indonesia harus terus digaungkan, produk-produk dalam negeri. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri,” kata Jokowi dalam rakernas Kementerian Perdagangan, Kamis, 4 Maret.

Bhima mengatakan kampanye untuk mencintai produk dalam negeri sebetulnya telah digaungkan sejak era pemerintahan Presiden Soeharto, dilanjutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan diteruskan Jokowi.

“Masalah utamanya antara sosialisasi dengan kebijakan pemerintah sendiri tidak sinkron. Masyarakat sebagai konsumen akhirnya melihat sendiri bagaimana pengadaan barang dan jasa pemerintah produk impornya banyak, apalagi dalam rangka proyek strategis nasional,” ujar Bhima.

Jokowi beberapa waktu lalu mencentuskan slogan Bangga Buatan Indonesia untuk memperkuat pasar produk lokal.

Namun, kampanye ini dinilai selalu gagal. Sebab, gerakan untuk menggunakan barang dalam negeri tidak disertai dengan kebijakan pengendalian impor. Kehadiran platform e-commerce, misalnya, telah menyuburkan barang-barang asing. Menyitir Studi Indef, Bhima membeberkan produk buatan lokal yang saat ini diperdagangkan secara daring atau online porsinya baru sebesar 25,9 persen.

FRANCISCA CHRISTY ROSANA

Francisca Christy Rosana

Lulus dari Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Indonesia pada 2014, ia bergabung dengan Tempo pada 2015. Kini meliput isu politik untuk desk Nasional dan salah satu host siniar Bocor Alus Politik di YouTube Tempodotco. Ia meliput kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke beberapa negara, termasuk Indonesia, pada 2024 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus